Meneguhkan Bismillah Sebagai Benteng Kausalitas Nisbi
Jawaban apa yang pertama kali muncul ketika kita ditanya mengenai apa solusi bagi orang yang merasa lapar? Semua rasanya akan sepakat menjawab : makan. Begitu juga dengan hal lain, semisal sakit-berobat; bodoh-belajar; mengantuk-tidur; dan lain sebagainya. Termasuk hal yang disebabkan banyak hal, atau juga hal yang mengakibatkan banyak hal. Misalnya tadi : makan, tidak hanya membuat tidak lapar (baca: kenyang), tapi juga sehat, kuat dan tumbuh.
Kausalitas (sebab-akibat) yang sudah secara jamak diyakini manusia sebagaimana dituliskan pada paragraf sebelumnya, ternyata seringkali menyimpan permasalahan serius, jika ditelaah dalam persepsi ilmu tauhid. Misalnya kembali, soal makan. Apakah memang benar, yang membuat kita kenyang itu makanan, dan/atau membuat kita lapar itu karena tidak makan?, atau, apakah memang benar, yang menyembuhkan itu obat, atau yang membuat kita sakit demam berdarah itu nyamuk, dan yang membuat dunia sempat lockdown massal itu virus Covid-19?. Pada tataran realitas-nisbi, jawabannya tentu saja benar, sekalipun tidak sepenuhnya (karena ada sebab lain).
Namun, jika kita mau berpikir lebih dalam, kenapa ada makhluk yang tidak pernah makan, tapi juga tidak pernah lapar? misalnya malaikat. Dan, kenapa ada makhluk yang bisa hidup di air, tetapi mati ketika di darat seperti ikan, dan ada juga yang mati jika lama tinggal di air, tetapi bisa hidup di darat seperti kita manusia?. Jawaban yang muncul bisa saja kemudian, karena malaikat memiliki unsur pembentuk berbeda dibandingkan manusia (malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan manusia dari tanah), dan ikan bernafas dengan insang, sedangkan manusia bernafas dengan paru-paru. Jika memang demikian, kenapa bisa ikan memiliki insang, sedangkan manusia memiliki paru-paru, siapa yang mendesain dan menciptakan hal tersebut? Nah, pada titik ini, ilmu tauhid mengambil peran sentral.
Penjelasan dan contoh di atas, saya dapatkan dari salah satu sesi ngaji gus baha, ketika membahas mengenai posisi kalimat bismillah dalam menjaga tauhid, di tengah keyakinan kita mengenai kausalitas. Kita yang terbiasa membaca bismillah sebelum makan, mungkin belum sampai dapat memaknai dan memahami, bahwa membacanya merupakan bentuk ikrar bahwa sekalipun secara nisbi atau yang teramati dan diketahui, makanan itu dapat membuat kita kenyang, pada hakikatnya hanya Allah Yang Maha Kuasa membuat kita merasa lapar, makan dan juga kenyang. Dengan kata lain, Allah lah yang menciptakan dan berkuasa terhadap sebab, proses, serta akibat.
Karena itu, menjadi masuk akal bagi seorang muslim untuk meyakini bahwa suatu akibat bisa saja muncul tanpa sebab yang kita kenal, atau sebab yang sudah dilakukan tidak selalu menghasilkan akibat. Bukan berarti meniadakan fungsi sebab, tetapi menegaskan bahwa sebab itu sifatnya nisbi. Ia berlaku pada realitas yang kita amati, namun tidak memiliki daya apa pun tanpa kehendak Allah Ta’ala.
Makan bisa mengenyangkan, obat bisa menyembuhkan, belajar bisa membuat paham, tetapi semua itu terjadi karena Allah menciptakan pengaruhnya pada saat itu juga. Karena itulah, bisa saja Allah mewujudkan akibat tanpa sebab, atau meniadakan akibat sekalipun sebabnya sudah ada. Inilah keseimbangan tauhid: tetap mengambil sebab, tetapi hati tidak bergantung pada sebab itu, melainkan kepada Allah Yang Maha Mengatur segala sebab dan akibat.
Konsep mengenai pemaknaan bismillah sebagai penjaga tauhid tidak hanya berlaku dalam hal makan, melainkan dalam seluruh aktivitas yang dilakukan selama hidup. Sebut saja misalnya, tidur, ibadah, bekerja, beribadah, melakukan penelitian, dan sebagainya. Semua itu tidaklah terjadi hanya pada dimensi kausalitas makhluk, melainkan termasuk dari takdir atau ketetapan Allah Ta’ala.
