"Kau hanya perlu percaya padaku," katamu, dan aku, tanpa ragu, melakukannya.
Aku menunggu. Bukan sehari, bukan sebulan, tapi cukup lama hingga aku lupa rasanya hidup tanpa mengukur waktu dari ketidakpastianmu. Kau bilang segalanya hanya soal waktu, bahwa kau hanya perlu menyelesaikan sesuatu sebelum kita bisa memulai yang baru.
Aku percaya. Aku bertahan. Aku menahan diri untuk tidak bertanya terlalu sering, meski setiap malam aku bertanya dalam hati: Benarkah?
Lalu suatu hari, jawaban itu datang. Bukan lewat kata-katamu, tapi lewat sikapmu yang menjawab segalanya.
Kau tetap di sana. Di tempat yang kau bilang ingin tinggalkan.
Dan aku? Aku hanya seseorang yang kau biarkan berdiri di persimpangan, menunggu sesuatu yang sejak awal tak pernah benar-benar kau niatkan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
kemarin pas mati lampu hampir sepanjang siang di rumah, gw berkesempatan kembali menilik ulang Perahu Kertas-nya Dee Lestari. gw lupa persisnya baca ini pertama kali kapan, tapi harusnya pas di masa sekolah. jaman kuliah itu udah rilis versi film 2 jilidnya. lalu percakapan-percakapan di dalam film itulah yang menemani gw nugas sendirian di kamar kontrakan. pokonya kisah itu punya tempat tersendiri di hati.
ada banyak hal yang gw baca atau tonton ulang--selain lagu yang gampang diputer berulang-ulang. selain ada masanya enggan mengeksplorasi hal baru, tentu saja karena ingin mengulang pengalaman-pengalaman yang dirasakan kembali ketika menikmati pertama kali. dulu gw dapat dopamin, dan akhirnya berekspektasi sama. juga ada yang bilang, hasil bacaan kita terhadap satu karya bisa aja berbeda ketika kita membacanya ulang dengan kacamata baru. pengalaman hidup dan jarak waktu itulah yang membuat lensanya berubah. yang mana masuk akal sekali, hal yang gw pegang di usia 20-an bisa jadi gw maknai berbeda di usia 30-an ini.
ternyata kisah Perahu Kertas masih ngasih efek-efek yang sama. tentang merasakan sebuah jalan yang berputar yang mesti ditempuh menuju tujuan. beruntung sih narasinya dibikin happy di akhir. mungkin jika ga dikasih akhir seperti itu, gw enggan mengulangi pembacaan Perahu Kertas ini. beberapa tingkah mereka masih menggemaskan seperti dulu. hal-hal yang terasa wajar dilakukan di usia belasan akhir, 20-an awal tapi aneh kalo dilakukan di usia gw sekarang. tapi juga ada yang nyebelin dari tingkah mereka. balik lagi, Perahu Kertas itu tentang Kugy dan Keenan di usia 20-an awal.
tapi tema tentang menemukan ditemukan dan jalan menuju tujuan ini emang saat ini masih beresonansi di gw. ngasih tahu kalo gw punya harapan untuk bisa ditemukan dan menemukan. tentang sebuah harapan kalo gw bisa mengalaminya di garis hidup ini. meskipun yang gw sadari juga makna ditemukan dan menemukan ini udah gw stretch ke hal bentuk-bentuk hubungan lain selain romansa. keluarga, teman, kolega. bahwa gw emang sebutir debu di dunia fana ini dan mudah terlupakan, tapi merasakan hal hangat dan menyenangkan dari keberadaan gw.
gw sebenernya ga terlalu merasakan punya kesamaan karakter dengan Kugy atau Keenan. latar belakang mereka beda, pilihan hidup mereka beda. tentang menemukan, ditemukan dan jalan berputar itu hits too close to home. di momen sebelum akhir, Kugy Keenan sempat bersepakat untuk saling ngasih tahu perasaannya tapi milih orang lain untuk jadi partnernya. which, ga adil buat semua pasangannya tapi mereka SEMPET ngambil itu. dan itu juga jadi ketakutan gw. memilih sesuatu ga wholeartedly, lalu akhirnya nyimpen grudges sepanjang hidup. meski kalo dilihat polanya, gw punya kecenderungan itu. hmm, gw sedang berusaha mengurainya.
