Caraku mencintaimu terjadi begitu saja
Secara cepat dan tanpa aba-aba
Seperti rinai-rinai hujan yang turun ke permukaan jalan
Kala itu, di sepanjang kota Roma
Bila Tuhan itu cinta
Maka kamu adalah malaikat yang diutus-Nya
Kamu, secara ajaib mengusir sepi
Hingga patahan-patahan hati seakan utuh kembali
Namun caramu mencintaiku terjadi begitu lambat
Dari sepasang bola mata yang memantulkan api keraguan
Seperti burung camar laut yang maju pelan-pelan
Takut-takut umpan jagung di hadapannya adalah jebakan
Saat matahari Roma bergerak lambat ke peristirahatannya
Aku mulai mencemburui dia yang menangkap perhatianmu
Dalam segala keterbatasanku yang tidak bisa berbuat apa-apa
Selain daripada jatuh hati padamu dalam diam, tanpa suara












