Kutu Buku Bukan Jaminan Mutu: Evaluasi Tentang Literasi
Buku adalah sebaik-baik teman. Teman bermimpi, teman berefleksi, teman merencanakan aksi, teman merancang strategi, teman menyendiri, dan bagi sebagian orang adalah teman ngopi.
Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah rezeki bisa membeli buku-buku, nikmatnya kencan dengan buku-buku (terutama di rumah), dan memiliki mentor self-development yang juga kutu buku sekaligus founder âGemar Baca Kelilingâ yang project-nya dilakukan dari Sabang sampai Merauke (tapi sayangnya project itu gak berlangsung lama, hanya masih sampai Sabang, karena beliau menikah). Dulu saat awal-awal saya mengenal mentor saya, rasanya excited tiap bertemu dengannya, karena setidaknya akan ada bahasan tentang buku atau mendiskusikan isi buku.
Sebenarnya banyak masyarakat kita yang suka membaca, bahkan mengoleksi buku. Tapi mengapa banyak masyarakat kita yang belum cerdas? Lalu, bagaimana dengan skill dan kualitas literasi mereka?
Ada sedikit pergeseran makna literasi. Kalo dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, sekarang literasi memiliki beragam definisi. Literasi berkaitan dengan kompetensi berpikir, mengolah informasi, dan memahami informasi. Menurut Education Development Center (EDC), literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya dan mencakup kemampuan membaca dunia.
Literasi merupakan cara untuk mendidik dan memberdayakan diri, dan merupakan pondasi/modal seseorang untuk bisa berkomunikasi, berkehidupan sosial, berinteraksi dengan dunia, dan berkontribusi pada masyarakat. Allah pun telah mengajarkan pada kita untuk membaca dan menulis sebagai perangkat dasar untuk berkomunikasi. Iqraâ, secara umum diartikan sebagai perintah untuk membaca. Tapi kata iqraâ yang berasal dari kata qaraâa ini memiliki arti yang bermacam-macam, diantaranya adalah membaca, menganalisa, mendalami, merenungkan, menyampaikan, meneliti, menelaah, dan lain sebagainya.
Lalu iqraâ seperti apa yang seharusnya kita miliki? Saya lebih condong pada penjelasan Mortimer J. Adler dalam bukunya âHow To Read A Book: The Classic Guide To Intelligent Readingâ. Kenapa? Sebab Adler menyajikan cara praktis dalam membaca di level yang lebih tinggi. Artinya, pembaca buku sudah selesai/tuntas dalam masalah âminat bacaâ dan saatnya move on ke level yang lebih tinggi dari itu. Mari kita baca yang saya screenshot di bawah ini.
Jadi membaca itu ada 2, yakni membaca aktif dan membaca pasif. Maka dari itu, kutu buku bukan jaminan mutu. Hobi membaca buku bukanlah penentu ukuran kecerdasan seseorang. Sebab yang diperlukan adalah membaca aktif, bukan aktif membaca. Kalo âaktif membacaâ, maka level kita masih setara dengan âminat bacaâ.
Membaca aktif masuk dalam skill produktif, yang mana output-nya adalah writing dan speaking. Sedangkan membaca pasif masuk dalam skill reseptif, yang mana hanya sekedar menerima input, yakni listening dan reading. Kita gak bisa terus-terusan menjadi pasif kan? Kapan naik levelnya? Apalagi menelan bulat-bulat apa yang kita baca.
Adler juga menjelaskan bahwa ada 4 level membaca, yakni elementary, inspectional, analytical, dan syntopical. Keempat proses ini harus runtut, gak boleh melompat atau hilang salah satunya. Saya gak akan menjabarkan masing-masing level ini, karena postingan ini akan menjadi sangat panjang nantinya, wqwq. Tapi saya ingin menekankan bahwa level analytical reading harus dibiasakan, sebab inilah basic intellectual reading. Ada 3 teknik analytical reading, yakni skimming, interpreting, dan criticising. Dan saya juga gak akan menjabarkan masing-masing teknik ini, sebab terlalu panjang.