pembacaan yang entah ke-berapa ini juga jadi liat lebih banyak detail cara berceritanya. Dee bikin pembacanya tahu semua hal, dan ini bikin skornya berkurang. gw suka komponen misteri ternyata. beliau juga pakai banyak teknik telling dibanding showing. sebenernya ga papa, toh narasi yang udah ada pun udah bisa gw bikin theater of mind. ditambah pemilihan cast untuk filmnya juga ga terlalu jauh dari bayanganya gw. okelah.
gara-gara ini juga jadi tahu kalo tahun ini Perahu Kertas udah ada versi teater musikalnya. di Jakarta tentu aja, ga pakai tour. alhasil yang kunikmati adalah lagu yang udah rilis official. ini juga bikin dengerin lagi original soundtrack-nya. Langit Amat Indah masih bikin gw senyum-senyum hepi, Cinta yang Tak Mungkin masih bikin nyesek. 2 Manusia yang sebelumnya dinyanyiin Dendy Mikes, untuk musikal ini ada rilisan versi Maudy Ayunda. sesungguhnya pengen banget liat versi musikalnya, semoga deh berjodoh.
Meski langkah ini kadang bertambah berat
Sudikah kau tunggu? Relakah kau melepasku?
Mari terus bercerita, membuat fiksi dan khayalan-khayalan yang menurut orang lain adalah hal yang gila. Sejarah sudah membuktikan, perubahan peradaban manusia banyak didorong dari fiksi-fiksi yang ada dikepala beberapa orang.
Inilah keajaiban manusia, yang tidak dimiliki mahluk hidup apapun diatas permukaan bumi. Mampu membuat fiksi dan cerita yang menggerakkan diri sendiri dan orang lain kearah yang lebih baik.
Selagi muda, aku tidak pernah terpikir untuk mengambil waktu lalu hening sejenak. Semuanya kuputuskan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Andai dulu aku sempat menarik diri, memasak matang apa yang bakal menjadi masa depanku, perasaan terjebak dalam situasi yang tidak lagi dapat diubah ini bisa saja dapat dihindari.
Di satu sisi, jika dulu aku memutuskan untuk memilih jalan yang tidak kupilih, akankah hidupku akan berbeda? Atau malah sama, tapi situasi dan latarnya tidak serupa? Masalah yang kuhadapi tetap akan hadir, sambil memasang tampilan yang tidak mirip sama sekali dengan apa yang sedang berada di depanku. Pastinya begitu, betul?
Melihat kebelakang lalu berandai-andai memang membuatku menjadi manusia yang tidak tahu terima kasih. Padahal, ada kubangan atau jurang yang telah kuhindari berkat pilihanku ini. Ada banyak anugerah yang sudah kuterima sejak pilihan hidup ini kujalani. Harusnya aku bisa berpikir seperti itu.
Atau, aku juga dapat menjadikan apa yang kualami sebagai pelajaran. Sejak awal berada di jalan yang kupilih ini, aku sudah menjumpai banyak mata pelajaran. Mulai dari bertemu orang yang salah atau menyia-nyiakan orang yang tepat, sampai berbuat baik atau berbuat jahat, semua memang bagian dari kurikulum kehidupan. Dan semuanya itu lebih dari penting. Karena apa yang kumakan itu, aku menjadi seperti aku yang sekarang. Harusnya, aku bisa menganggapnya seperti itu.
Kadang, menjadi manusia, yang pada dasarnya tidak memiliki rasa puas, membuat otak dan hati seperti terbebani untuk bekerja lebih keras daripada diriku sendiri. Andai aku berada di situasi yang lebih baik dari sekarang ini, aku pastinya akan mengeluh juga.