Konsep ini bukan berarti mendukung atau mengkampanyekan prinsip meninggalkan sebab, dan mengabaikan akibat. Bukan berarti orang lapar, tidak perlu dan tidak boleh makan. Bukan berarti orang bodoh, tidak perlu dan tidak harus belajar. Bukan berarti tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam menjalani semua aktivitas tersebut, kita senantiasa diliputi kesadaran bahwa sejak mulai proses awal dilakukannya sesuatu, hingga sesuatu tersebut mengakibatkan mewujudnya sesuatu yang lain, itu semua terjadi atas dasar kehendak Allah Ta’ala. Prinsip yang menjadi bagian penting dan krusial dalam ilmu tauhid, agar kita tidak terjebak pada keyakinan palsu atau bahkan sesat, mengenai apa yang terjadi di alam semesta.
Syahdan, bagian dari implementasi iman kepada Allah Ta’ala itu sendiri adalah mengikuti protokol yang Allah tetapkan. Misalnya, Allah memerintahkan kita untuk belajar, agar mendapatkan ilmu; memerintahkan kita beribadah, agar selamat hidup di dunia dan di akhirat; memerintahkan kita bertanya kepada ahli ilmu saat mengalami kesulitan (misalnya datang ke dokter saat sakit,; dan lain sebagainya, semua itu termasuk ikhtiar yang harus tetap dilaksanakan. Dan, jangan sekali-kali menyalahkan Allah atas segala akibat buruk yang terjadi. Karena, ada dua kemungkinan : (1) memang kita tidak melakukan protokol sebab secara baik (misalnya, karena tidak mau belajar, maka sewajarnya kita harus menanggung kebodohan), (2) realitas mewujud di dunia saat ini, yang kita yakini sebagai hal buruk, muncul karena keterbatasan kita dalam mehamai realitas yang hakiki. Misalnya, kita sudah belajar dengan baik, tetapi tetap belum paham, atau sudah bekerja dengan keras, tapi belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Kegagalan yang kita anggap sebagai realitas saat itu, bisa saja merupakan keberhasilan di masa depan, dan/atau dalam Ilmu Allah Ta’ala. Misalnya, bisa jadi kita akan mengalami hal yang lebih buruk jika keberhasilan itu diraih, atau sebaliknya, kita akan mendapatkan kebaikan lebih besar, saat keburukan itu terjadi. Kita akan dapat memahami secara lengkap realitas tersebut, salah satunya setelah kita mengakhiri hidup di dunia, dan memasuki alam akhirat. Pada saat dimana tidak ada satu kesempatan untuk ketidakadilan (baik nisbi, maupun hakiki) terjadi. Dan pada saat, semua manusia akan mengetahui apa “akibat hakiki”, dari sekian “sebab” yang dijalaninya selama hidup di dunia.
Karena itu, dalam menghadapi berbagai peristiwa hidup, kita tidak layak mempertanyakan “mengapa Allah menetapkan begini atau begitu”. Bukan karena akal dilarang digunakan, tetapi karena kehendak Allah berada pada wilayah yang memang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh makhluk. Ulama menjelaskan bahwa memahami takdir beserta rahasianya adalah bagian dari iman, sementara menuntut alasan di balik setiap ketetapan Allah termasuk perkara yang tidak berada dalam kapasitas manusia.
Yang bisa kita lakukan adalah menjalankan sebab yang diperintahkan, menerima hasil yang muncul, dan menyadari bahwa ilmu kita sangat terbatas dibandingkan Ilmu Allah Ta’ala. Apa yang kita anggap buruk saat ini boleh jadi menyimpan kebaikan yang belum terlihat, dan apa yang tampak baik bisa saja mengandung mudarat yang hanya Allah ketahui. Dengan kesadaran seperti ini, hati menjadi lebih tenang menjalani takdir, tanpa kehilangan ikhtiar, dan tanpa menuduh keputusan Allah sebagai sesuatu yang tidak adil.
Kembali pada pokok pembahasan, membaca bismillah yang sering kita anggap sebagai protokol sederhana sebelum beraktivitas, sebenarnya adalah ikrar tauhid yang sangat mendalam. Dengan bismillah, kita meneguhkan keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik sebab, proses, maupun akibat; semata-mata berlangsung atas kehendak Allah Ta’ala. Sebab hanya bekerja sejauh mana Allah mengizinkannya, dan akibat apa pun tidak mungkin terwujud tanpa keputusan-Nya.
Kesadaran ini menjadi benteng penting agar kita tidak terjebak pada keyakinan kausalitas nisbi sebagai sesuatu yang mutlak. Bismillah mengingatkan kita bahwa seluruh ikhtiar adalah perintah, tetapi hasil sepenuhnya berada di bawah kuasa Allah. Dan pada akhirnya, semua ketetapan-Nya berlangsung dengan hikmah, keadilan, dan ilmu yang jauh melampaui pemahaman makhluk.
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ”Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insān: 30)