Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ternyata tema utama dari Surah Al-Kafirun adalah komitmen dan konsistensi dalam memegang ajaran agama, serta penegasan bahwa tidak ada kompromi dalam urusan aqidah: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”
📌 Kalau kita tarik ke analogi masa kini, bisa dilihat dari situasi sehari-hari:
• Di sekolah/kampus
Ada murid yang shalat dhuha setiap pagi. Temannya bilang: “Udah lah, nggak usah shalat, mending ikut main game aja.”
→ Konsistensi di sini adalah tetap shalat meski mayoritas tidak melakukannya.
• Di dunia kerja
Ada pegawai yang selalu menjaga kejujuran (misalnya menolak korupsi kecil-kecilan). Orang lain bilang: “Udah biasa kok, semua orang juga gini.”
→ Analogi: tetap teguh dengan prinsip halal meskipun lingkungan menekan.
• Dalam gaya hidup
Misalnya, orang lain heboh dengan tren berpakaian yang tidak sesuai syariat. Kita memilih tetap berpakaian sesuai ajaran Islam.
→ Analogi: “Bagimu gayamu, bagiku syariatku.”
• Media sosial
Ketika banyak orang suka konten ghibah atau prank, seorang Muslim tetap memilih konten yang bermanfaat dan mendidik.
→ Konsistensi dalam nilai Islam meski berbeda dengan tren zaman.
✨ Jadi intinya, analogi modern dari Surah Al-Kafirun adalah tidak ikut arus, tetap teguh menjalankan prinsip Islam meski ada tekanan sosial, tren, atau mayoritas orang memilih jalan lain
Diantara indahnya Islam yaitu Allah ﷻ turunkan agama yang sempurna, "al-yawma akmaltu lakum dinakum" yang tidak akan kita temukan dalam agama lain. Sampai perkara tentang pertemanan pun diatur dalam Islam.
Diantara luasnya Rahmat Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak menjadikan ladang pahala hanya pada perkara-perkara yang sulit melainkan terdapat pula ladang pahala pada perkara yang mudah semisal berteman.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ , Beliau ﷺ bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)
Saling mencintai karena Allah ﷻ adalah merupakan ibadah yang agung. Pertemanan Abadi adalah pertemanan yang berlangsung di dunia kemudian berlanjut di akhirat.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67)
Pertemanan mendatangkan kebahagiaan di dunia apalagi pertemanan diatas agama Allah ﷻ, betapa kebahagian itu disegerakan oleh Allah ﷻ ketika kita merasakan bahagia walau hanya bertemu dan berkumpul bersama teman yang shalih.
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” (Hasan Al- Bashri dalam Ma’alimut Tanzil, 4/268).
Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya (no/183) dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:
“Ketika orang-orang mukmin selamat dari neraka, Demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya, ada seorang di antara kalian yang paling semangat menuntut kepada Allah mendatangkan kebenaran dari kalangan orang mukmin yang masih di neraka. Mereka mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan haji bersama kami. Dikatakan kepada mereka, ‘Keluarkan orang yang anda kenal. Maka diharamkan gambar mereka dari neraka. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan dari neraka yang telah dilalap (api) neraka sampai setengah kali dan sampai ke kedua lututnya. Kemudian mereka mengatakan: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan kepada kami. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat setengah dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat Dzarroh (atom) dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang berbuat kebaikan.” Dan Abu Said Al-Khudri mengatakan, ‘Kalau sekiranya kamu semua tidak mempercayaiku dengan hadits ini, maka kalau mau bacalah ayat ‘Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." (QS. An-Nisaa: 40)
"Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mencintai karena Aku. berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling menasehati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mengunjungi karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu." (HR. Ibnu Hibban)
Umar ibn al-Khatthab berkata,
إن من عباد الله لأناسا ماهم بأنبياء ولاشهداء يغبطهم الأنبياء والشهداء يوم القيامة بمكانتهم من الله عز وجل
“Sungguh dari sebagian hamba-hambaku terdapat manusia, yang mana mereka bukanlah para Nabi dan tidak para syuhada’, namun membuat iri (cemburu) para Nabi dan para syuhada’, sebab mereka ditempatkan sebagaimana para Nabi dan Syuhada’ ditempatkan oleh Allah azza wa jalla”.
Mendengar itu, seseorang bertanya kepada Umar:
من هم وما أعمالهم؟ لعلنا نحبهم
“Siapakah Mereka, dan apa amal-amal yang mereka perbuat? Agar supaya kami juga ikut mencintainnya”.
قال: قوم يتحابون بروح الله عز وجل من غير أرحام بينهم ولا أموال يتعاطونها بينهم والله إن وجوههم لنور وإنهم لعلى منابر من نور لايخافون إذا حاف الناس ولايحزنون إذاحزن الناس
“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah azza wa jalla tanpa ada hubungan saudara, dan tidak harta yang saling mereka berikan satu sama lain. Demi Allah, sunggu pada wajah mereka terdapat cahaya, pun mereka di atas berada dalam gudang-gudang dari cahaya. Mereka tidak takut sama sekali, di saaat manusia lain ketakutan, dan mereka tidak bersedih hati, di saat manusia lain bersedih”. (HR. Abu Daud)
Rasulullah ﷺ bersabda,
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «قَالَ اللهُ -عَزَّ وجَلَّ-: المُتَحَابُّون فِي جَلاَلِي، لَهُم مَنَابِرُ مِن نُورٍ يَغْبِطُهُم النَبِيُّونَ والشُهَدَاء». [صحيح] - [رواه الترمذي وأحمد]المزيــد ...