Aku 'tak mengerti kenapa puisi harus ditulis dengan ritme; tidak membiarkan mulut bersyair merdu sesuai keinginan indranya. Apakah dalam mengekspresikan diri di buku pun tetap tidak bisa bebas, karena masih perlu tunduk kepada hierarki ujung kata, bahkan memperhatikan pelafalannya saat lidah berdansa? Memilah diksi per diksi, metafora terukir, kalimat pahit ditulis manis—mungkin ada baiknya aku 'tak acuh pada hal ghaib. Ribet. Rebel. Ritme.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Udah tiga kali gue dipaksa Nyokap buat cepat-cepat nikah di usia gue yang ke-27 tahun. Respons gue cuma nyengir—kayak kuda yang giginya habis dipasang behel. Lalu, gue tanya balik ke Nyokap, “sama siapa?”. Soalnya, gue udah hampir lima tahun menjomblo. Lagipula, usia gue belum tua-tua amat, ‘kan?
Sebenarnya, gue termasuk cewek yang masa bodo soal tipe cowok. Dari deretan mantan gue yang jumlahnya cuma empat orang, nggak ada yang masuk kriteria “idaman” klise. Syarat gue simpel: seiman, saling suka, baik, perhatian, menyayangi, dan menerima apa adanya gue dan keluarga gue. Selebihnya, urusan maintenance gampang.
Punya trauma? Nggak! Meski selama empat kali pacaran, empat-empatnya mutusin gue. Bahkan, mantan ketiga gue... selingkuh! Cuma, sekarang gue lagi ada di fase ‘nggak dulu’ untuk urusan percintaan. Jangankan pacaran, nonton drama romansa aja gue nggak minat. Bumbu ceritanya itu lho—nggak kira-kira! Kalau itu sayur lodeh, udah pasti keasinan!
1.
Pagi-pagi banget, Vanya merengek ke Nyokap minta dibeliin meja belajar. Berkat rengekannya, gue selamat dari mimpi buruk dikejar badak kribo, dan Nyokap langsung menuruti keinginan adek bungsu gue itu. So, siang harinya, Nyokap minta gue nganterin dia ke toko furniture yang jaraknya butuh dua puluh sampai tiga puluh menitan naik motor. Gak tahu deh, kalau naik burok? Mungkin belum ngedip juga udah nyampe.
Sesampainya di toko, gue membuntuti Nyokap selama hampir dua jam—sesekali Nyokap minta pendapat gue, dan tanya harga ke mbak-mbak yang kerja di toko itu. Dia memilih-milih meja, tapi gue berasa lagi nungguin orang yang mau lahiran dan masih bukaan satu, sampai-sampai kaki gue pegel kayak habis dipelintir Rick Rude di WWF tahun 90-an (yang tahu, tahu aja lah. Yang nggak tahu, bayangin aja dipelintir mantan pas lagi ngutang)
“Ta, kayaknya ini bagus! Cocok buat Vanya,” seru Nyokap ketika dia menemukan meja belajar mungil berwarna pink dengan gambar karakter kelinci dari Sanrio.
“Iya, ih, gila! Bagus banget, Ma! Udah, pilih yang ini aja!” balas gue. (Iya, biar cepat aja urusan ini kelar)
Akhirnya, Nyokap niat membayarnya. Lalu, kami bergerak cepat ke meja kasir. Di sana, kami dilayani oleh seorang cowok berkulit putih, badannya tinggi besar, dengan potongan rambut comma. Wajahnya? Ganteng, sih! Cowok itu menyeruput secangkir kopi dan merapikan kemeja hitamnya, sebelum menyambut kami.
Sekedar informasi: naluri dan penilaian wanita tentang cowok ganteng itu nggak akan pernah sampai ditukar tambah sama cabe di pasar. Bedanya, dalam batin gue cuma bilang ‘Iya, dia memang ganteng’. Tapi kalau Nyokap gue? Pasti mikirnya, ‘Wah, ada calon menantu!’. (Ada yang sama? Kalau ada, tos dulu, dong! Kita senasib!)
Nyokap memberikan uang ke cowok itu sambil senyum-senyum ganjen. Tiba-tiba aja dia tanya, “Maaf, Nak. Sudah punya pacar?”
Aje gile! batin gue. Udah kayak muncikari di Saritem! Tiba-tiba tanya pacar sama orang yang gak dikenalnya. Semoga itu nggak termasuk penodongan status.
