Kalo baca media sosial, sering nemu komentar "akademisi harus membumi biar masyarakat lebih cerdas", "akademisi harus bisa menjelaskan satu konsep dengan bahasa yang mudah biar semua orang paham.
Ada yang perlu kita pahami tentang bagaimana kita mengakses knowledge dan mendapatkan knowledge tersebut. Kadang suatu hal tidak dapat kita pahami bukan karena istilahnya susah tapi karena kita nggak punya imajinasi tentang konsep di balik istilah tersebut.
Intinya mah tidak semua pengetahuan bisa dijelaskan lewat kata. Beberapa jenis pengetahuan justeru baru terbentuk setelah: paparan berulang, pengalaman, konteks sosial, kegagalan, observasi jangka panjang.
Lantas apa aja sih jenis pengetahuan itu?
Procedural knowledge (knowing how)
Procedural knowledge adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan ini practical dan dihasilkan oleh pengalaman berulang dalam melakukan sesuatu. Contoh: ngoding, debugging, balancing game, wawancara pasien dan menentukan diagnosa (bagi dokter), memimpin rapat, memasak, memainkan musik dan sebagainya.
Semua orang mungkin bisa memahami alur debugging hanya dengan membaca definisi dan penjelasan debugging lewat AI. Tapi real skill terbentuk dari akumulasi procedural knowledge setelah melakukan suatu kerjaan berulang-ulang.
Procedural knowledge itu bukan sekadar tahu langkah-langkah tapi kemampuan melakukan adaptasi secara realtime saat realita tidak sesuai teori.
Misalnya pada kasus debugging. Semua orang mungkin bisa membaca:
langkah troubleshooting dari AI atau tutorial.
Tapi real debugging skill muncul ketika seseorang:
sudah melihat banyak jenis error,
pernah salah asumsi berkali-kali,
mengenali smell tertentu,
dan bisa mempersempit kemungkinan secara intuitif.
Kadang senior engineer bahkan bisa berkata:
"Kayaknya ini masalah object pool" atau "kayaknya ini masalah lifecycle data". Padahal belum membuka kode sama sekali.
Karena otaknya sudah merekam banyak kesalahan sampai tahu polanya. Makanya procedural knowledge sering terasa seperti reflek. Padahal itu hasil dari pengulangan banyak keberhasilan dan kegagalan yang sangat panjang.
Dan ini juga kenapa AI punya keterbatasan. AI bisa menjelaskan langkah, membantu struktur, memberi checklist, membantu reasoning. Tapi untuk membentuk procedural knowledge yang kuat tetep perlu doing, observing, failing, correcting, embodied repetition.
Karena dunia nyata selalu menghasilkan buanyak jenis kegagalan. Entah karena kasus ekstrim, kondisi yang belum sepenuhnya kita pahami, salah timing dan banyak lagi. Dan procedural knowledge berkembang justru saat seseorang terus bersentuhan dengan hal-hal menyebalkan yang membuat kita gagal.
2. Tacit knowledge (knowing without fully being able to articulate)
Ini bentuk knowledge yang kita tahu tapi sulit dijelaskan secara eksplisit. Orang menyebutnya intuisi.
“we know more than we can tell.” — Michael Polanyi
feeling bahwa architecture code mulai busuk,
feeling pacing narasi terlalu panjang,
intuisi senior clinician,
intuisi game designer tentang “game feel”.
Tacit knowledge sering muncul setelah exposure panjang. Mirip procedural knowledge tapi Tacit knowledge itu sisi ghaibnya. Ini kayak game designer senior yang bilang:
"Combatnya nggak enak dirasain"
"Tapi ini udah sesuai semua parameternya. Apa yang harus di-adjust?"
"Coba kamu main beberapa game yang combatnya enak dan ga enak deh. Nanti kamu bisa ngerasain sendiri wkwk"
Bukan gatekeeping. Kadang memang sulit dipaketkan jadi aturan eksplisit. Tacit knowledge ini akan pelan-pelan bisa berubah jadi pengetahuan yang mudah dijelaskan. Caranya? dengan membaca. Jadi kita punya vocabulary tentang apa yang kita alami dan rasakan. Itulah kenapa orang perlu baca buku, mengobservasi pengalaman, dan mungkin suatu saat memberi nama pada pola pengalamannya.
