Di Antara Rumah dan Perjalanan
Di sebuah kota kecil bernama Zero, hiduplah seorang laki-laki bernama Clark.
Usianya tiga puluh tahun. Tidak tua, tapi juga tidak muda lagi.
Setiap pagi ia berkeliling kota dengan kamera tua yang selalu menggantung di pundaknya. Ia memotret banyak hal; pedagang sayur yang membuka lapak sebelum matahari terbit, anak-anak yang berlarian pulang sekolah, pasangan lansia yang masih berjalan bergandengan tangan di taman kota.
Clark menyimpan ribuan foto.
Namun tidak banyak kenangan yang benar-benar ia miliki.
Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang ramah. Ia mudah tersenyum, mudah tertawa, dan selalu punya waktu untuk mendengarkan cerita siapa saja.
"Clark, ngopi malam ini?"
"Clark, bisa motret acara minggu depan?"
"Clark, ikut jalan-jalan nggak?"
Hampir tidak pernah ada ajakan yang ditolaknya.
Namun ketika malam tiba dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, Clark selalu kembali ke sebuah kamar kos kecil di sudut Kota Zero.
Kamar itu hanya berisi ranjang tua, meja kayu yang mulai lapuk, rak buku yang setengah kosong, dan kipas angin yang berputar sambil mengeluarkan suara berdecit.
Kadang saat hendak tidur, Clark merasa suara kipas itu lebih hidup daripada dirinya sendiri.
Ia sering berbaring menatap langit-langit kamar.
Mendengarkan kota perlahan tertidur.
Dan di saat seperti itulah kesepian datang.
Bukan kesepian karena tidak punya teman.
Melainkan kesepian yang lebih sulit dijelaskan.
Kesepian yang tetap tinggal meskipun nomor teleponmu penuh oleh orang-orang yang mengenalmu.
Padahal Clark punya keluarga.
Namun waktu telah menyebarkan mereka ke berbagai penjuru kehidupan.
Seperti daun-daun yang jatuh dari satu pohon yang sama lalu terbawa angin ke arah berbeda.
Kakak pertamanya tinggal di kota yang sama.
Sudah menikah dan memiliki seorang anaknak laki laki berusia lima tahun yang sangat menyukai es krim stroberi.
Rumah mereka hanya berjarak beberapa kilometer.
Namun anehnya, Clark jarang datang.
Bukan karena ada pertengkaran.
Bukan pula karena mereka tidak saling sayang.
Hanya ada jarak yang tidak terlihat.
Jarak yang tumbuh diam-diam ketika semua orang mulai sibuk menjalani hidup masing-masing.
Suatu sore, kakaknya menelepon.
"Main ke rumah lah. Soka terus nanya Om Clark kapan datang."
Lalu menjawab seperti biasanya.
"Nanti ya, Kak. Lagi banyak kerjaan."
Padahal saat itu ia sedang duduk sendirian di warung kopi.
Hanya tidak tahu harus datang membawa perasaan apa.
Malam lain, kakak keduanya menelepon dari Kota Zero One.
Pertanyaan sederhana itu membuat Clark memandang jalanan di luar jendela.
Lampu kota memantul di aspal yang basah.
Di seberang sana tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu kakaknya berkata pelan.
"Jangan terlalu sering sendiri."
Karena kadang nasihat yang paling sulit dilakukan adalah yang paling sederhana.
Tempat paling nyaman bagi Clark justru rumah kakak ketiganya di Zero Two.
Rumah sederhana yang selalu terasa hangat.
Di sana aroma masakan selalu menyambut lebih dulu daripada suara penghuni rumahnya.
Dan entah mengapa, setiap kali datang ke sana, Clark merasa menjadi anak kecil lagi.
Suatu malam setelah hujan turun cukup lama, ia duduk bersama kakaknya di teras rumah.
Mereka memandang jalan yang masih basah.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan yang lembut.
"Capek ya?" tanya kakaknya.
"Karena orang yang bahagia biasanya nggak menatap hujan selama satu jam tanpa ngomong apa-apa."
Tawa pertama yang keluar dari mulutnya hari itu.
Clark memandang rumah yang hangat di belakang mereka.
Ada suara anak kecil tertawa dari dalam.
Ada seseorang yang menunggu kepulangan seseorang.
"Kalian pulang selalu ada yang nunggu."
Hanya suara sisa air hujan yang jatuh dari atap.
Lalu kakaknya menepuk pundaknya pelan.