Cowok itu tertegun. Gue langsung menyikut lengan Nyokap.
“Belum, Bu,” jawabnya. “Kenapa, ya?”
“Oh, sama. Putri ibu juga belum,” timpal Nyokap. (Malu-maluin banget nih, Emak-emak! Maksudnya apa coba?)
Cowok itu tersenyum, kemudian melihat ke arah gue. Pasti pikirannya udah ke mana-mana, dan batinnya bilang: Pantesan jomblo, penampilan anaknya aja kayak jamet! Ya, jelas! Rambut gue yang bleaching-annya udah luntur dicepol asal-asalan, cuma pake baju kaos longgar One Ok Rock yang kusut, dan celana jeans yang lututnya sobek-sobek. Jujur, muka gue yang masih licin, berminyak kayak bungkus gorengan, tanpa makeup dan lipstik. Udah nggak salah lagi, muka gue pasti nggak beda jauh sama keset welcome yang udah diinjek banyak kaki, dari mulai kaki kurir sampai kaki mantan yang belum bayar utang.
“Terima kasih, sudah membeli di toko kami. Ini kembaliannya, Bu.” Cowok itu menyerahkan uang kembalian ke Nyokap. “Rumah Ibu di mana?” tanyanya kemudian.
“Di situ, ada alamat lengkap Ibu. Sudah ditulis sama Mbak yang tadi,” jawab Nyokap.
Sontak cowok itu melihat kuitansi. “Oh, iya. Maaf, saya lupa. Nanti, biar saya yang akan mengantarnya langsung,” balasnya. (Weeehh... orang ini terlalu baik, atau terlalu nekat? Jangan pernah main-main sama nyokap gue! Run!)
2.
Di hari libur, gue juga pengen menikmati waktu layaknya pengangguran sejati. (Aseeekkk!)
Nikmati waktu sore cuma rebahan, berleha-leha cantik, berlarut di atas kasur yang sepreinya udah bau mamalia laut yang gak pernah pake deodoran, sebelum besok jadi babu pak bos lagi di kantor.
“META!” Nyokap memanggil gue sebanyak tiga kali, dengan nada yang semakin meninggi. Mendengar itu, gue yakin yang datang pasti kurir paket—nganterin gamepad yang udah gue pesan di toko oren dua hari lalu.
Gue yang lagi menikmati pertarungan si Asta vs si Mars (Anime Black Clover) di hape, terpaksa harus stop dan langsung nyamperin Nyokap. “Iya. Ada apa, Ma?” sahut gue.
Tapi, saat gue tiba di ruang tamu, gue sadar yang datang adalah meja belajar. (Sue! Gak jadi deh, mabar Mobile Legends nanti malam pake gamepad baru)
Adek gue seneng. Nyokap gue lebih girang, lantaran cowok yang di toko tadi siang—beneran ikut nganterin barang bareng kedua kurir yang lain. Sementara gue? Kecewa!
“Ini, ada tamu. Bikinin minum!” pinta Nyokap.
“Lho? Kok, jadi Meta, sih?”
“Udah, sana!” bisik Nyokap, memaksa.
Dengan perasaan kesel, gue pergi ke dapur. Nyeduh teh celup pake air panas 200 ml, sama gue kasih gula empat setengah sendok. (Biarin! Diabet, diabet dah, tuh!)
Gue melenggang keluar dari dapur dengan wajah tanpa dosa. “Silakan,” kata gue sembari menyimpan teh itu di atas meja.
“Terima kasih,” balas si tamu.
“Nak Faza, kalau Ibu boleh tau, berapa usianya?” tanya Nyokap. (Sepertinya mereka udah kenalan pas gue lagi bikin teh.)
Cowok yang bernama Faza itu menjawab, “Tiga puluh satu, Bu.”
“Oh, kalau begitu cuma beda empat tahun,” timpal Nyokap.
Ekspresi Faza kelihatan shock waktu denger Nyokap ngomong, matanya yang agak sipit itu mendadak jadi lebar.
