Kututurkan perihal mendung. Perihal segumpal kelabu yang bersarang di kubah cakrawala, angkuh dan murung, namun tak kunjung meruwat bumi dengan curahnya.
Aku pernah iri kepada hujan. Kepada kemampuannya menuntaskan apa yang dimulainya, mencurahkan diri tanpa tawar-menawar, membasahi tanah tanpa bertanya apakah tanah itu layak menerima.
Mendung yang kututurkan ini lain rupanya. Ia bergelayut di atas sungai-sungai yang dahaga, melayang di atas ladang yang menganga, namun memilih bertapa dalam kesunyian. Betapa ganjil langit yang sarat namun enggan tumpah. Pedihnya bukan pada kekeringan yang ditinggalkan, melainkan pada harap yang terus dipiara di telapak tangan terbuka. Tiap fajar orang-orang mencium bau petrichor khayalan, mencecap kabut lembab yang belum juga turun.
Mendung mengajarkan perihal, bahwa kehadiran pun bisa menjadi ketiadaan, bahwa naungan pun menjadi beban. Tapi aku rasa mendung itu juga lelah. Ia menanggung lautan dalam wujud uap, menggendong samudra ke ketinggian yang membuat tulang-tulangnya gemetar. Mungkin ia tidak lupa hujan. Mungkin ia sekadar belum menemukan bumi yang cukup lapang untuk menampung seluruh beratnya beban.
✦ ✦ ✦