"Kamu juga berhak punya seseorang yang menunggumu, Clark."
Untuk sesaat, Clark ingin mempercayai kalimat itu.
Namun hidup telah mengajarinya bahwa harapan dan kenyataan sering kali tidak berjalan berdampingan.
Ayah mereka tinggal jauh di sebuah desa kecil di bawah kaki Gunung Osiris.
Menjalani hari-hari yang sederhana.
Suatu sore Clark datang berkunjung.
Memandang hamparan hijau yang bergoyang diterpa angin.
Ayahnya tampak jauh lebih tua.
Kulitnya menggelap oleh matahari.
Namun matanya terlihat lebih damai.
"Masih marah sama Ayah?" tanya lelaki tua itu tiba-tiba.
Pertanyaan itu terasa seperti batu yang dilempar ke danau tenang.
Ayahnya mengangguk perlahan.
Lelaki tua itu memandang gunung di kejauhan.
Namun cukup untuk membuat dada Clark sesak.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat seseorang yang tidak sedang membela dirinya sendiri.
Malam itu ia pulang membawa perasaan yang rumit.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Sementara itu, ibunya tinggal bersama adik bungsu mereka.
Seorang perempuan tua yang sudah lama berdamai dengan hidup.
Suatu malam Clark menelepon.
Terdengar suara televisi di kejauhan.
Lalu ibunya menjawab dengan tenang.
"Bahagia itu bukan keadaan."
Ibunya selalu bisa mengubah kalimat sederhana menjadi sesuatu yang tinggal lama di kepala.
"Kamu terlalu sibuk mencari alasan untuk bahagia."
Dan setelah telepon ditutup, matanya perlahan basah.
Karena terkadang seorang ibu tidak menyembuhkan luka.
Ia hanya membuat kita cukup kuat untuk berjalan sambil membawanya.
Namun yang paling sering membuat Clark gelisah bukan keluarganya.
Melainkan dirinya sendiri.
Di usia tiga puluh tahun, ia masih sering merasa tersesat.
Masih sering bertanya apakah hidupnya berjalan ke arah yang benar.
Masih sering pulang ke kamar kosong dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan lebih dari segalanya, ia masih merindukan seseorang yang belum tentu akan datang.
Seseorang yang pernah membuatnya jatuh cinta.
Perempuan yang membuatnya ingin pulang lebih cepat.
Membuatnya ingin bercerita tentang hal-hal kecil.
Tentang foto-foto yang berhasil ia ambil hari itu.
Namun semuanya berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Bukan karena perempuan itu jahat.
Bukan karena ia tidak mencintai Clark.
Melainkan karena Clark terlalu takut.
Dan beberapa kesempatan memang tidak suka menunggu.
Suatu malam ia duduk sendirian di tepi sungai Kota Zero.
Menatap lampu-lampu yang memantul di permukaan air.
Di sana ia membayangkan dirinya yang berusia dua puluh tiga tahun duduk di sampingnya.
Versi dirinya yang lebih muda.
Lebih sering menyalahkan dunia.
"Jadi kita berhasil sampai umur tiga puluh?" tanya bayangan itu.
Clark memandang langit malam yang penuh bintang.
"Dulu aku ingin hidup yang sempurna."
"Sekarang aku cuma ingin hidup yang berarti."
Angin malam berembus pelan.
Membawa aroma sungai dan tanah basah.
Lalu mulai berjalan pulang.
Tujuan hidupnya mungkin belum ditemukan.
Cinta yang ia tunggu mungkin belum datang.
Kesepian itu pun mungkin masih akan menemaninya besok.
Namun malam itu ada satu hal yang akhirnya ia pahami.
Bahwa hidup tidak selalu meminta kita menemukan semua jawaban.
Kadang hidup hanya meminta kita tetap berjalan.
Tetap bangun setiap pagi.
Tetap menyayangi orang-orang yang masih ada.
Tetap membuka hati meski pernah kecewa.
Tetap berharap meski pernah kehilangan.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, selama ini tujuan hidup bukanlah sesuatu yang berada di ujung perjalanan.
Melainkan sesuatu yang tumbuh perlahan di setiap langkah yang kita jalani.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bukan karena hidupnya tiba-tiba membaik.
Bukan karena semua masalahnya selesai.
Melainkan karena ia akhirnya mengerti satu hal sederhana:
Tidak apa-apa jika hidup belum sempurna.
Selama masih ada alasan untuk pulang esok hari, hidup tetap layak untuk diperjuangkan.