“Maksudnya, beda empat tahun sama putri sulung ibu, Meta,” jelas Nyokap sambil nunjuk ke arah gue pake wajahnya.
“Oh, begitu,” imbuhnya, tersenyum tipis. Mungkin Faza mengira, nyokap gue lah yang empat tahun lebih tua darinya.
Gue lantas duduk di samping Nyokap, dan masih sambil mainin hape. Alhasil, Nyokap menegur gue, “Hape terus! Lagi ada tamu juga!”
Gue nyengir. “Maaf,” kata gue sambil garuk-garuk tengkuk. (Padahal gue gak lagi budidaya jamur, apalagi kudisan!)
“Kamu punya Instagram?” tanya Faza tiba-tiba.
“Nggg... a—da,” gue jawab, ragu.
“Boleh saya tau nama Instagramnya?”
“Oh, itu... Gimana, ya? Soalnya....” Gue nengok ke Nyokap, dan Nyokap tersenyum lebar. Gue lantas melotot, dan Nyokap balas memelototi gue. Nyokap paham maksud isi hati gue: ‘ngapain dia nanya akun Instagram segala?’. Makanya Nyokap berisyarat: ‘kasih aja!’ Gue nggak tahu apakah setiap wanita biasa pake bahasa isyarat begini—bahasa yang kayaknya cuma wanita deh, yang ngerti. Kalau sampe ada yang jual tuh kamus Kode, Bahasa, dan Ekspresi Wanita Saat Berkomunikasi (lengkap dengan gambar) gue jamin bakal laku keras diburu kaum adam.
“Iya, boleh,” jawab gue, telat karena harus perang komuk dulu sama Nyokap.
Faza menyodorkan hapenya. Setelah gue raih, gue ketik tuh, nama akun Instagram gue “metTakahiro”. Lalu, gue balikin lagi hapenya.
“Sudah saya follow,” kata Faza.
Gue langsung periksa akunnya. Nama akunnya: Faza Disastra. Posting-annya cuma ada dua—satu foto cover album Radiohead yang bernama Pablo Honey, dan satu lagi foto dia di lapangan badminton yang dibidik dari jarak jauh. (Irit banget postingannya, kayak pengeluaran ibu-ibu di tanggal tua.)
Tapi setelah diperhatikan, sontak kening gue mengerut dan mata gue melotot. Pengikut di akun Instagramnya sekitar 170 ribu followers lebih. Sedangkan pengikut Instagram gue? Cuma 500-an! (Udah kayak harga tahu bulat). Itu pun yang follow gue kebanyakan akun wibu dan K-popers. Kalau nggak keduanya, paling akun fake, akun promosi obat peninggi, pelangsing, dan juga obat pembesar payudara.
Ah, mungkin cowok itu beli followers buat promosiin barang di toko tempat dia kerja, pikir gue saat itu. Lalu gue followback.
“Saya minum, ya?” izin Faza.
“Iya. Silakan, silakan,” balas Nyokap.
Faza kemudian menyeruput teh yang udah gue bikinin tadi. “Tehnya enak,” komentarnya.
Gue mengernyit. BOHONG!!! Udah pasti teh itu rasanya kemanisan, bahkan saking manisnya—bisa ngalahin rayuan mautnya Vicky Prasetyo. Sementara di samping gue, Nyokap tersenyum simpul kayak habis dikasih warisan tanah lima hektar.
“Terima kasih,” balas gue.
“Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Bu. Gak enak, kurir lain pasti sudah kembali ke toko. Terima kasih untuk tehnya,” ucapnya.
Faza mengangguk sambil beranjak. “Permisi,” katanya, lalu dia melirik ke arah gue. “Sampai ketemu lagi, ya, Meta!” imbuhnya.
Ketemu?
Nyokap menutup mulutnya—kayaknya seneng banget denger Faza bilang begitu—kemudian menyikut-nyikut lengan gue. (Ini Emak-emak satu, udah kayak anak ABG, yang kalau digodain di pinggir jalan, langsung menggeliat mirip cacing alaska)
“Seneng?” tanya gue ke Nyokap.
“Memang kamu nggak seneng?” Nyokap tanya balik sambil membersihkan meja tamu.
