Kamis, 7 september 2023 tepat 2 hari setelah saya bertambah usia hidup di dunia. Entah bagaimana mulanya, kami (saya dan keluarga) merasa sangat merindukan Almarhum adik kami, Fajri dan besok adalah tepat 4 bulan kepergiannya.
Setiap sekat rumah berisi tangisan lantang masing-masing orang. Mereka menangis dengan cara paling tak biasa, beberapa membutuhkan orang lain sebagai penenang, beberapa yang lain menangis darah dalam hati.
Bapak mengunjungi gundukan tanah kering yang membenam adik kami, menyiraminya dengan doa berharap ia terserap sampai ke dasar melalui air yang ditumpahkan sebanyak 3 kali. Tapi tak ada yang menenangkan Bapak, ia pergi sendirian, membersihkan kuburan dan pilunya juga sendiri
Sedangkan Mamak, ia menatap nanar ponsel digemggamannya, berharap tiap pesan yang ia kirimkan setiap hari mendapat balasan seperti sebelum kepergiannya. Lalu mamak tidak tau bagaimana cara menerima kepergian anak tersayangnya selain memaksakan diri melibatkan tuhan dan segala representatif ayat kitab yang sudah di konstruksi manusia. Menurutnya itu adalah jalan paling ikhlas.
Lalu kakak, dia tidak banyak berbincang, Ia puasa. Ia hanya berkutik saat perlu, selebihnya ia mengurung diri dikamar, mengenang adik sekaligus kawan sekamarnya. Yang ia lakukan hanya ke kantor, pulang ke rumah dan cafe, dan mengulangi siklus tiap hari.
Dan Adik yang kami sayangi, memaksakan diri menjadi kuat, mulai kembali bersekolah, ia lebih senang tertidur karena dengan begitu ia bertemu almarhum.
Tidak ada sapaan atau makan bersama. Meja makan kami sudah berlumut dan karatan. Tidak ada lagi piring piring berserakan disana, kami lebih sering memakan kepedihan mentah mentah tiap harinya.
Kami masih dirundung pilu.