Dari Mu'adz bin Jabal -radiyallahu 'anhu-, dari ﷺ, bahwasanya beliau bersabda, "Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan- Ku, mereka memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang yang syahid." (Hadist Shahih Diriwayatkan oleh Tirmidzi - Diriwayatkan oleh Ahmad)
Kita berteman dengan orang kafir dengan siapapun boleh jika ada hajat berdagang, berbisnis tapi jika kita ingin berteman dan sekaligus mendapatkan pahala maka bertemanlah secara khusus, bertemanlah dengan orang-orang shalih, bertemanlah dengan orang-orang yang bertakwa.
Rasulullah ﷺ menyuruh kita agar selektif dalam memilih teman,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ:
[حسن] - [رواه أبو داود والترمذي وأحمد] - [سنن أبي داود: 4833]
Abu Hurairah -radiyallahu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat." (Hasan) - HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad - Sunan Abu Daud - 4833)
Aturan-aturan agar pertemanan berlangsung abadi bukan hanya di dunia tapi berlanjut hingga di akhirat, yaitu:
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (Al-Bukhari No.16)
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, mencegah hilangnya pekerjaan dan harta saudaranya, serta menjaga segala urusan saudaranya ketika tidak berada di tempat.” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani).
Sebelum kita menasehati orang lain, jadilah orang yang hatinya lapang untuk dinasehati. Sebagai konsekuensi kita sebagai seorang sahabat mukmin adalah siap menasehati teman ketika dia melakukan kesalahan.
Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77).
3. Menjaga amanah.
Semakin kita dekat dengan seseorang maka semakin kita tahu aibnya. Maka jagalah aib mereka, jagalah rahasia mereka. Berikut anjuran untuk menjaga rahasia orang lain,
الترغيب والترهيب - (ج 3 / ص 62)
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِذَا حَدَّثَ رَجُلٌ رَجُلًا بِحَدِيْثٍ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهُوَ أَمَانَةٌ. (رواه أبو داود والترمذي، وقال: حديث حسن)
“Dan diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhum, sungguh Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika seseorang berbicara terhadap orang lain dengan suatu pembicaraan, kemudian ia berpaling (darinya), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan).
“Kau menghendaki seorang sahabat yang tidak ada kekurangannya… Apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap..??
Terkadang Allah menunjukkan kekurangan seorang teman karena Allah ingin kita hanya bersandar kepada-Nya.
5. Pertemanan tidak mengharuskan untuk sering bertemu kecuali ada maslahat.
Nabi ﷺ bersabda:
زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا
“Kunjungilah jangan keseringan maka akan menambah kecintaanmu.” (HR. At-Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Karena kita butuh privacy untuk meluangkan waktu untuk suami/istri, anak, kerabat, dan untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Justru jika sering bertemu memudarkan rasa cinta dan rindu, berbeda jika tidak keseringan bertemu.
6. Pertemanan tidak mengharuskan engkau mengetahui semua rahasia teman.
7. Berteman perlu pengorbanan.
Terkadang sebagai teman kita perlu berkorban waktu, juga berkorban harta.
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).
🖋️ @flevr___ | بنت علي
🔖Tema:Pertemanan AbadiBersama :Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.📖 Pertemanan Abadi📅 Selasa, 28 Januari 2025⏰ Ba'da Dzuhur - Selesai🕌 Masjid AM
And whatever thing you [people] have been given - it is [only for] the enjoyment of worldly life and its adornment. And what is with Allāh is better and more lasting; so will you not use reason?
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
The consensus of Ahl al-Sunnah wa ʿl-Jamāʿah is that He has always been with His Attributes and Names.
والذي عليه جماعة أهل السنة والجماعة أنه لم يزل بصفاته وأسمائه،
His eternality has no beginning,
ليس لأوليته ابتداء،
and His finality has no end.
ولا لآخريته انقضاء،
He made istawá on al-ʿArsh (ie: the Throne).
وهو على العرش استوى.
Muḥammad b. Ādam al-Ithīobī, Mashāriq al-Anwār al-Wahhājah 4/335
محمد بن آدم الأثيوبي، مشارق الأنوار الوهاجة ٤/٣٣٥
https://shamela.ws/book/17132/1985
@ilmtest [https://t.me/ilmtest]
"El Rostro (Al-Wajh) del Señor no se parece al rostro de Sus creaciones mortales. Sin embargo, Él no carece de rostro en absoluto. Allāh mismo nos ha dicho en Su firme revelación, Al-Qur'an, que Él tiene un rostro al que atribuyó gloria, honor, seguridad frente a la destrucción".
De Yūsuf Ibn Mūsā narró Jarīr a Al-Alā (Ibn Al-Musayyib) a 'Amr Ibn Murrah a Abu Ubaydah (Ibn Abdullah) a Abū Mūsā:
El Profeta صلى الله عليه وسلم dijo :
Allāh no duerme, y no conviene que duerma. Él baja la Balanza y la sube. La acción realizada durante el día es llevada ante Él antes que la acción realizada durante la noche, y la acción realizada durante la noche antes que la acción realizada durante el día. Su Velo es Fuego, y si lo quitara, la gloria de Su Rostro quemaría todo lo creado, hasta donde alcanza Su mirada. Él extiende Su mano por la noche para que aquellos que han hecho el mal durante el día puedan arrepentirse y extiende Su mano durante el día para que aquellos que han hecho el mal durante la noche puedan arrepentirse, hasta [el momento en que] el sol salga por el oeste."
[Kitāb at-Tawhid de Al-Imām Ibn Khuzaymah, Página 45 y 46. | Traducción Bint Bellahouel. source: t.me/perlasdelossalaf.]