“Nggak. Apa yang bikin Mama seneng?”
“Itu tandanya, dia ngajak kamu buat ketemu lagi,” jelas Nyokap.
“Yakin ngajak?”
“Kayaknya begitu...”
Gue mendengus. “Hmm.. Baru ‘kayaknya’ kan, jangan ngarep!”
“Memangnya salah, kalau Mama berharap—dia deket sama kamu? Kamu memang kalah sama cewek-cewek modis di luar. Tapi, kamu harus percaya diri. Kamu itu cantik!” kata Nyokap. “Kamu bisa ketemu dulu, kenal dulu, deket dulu...” sambungnya dengan nada centil.
“Huuu... Heran! Pupuk apa yang dia pake sampai gampang banget bikin hati Mama berbunga-bunga?” celetuk gue.
“Huuss... pupuk! Hati kamu tuh, tandus! Pupukin! Susah banget nyari jodohnya!” sungut Nyokap, lantas melempar lap ke muka gue.
“Yeh! Kenapa jadi ‘jodoh’ yang dibawa-bawa. Lagian, dia itu nggak normal!”
“Apa maksud kamu? Homo?”
“Masa teh yang Meta bikin dibilang ‘enak’!”
Nyokap melotot. “Jangan bilang, kamu kasih dia garam?”
“Nggak!”
“Mama nggak percaya!”
“Ya udah, Mama cicipin! Kalau perlu habisin tu sisa dia!”
Nyokap ke dapur, ngambil sendok. Diciciplah sedikit teh bekas si Faza itu. Dalam sekejap matanya melotot, Nyi Blorong sih kalah seremnya.
“METAAAAA!!!” teriak Nyokap “Kamu mau bikin kaki Mama diamputasi?”
“Kabbooooooorrrr!!!!” (Gue nggak tahu apakah teh itu bisa bikin diabetes, gagal ginjal, atau bikin Mama jadi belut listrik. Tapi satu hal yang pasti: gue harus kabur sebelum teh itu jadi bukti kriminal)
3.
Sekitar jam tujuh malam, ponsel gue bunyi. Notifikasi dari IG—Faza kirim Direct Message.
Apaan, sih? Gak jelas banget! Batin gue.
Pesan-pesan dari Faza itu sempat bikin gue risi, seperti ada semut-semut kecil yang mengganggu ketenangan pikiran gue. Terkesan kayak drama murahan, bukan upaya kenalan yang logis.
Gue memutuskan untuk melampiaskannya ke Twitter. Dan cuitan gue dibalas oleh Velly, satu-satunya teman dekat gue di kantor.
Di saat gue asyik lempar cuitan di Twitter bareng Velly, gue kaget. Salah satu balasan cuitan gue ada yang me-retweet. Gue shock waktu lihat, siapa orang yang udah membagikan ulang balasan gue itu.
Gue melotot. Sial! Ini bukan NPC, ini cheat code buat bikin gue malu nasional!
Binar tidak mengerti bahwa namanya bukan sekadar 'nama'
"Binar, kamu sadar ngga, setiap kamu sedih, kamu pasti akan melihat matahari terbenam?"
Dua pasang mata tak henti-hentinya menatap hamparan oranye yang indah di atas mereka. Matahari di ufuk barat hampir sepenuhnya menghilang seolah ditelan langit.
"Entahlah. Aku hanya merasa ini momen yang tepat."
"Kenapa?"
Pemilik mata sendu itu menjawab, "ngga salah kan kalau aku berharap tenggelamnya matahari turut serta membawa kesedihanku? Kalau Awan? Kenapa di sini?"
"Aku punya dua alasan. Mau tahu yang pertama dulu atau yang kedua?
"Terserah."
"Kalau gitu dari yang kedua. Buatku, langit oranye ini adalah hal yang ngga boleh dilewatkan. Matahari yang tenggelam itu membuat semburat oranye tersebar di langit. Dan itu indah... juga menghangatkan."
