Dua tahun lebih kami tidak bertemu, akhirnya Tuhan menghendaki. Kamu tidak ayu seperti dulu, kamu layu.
Aku harap aku tidak datang ke acara itu. Ekspektasiku pada pertemuan kami untuk pertama kali setelah bertahun-tahun ternyata terlalu tinggi. Nyatanya niat baik tidak pernah cukup untuk menjamin sebuah hubungan yang sudah lepas. Ya, kepulangan salah satu temanku ke Tanah Air adalah titik balik gejolak nurani yang kami tinggalkan di masa lalu. Rasanya aneh! Tidak seperti kopi dan rokok setelah makan siang. Rasanya seperti ganja dan obat setelah minum alkohol! Pusing; Lemas; Mual.
Hari itu pesta kecil di rumah minimalis yang dihadiri 12 orang — termasuk aku — awalnya terasa hangat, hingga acara utama tiba. Semua berkumpul di ruang makan, sembari memanjatkan kalimat puji-pujian yang bahagia, sembari melepas rindu. Di antara semuanya, hanya ada dua wajah yang tidak terlihat bahagia, kebingungan tapi sama-sama melepas rindu. Ya, wajahku dan wajah anak perempuan itu.
Semua orang menyantap hidangan yang sudah disediakan, anak perempuan itu yang menyiapkan hidangannya. Karena telat, aku menjadi orang terakhir yang mengambil makanan, dan tentunya di depan wajahnya. Lalu, mata kami bertemu, jarak pandang kami hanya terhalang oleh nasi tumpeng yang sudah tidak beraturan. Seketika ruang makan menjadi hening dan mencekam. Untuk beberapa detik semua orang saling bertatapan dan berhenti berbicara.
Aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya selama 30 menit hingga selesai makan! Bahkan semua orang di rumah itu tahu betul semua cerita kami, karena mereka adalah teman dekat. Semuanya – bahkan aku – menunggu kelanjutan cerita lalu yang seru itu. Sayangnya, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari lidahku maupun lidahnya. b
Aku pergi ke depan teras rumah untuk melakukan ritual pencuci mulut setelah makan sembari menenangkan diri. Ya, merokok. Hal yang anak perempuan itu benci. Aku duduk di sana selama berjam-jam sembari bericara tentang masa depan bersama teman teman di masa lalu. Sementata anak perempuan itu — bersama pasangan barunya — dan teman-teman yang lain asyik bercanda dan tertawa di dalam rumah, terdengar kencang hingga ke teras. Ayolah, aku bisa melihat seisi rumah melalui jendela. Melihat betapa bahagianya anak perempuan itu.
Jam sudah menunjuk pada pukul 11 malam. Semua orang bergegas untuk pulang. Di dalam kerumunan perpisahan aku melihat anak itu pulang bersama pasangan barunya. Tidak ada ucapan perpisahan darinya, sama seperti saat aku datang. Hari itu aku sadar, betapa mengerikannya dunia ini. Mengubah anak perempuan lugu, yang polos, yang senang berdiam diri di rumah, menjadi anak yang senang bepergian hingga larut malam bersama pasangannya. Mungkin anak perempuan itu sadar akan rasa ngeri yang diciptakan oleh dunia. Aku pulang bersama rasa bahagia yang ternoda oleh amarah dan tentunya kecewa.
Hingga beberapa hari kemudian, pukul 7 pagi, kakaknya tiba-tiba menghubungiku.
“Hai, apa kabar?” katanya.
“Baik, ada apa?” tuturku.
“Tidak apa-apa. Ciee, kemarin ketemu galih, hahaha!”
“Memangnya kenapa? Kalau kamu menghubungiku hanya untuk mencemooh, lebih baik akhiri sekarang.” jawabku dengan nada tinggi.
“Tidak, kemarin anak itu cerita.”
“Dengar dulu. Aku tahu kalian tidak saling menyapa dan aku mengerti alasannya. Aku orang yang tidak ingin kamu menghubunginya lagi untuk menyelamatkan dirimu, serta aku pula yang ingin kamu dan anak itu bertemu secara langsung. Ternyata tidak berjalan dengan baik.”
“Lalu apa intinya? Aku tidak butuh ceramah dan penjelasan berbelit.”
“Kemarin anak itu pulang ke rumah jam 1 pagi, ibunya marah besar.”
“Lalu apa urusannya denganku?”
“Dia menjual namamu agar ibunya percaya dan berhenti memarahinya, walaupun aku tahu dia pulang bersama pasangan barunya. Aku hanya ingin memohon maaf atas tindakannya.”
Aku terdiam diri untuk beberapa detik. Lidah terasa kaku karena menahan amarah agar tidak pecah.
“Halo, halo? Apa kamu baik-baik saja?” lanjut kakaknya.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih untuk informasinya.”
Segera setelah itu aku mengakhiri obrolan singkat kami di pagi hari.
Pada akhirnya, walaupun kami tidak bertegur sapa, aku menyelamatkan anak perempuan itu, satu kali lagi. Dan aku tahu perlakuannya adalah kebohongan. Rasanya tenang dan sakit luar biasa disaat yang bersamaan. Menekan diri dari kedua sisi, membinasakan sisa-sisa toleransi dan ketamakan, mengubah kesempatan menjadi ancaman hingga napas jadi tidak beraturan. Ingatlah, nama milikku bukan barang atau jasa yang bisa dibeli lalu dijual dengan mudahnya, terlebih untuk urusan rasa percaya.
“Aku ini binatang jalang! Bila mengutip kalimat dari salah satu puisi milik Chairil Anwar. Aku yang membuat harga diriku menjadi sangat mahal. Jangan pernah kamu mencoba untuk menjualnya untuk kepentingan dirimu sendiri. Bila kamu melakukannya, artinya kamu tidak lebih dari kembang yang layu, wangi busuknya menusuk seisi taman.”
Sekali lagi, aku tidak mengenali anak perempuan itu.
Dia tidak ayu,
Dia layu.