3. Embodied Knowledge (knowledge stored through bodily experience)
Embodied knowledge adalah pengetahuan yang dipahami melalui tubuh dan pengalama sensori.
atlet memahami ritme tubuh,
animator memahami weight,
UI/UX designer memahami cognitive fatigue,
orang yang pernah miskin memahami survival tension secara visceral.
Embodied knowledge sering tidak bisa dipahami penuh lewat teori saja. Misalnya:
membaca tentang panic attack ≠ pernah mengalami tubuh panic,
membaca tentang crunch game dev ≠ mengalami burnout produksi.
Tubuh menyimpan pattern. Makanya saat menghadapi suatu masalah, beberapa orang bisa lebih tenang, lebih sensitif atau mungkin lebih cepat membaca resiko. Karena tubuh mereka pernah mengalami pola tertentu berulang kali. Ada banyak embodied knowledge kita hasilkan dari pengalaman trauma atau rasa sakit yang diproses dengan baik. Embodied knowledge ini juga biasanya membantu kita lebih berempati ke orang lain. Karena empati itu bukan cuma dibentuk dari pemahaman konsep tentang penderitaan tapi juga emosi yang pernah dirasakan tubuh atas pengalaman yang mirip.
4. Pengetahuan kontekstual (knowledge tied to environment and situation)
Ini juga jenis pengetahuan yang kita dapat dari exposure berulang terhadap suatu masalah. Sehingga kita bisa memahami bahwa tidak ada solusi yang fit untuk semua problem. Solusi dan masalah itu punya konteks. Dan pengetahuan kontekstual membantu kita menganalisa itu dengan baik:
strategi bisnis yang berhasil di US belum tentu berhasil di Indonesia,
UX untuk hardcore gamer ≠ casual player,
kebijakan ekonomi negara maju ≠ negara berkembang,
leadership startup kecil ≠ korporasi besar.
Makanya orang yang sudah expert di suatu bidang malah sering bilang:
Karena contextual knowledge melawan oversimplification. Contextual knowledge juga membantu kita lolos dari jebakan Dunning-Krueger Effect.
5. Experiential Knowledge (knowledge from lived experience)
Ini knowledge yang muncul setelah kita melakukan observasi dan refleksi terhadap suatu pengalaman. Experiential knowledge sering menghasilkan perubahan perspektif.
sebelum memimpin tim: “tinggal bikin aturan.”
setelah memimpin tim: “manusia tidak bergerak seperti flowchart. Aturan tidak bisa dijalankan bukan karena tim nggak patuh tapi bisa aja karena aturan menambah beban mereka
Semua jenis pengetahuan ini tidak bisa kita peroleh dari interaksi dengan konten ataupun AI. Karena konten dan AI biasanya dominan: declarative knowledge, summary, abstraction, explanation. Ada banyak pemahaman mendalam muncul dari pengulangan, kegagalan, embodied exposure, obstacle dan jam terbang.
Orang yang benar-benar matang di bidang tertentu sering terlihat lebih humble, lebih lambat bicara, lebih hati-hati, lebih observasional. Karena mereka bukan cuma punya informasi tapi juga wisdom setelah banyak berurusan dengan dunia nyata. Ini yang kadang bikin influencer terasa lebih loud. Di sisi lain, lemahnya pemahaman kita terhadap suatu bidang juga kadang membuat kita asing terhadap suatu istilah. Sehingga para ahli yang bicara menggunakan istilah di bidang mereka, kita selalu anggap elitis.
Kita perlu belajar untuk lebih humble dan tidak terlalu bergantung pada media sosial dan AI. Hiduplah di dunia nyata dan rasakan pengalaman-pengalaman kamu sehingga kamu juga bisa mengambil pembelajaran. Baca buku karena buku yang disusun dengan baik biasanya dihasilkan dari pengalaman dan embodied knowledge penulisnya. Gunakan AI hanya untuk brainstorming. Gunakan media sosial untuk raising awareness aja. Sisanyaaaa baca buku dan get a life.