"Kamu suka hal-hal yang indah, Awan," ujar Binar sambil tersenyum tipis. Sejenis senyum yang bisa menggambarkan perasaannya yang campur aduk, menyadari kontrasnya perasaan mereka berdua. Matahari tenggelam yang membawa kesedihan dan matahari tenggelam yang membawa keindahan.
"Ya, begitu. Dan alasan yang pertama..."
"Apa?"
Sejenak Awan ragu-ragu. "Karena Binar."
Binar lantas terkesiap dan menoleh pada Awan. "Aku?"
"Kamu mungkin ngga tau, tapi aku selalu ke sini setiap sore, kecuali saat hujan sih."
"Lalu?"
"Karena aku tahu sewaktu-waktu kamu akan datang ke sini. Aku ngga tahu kapan kamu akan sedih, aku sih berharap kamu ngga sedih. Tapi kalau itu terjadi, aku ingin menjadi orang yang menemani kamu."
"Kenapa?"
"Kamu banyak tanya ya."
"Wajar kan?" Binar menarik napas panjang. "Menurutku menemani orang yang sedang sedih juga ngga gampang lho. Kamu harus menyesuaikan diri. Kadang orang ingin dihibur dan ada yang cuma ingin didengarkan."
"Dan kamu yang mana?"
"Ngga keduanya."
Awan mengangkut alisnya bertanya-tanya. Kemudian Binar menjawab, "aku ngga ingin mengatakan apa-apa pada siapapun. Aku cuma ingin diam. Tapi, ada kamu di sini."
"Apa aku mengganggu?"
"Ngga. Tapi aku takut kamu bosan kalau aku cuma diam aja."
"Kamu ngga minta dihibur, kamu ngga minta didengarkan, tapi tujuan kehadiranku di sini adalah biar kamu tahu kalau aku ada untuk menemani kamu."
"Aku beneran ngga bisa memberi tahu kamu apa-apa. Aku ngga mau kamu membuang-buang waktu. Yang kamu lakukan ini sia sia, Awan. Kamu bisa memilih untuk pergi."
"Dan aku akan tetap memilih kesia-siaan ini."
"Awan, aku—"
"Kalau kamu mau bercerita, aku akan mendengarkan. Kalau kamu ngga mau bercerita, aku akan diam. Tapi tolong jangan usir aku."
"Kalau kita bertukar posisi, mungkin aku ngga bisa melakukan apa yang kamu lakukan. Aku ngga bisa sehangat kamu. Dan aku bisa jadi sangat egois. Kalau boleh dikatakan, kamu adalah matahari yang tidak ingin aku lihat tenggelamnya."
"Kamu bisa melihat aku, aku bisa melihat kamu, aku bisa melihat diriku sendiri, tapi kamu ngga bisa melihat dirimu sendiri. Mau sampai kapan?
"Awan..."
"Aku suka melihat kamu berbinar. Seperti namamu. Binar. Tapi kamu aneh. Kemarin kamu adalah bintang yang memiliki binar paling terang, tapi sekarang kamu adalah bintang yang paling redup." Awan berhenti sejenak sementara Binar terpaku menatapnya.
"Binar seperti itu ngga ada, Awan."
"Ada."
"Ngga ada. Itu cuma bayanganmu."
"Yah, kamu selalu seperti itu. Aku mau kasih tahu bahwa aku suka melihat mata kamu berbinar saat bicara denganku. Kamu ngga bisa melihat binar itu. Tapi aku bisa. Aku ngga suka melihat mata kamu sendu, seperti sekarang. Aku ke sini setiap hari untuk berharap bahwa kamu ngga datang ke sini. Dan di momen seperti ini, saat kamu tidak berbinar, akan jadi menyenangkan melihat binar itu kembali lagi. Setidaknya itu harapanku, karena selama ini setiap kamu ke sini, menunggu matahari terbenam, aku harus menunggu lama agar binar itu kembali lagi."
Awan menarik napas panjang. "Apapun itu Binar, aku ngga ingin kamu bicara buruk tentang dirimu sendiri. Dan apapun yang terjadi, aku akan selalu menemani kamu. Kalau harapanku bisa menghidupkan binarmu lagi, aku ngga akan ragu buat berharap sepuluh ribu kali dalam sehari."