Semoga Allah memudahkan lisan saya.
Ehm, ini catatan untuk kajian umum hari ini. Hasil inspirasi dari ucapan seorang Ibunda salah satu ulama besar, "Jika ilmu yang kaudapatkan tidam menambah rasa takutmu kepada Allah, maka ilmu itu sia-sia. Setiap ilmu yang kaudapatkan harus menambah rasa takutmu kepada Allah."
Rasa takut itu benama takwa. Rasa takut kepada Allah mengangkat manusia kepada derajat paling tinggi, seperti dalam penggalan firman-Nya:
َ ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"... Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
Derajat paling tinggi ini bukan berbentuk kedudukan dunia, kekayaan, atau bahkan gelar yang memuliakan tetapi rasa takut kepada Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak Allah ridai, dengan begitu ia akan berjalan di muka bumi ini dengan petunjuk yang Allah berikan hingga ia menjadi mulia karena ketundukannya. Kemuliaan ini tidak hanya ia dapatkan di dunia tetapi juga di akhirat. Hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
Namun, berilmu ini bukan jalan pertama, jalan pertama yang harus kita tempuh adalah jalan beriman. Mengapa harus iman? Karena kita hendak menjadikan Allah sebagai sumber motivasi kita berjuang dan bertahan, terus bersabar hingga sabar itu seluas semesta. Ilmu ditempatkan beriringan dengan iman. Semakin banyak ilmu kita, semakin kuat pula iman kita.
Mungkin saja di antara kita memiliki iman yang rapuh, angin sepoi berembus saja mampu menjatuhkan kita, atau bukan mungkin saja tapi kita memang begitu, ujian yang menimpa kita mudah membuat kuta jatuh terpuruk dan akhirnya rasa iman ini mati perlahan.
Beriman yang benar ini menimbulkan keyakinan yang muncul ungkapan, "Oh iya betul. Maha Besar Allah yang tidak pernah sia-sia menciptakan segala sesuatu."
Beriman dengan cara yang benar ini memunculkan rasa cinta kepada Allah, melelehkan hati kita dengan segala apa yang Allah ciptakan dan Allah atur. Menumbuhkan ketundukan dan terus ingin mendekat kepada-Nya.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 190)
Kita langsung berpikir tentang bagaimana malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Kita mencari tahu bagaimana pergantian siang dan malam.
Bagaimana Bumi diciptakan, dan apa saja yang ada di Bumi itu hingga dengan mengetahui segala ilmu Bumi ini, kita mampu memastikan bahwa Bumi tidak hanya sekadar diciptakan tetapi juga diatur.
Artinya, fenomena alam apa pun yang terjadi di Bumi mampu mengantarkan kita kepada Allah, membuat diri kita sadar bahwa Allah lah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta.
Begitu pula ketika kita berbicara diri kita, tidak ada satu pun yang luput dari pengaturan Allah. Sungguh Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya, Allah senantiasa merawat dan menjaga hamba-Nya.
Fenomena apa pun yang terjadi di bumi ini menumbuhkan iman yang kuat. Iman ini berasal dari yakinnya diri kita terhadap keberadaannya ketika kita mencari tahu tentang segala ciptaan-Nya.
Motivasi Berilmu karena Iman
"Ilmu itu harus menambah rasa takutmu kepada Allah."
Ilmu apa pun itu haruslah menambah ketakwaan kita. Ilmu adalah jalan agar kita tetap beriman dan terus bersabar.
Rasulullah bersabda, "Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya akan memudahkan baginya jalan ke surga." (HR. Tirmidzi)
Jaminan mudahnya jalan ke surga bagi para pencari ilmu. Allah memudahkan hidupnya di dunia, begitu pula hidupnya di akhirat hingga ia mendapat surga.
Letakkan Ilmu Agama sebagai Pondasimu
Mengapa harus ilmu agama? Karena ilmu inilah yang akan mengantarkan kita ke surga. Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama." (HR. Bukhari)
Maknanya, bahwa orang yang mendalami agama akan Allah berikan kebaikan, dan jika tidak mendalami agama maka tidak akan Allah beri kebaikan.
Bahkan para ulama terdahulu terus mencari ilmu meskipun mereka dikatakan sudah faqih, mereka terus merasa kurang dan rasa takutnya menghadapi hari setelah kematian mendorongnya terus mengutamakan mencari ilmu. Mencari ilmu agama ini harus dijadikan pusaran hidup kita, dan jangan mencukupkan dengan ilmu yang sedikit.
Ilmu Dunia untuk Meraih Akhirat
ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَا لَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 9)
Orang yang tidak berpengetahuan adalah orang yang tidak berilmu, kedudukannya tidak sama dengan kedudukan orang berilmu, dan ia berilmu haruslah berakal sehat tidak berakal sakit. Akal yang sakit tidak ingin menerima kebenaran bahkan kebenaran bahwa Allah yang menciptakan bumi dan alam semesta.
Orang yang menjadikan imannya sebagai motivasi berilmu akan terus mencari jalan kebenaran di setiap pengetahuan yang ia dapatkan, dengan ilmu itu ia merajut keimanan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, menjadikan ilmu apa pun yang ia dapatkan bermanfaat bagi akhiratnya. Maksudnya, ilmu tersebut sesuai kehendak Allah, semakin banyak ilmu semakin menambah takwa, semakin ia paham bahwa ilmu yang ia miliki harus bermanfaat bagi orang sekitarnya. Meringankan beban mereka, menambah bahagia, bahkan membantu orang lain menuju surga Allah.
Kita bisa belajar disiplin ilmu apa pun selama ilmu tersebut menambah pahala kita di sisi Allah.
Kesimpulannya, berilmulah dengan iman yang benar agar kamu menjadi manusia dengan derajat paling tinggi yaitu manusia bertakwa.