Setelah kita mengetahui sekilas tentang membaca aktif (active reading), saatnya kita melakukan evaluasi, sejauh mana skill literasi kita. Saya mencoba membuat pertanyaan-pertanyaan evaluasi di bawah ini berdasarkan âinsightâ yang saya dapatkan dari hasil membaca 3 jilid buku âSemua Murid Semua Guruâ karya mbak Najelaa Shihab (salah satu psikolog favorit saya dan merupakan inspirasi saya di dunia pendidikan), insight dari bukunya Adler, dan pendapat saya pribadi.
1. Apakah buku-buku bacaan kita sudah cukup beragam?
2. Apakah buku-buku bacaan kita sudah benar-benar berkualitas?
3. Apakah kita mencari tahu atau menggali profil penulis sebelum membaca?
4. Apakah kita berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca?
5. Seberapa sering kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang buku yang akan kita baca?
6. Apakah tujuan kita membaca? Untuk hiburan, mengkonsumsi motivasi semata, menambah pengetahuan/wawasan/informasi, memahami (belajar), membandingkan, menggali data, menelaah, atau untuk mengkritisi sebuah karya/bacaan?
7. Bagaimana kita dapat menggunakan kemampuan berpikir kita secara maksimal dalam aktivitas membaca?
8. Apa yang kita lakukan setelah membaca? Apakah memvalidasi, mengkoneksikan setiap kata, mengaitkan antar kalimat, menginterpretasi makna, menarik kesimpulan, memperdebatkan gagasan, menganalisis argumen penulis, membandingkan latar belakang penulisan, mengaitkan dengan pengalaman, dsb?
9. Berapa banyak orang/teman yang bisa kita ajak berdiskusi atau brainstorming tentang isi buku yang kita baca?
10. Seberapa sering dan seberapa cakap kita menulis?
11. Apakah setelah membaca kita mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan?
12. Apakah dengan banyaknya buku yang kita baca sudah membuat kita memiliki kemampuan penalaran dan pemecahan masalah di berbagai bidang? Atau setidaknya beberapa bidang?
Pertanyaan-pertanyaan di atas juga merupakan renungan dan evaluasi bagi saya pribadi. Sebab bergerak melakukan perubahan dan naik level itu tidak mudah. Ada variabel dan sisi ekologis yang menjadi pertimbangan.
Skill literasi yang terasah akan menghasilkan âjejak digitalâ yang bermanfaat, aman, pantas, dan merefleksikan identitas diri kita yang sesungguhnya. (ybkb.or.id)
Lalu, buku-buku seperti apakah yang dapat mengasah dan meningkatkan skill literasi kita? Apakah penting membaca beragam buku? Dalam chapter terakhirnya, Adler mengatakan:
... you should seek out the few books that can have this value for you. They are the books that will teach you the most, both about reading and about life. They are the books to which you will want to return over and over. They are the books that will help you to grow.
Sebagai seorang bookworm yang gak enjoy dengan bacaan fiksi dan karya sastra, maka saya sependapat dengan Adler. Banyak hal yang harus kita ketahui, tapi gak semua hal harus kita ketahui. Gak semua ilmu harus kita pelajari. Gak semua buku bagus dan berbobot harus kita baca. Menurut saya pribadi, cukuplah membaca buku-buku berkualitas yang:
mengajak kita untuk berpikir secara kritis,
menyalakan akal dan membangun nalar kita,
menyajikan beragam tinjauan dan perspektif sehingga memperluas cakrawala berpikir kita,
membuat kita semakin dekat dengan Allah,
menuntun kita dalam kebajikan,
membuat kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil,
membantu kita untuk bertumbuh dan berkembang sebagai individu,
membekali kita untuk menghadapi fase-fase kehidupan.
Bagi yang gak sependapat dengan saya dan Adler, sebelum kita tenggelam dalam lautan berbagai genre buku, ada baiknya kita memprioritaskan bertafaqquh fiddin dan memperbanyak bacaan Islami, khususnya khazanah teologi Islam. Atau setidaknya berjalan seimbang dan beriringan dengan genre buku yang lain, agar ketika kita membaca berbagai ragam buku, kita punya filter dan gak keblinger.
Jember, 27 November 2021


















