SuratAndin #1: Jatuh Hati Jangka Panjang
Untuk seseorang yang malam ini secara tiba-tiba, hadir lagi.
Pertama-tama, aku sedikit kesal karena kau masih saja tidur larut. Iya, sedikit kesal. Karena ada kesal yang lebih besar. Mungkin jika kau punya otak sehat dan perasaan yang tidak buram, kau akan langsung mencerna kenapa aku sekesal ini.
Kenapa kau temukan aku lagi? Aku sudah jauh-jauh hilang dan telah putus asa untuk dicari. Dan ternyata, kau datang saat hati ini sedang kurawat. Hati yang kau patahkan. Hati yang kujatuhkan lalu kau patahkan, lebih tepatnya.
Mungkin kau tertawa saat mendengar aku mengatakan kesal. Dan mungkin kau bertanya-tanya, "dia siapa?". Ya, kita hanya dua orang yang tidak jelas siapa dan apa posisi masing-masing, walaupun percakapan panjang hingga larut, mimpi-mimpi yang benar-benar mirip bahkan kiriman semangat untuk berusaha mewujudkan angan-angan, perihal berbagi film favorit dan makanan kesukaan yang sudah saling tau sejak lama.
Terserah bagaimana kerut kening atau emosimu saat membaca ini, ada sesuatu yang harus kusampaikan;
Untukmu, yang hadirnya sangat aku rindukan, dan kubenci disaat bersamaan. Aku boleh beri 1 pertanyaan? Mengapa kau hilang saat kita sedang baik-baik, lalu datang kembali menjadi seseorang yang telah kupandang asing. Kau beri aku harap, lalu kau pergi meninggalkan kenangan-kenangan yang kutampung sendirian. (Kau jawab saja di dalam hati). Dan maksud utama dari surat ini, aku ingin menjelaskan perasaanku secara ringkas. Bismillah, aku telah jatuh hati padamu sejak bertahun-tahun yang lalu, disaat memakai lipstik pun aku belum mahir. Aku telah memendam debar jangka panjang ini agar hubungan yang kita sebut pertemanan ini tidak cedera. Bahkan saat kau hilang bersama 'dia', rasaku masih sama. Walaupun bantal tidurku selalu basah dimalam harinya.
Ada orang-orang yang patah hati karena menjalin hubungan dengan seseorang. Ada orang-orang yang patah hati karena memendam perasaan karena takut diketahui seseorang. Aku orang kedua.
Aku lebih baik ditolak, daripada tidak dimiliki tetapi tidak dilepaskan juga. Aku ingin kita yang berbeda.
Surat ini telah kutulis dengan seluruh keberanian.
Dari aku (yang lelah menjadi singgah)