Perihal lelaki yang mengenggam seluruh masa bersamaku.
Tulisan ini kulayangkan saat kelam menyelimuti seluruh bagian antariksa, dan ketika malam benar-benar menenggelamkanmu dalam lelap.
Hampir satu tahun berlayar, kurawat separuh dari hati yang sebenarnya ingin kulayangkan padamu. Corak tresna yang masih memerah ini, tentunya akan melukis rona dalam pipimu. Mungkin, andaikata hal itu terjadi, aku akan segera salah tingkah, tersipu malu, atau bisa jadi hatiku akan berdegub dengan sangat kencang. Menatapmu adalah kausa bagi diriku untuk menakhlikkan girang dalam riang. Untuk itu, beribu-ribu syukur mestinya kuhaturkan kepada Semesta.
Segala hal yang masih kukenang, kita adalah mahasiswa baru saat itu. Belum mencuatnya rasa yang kita sebut sebagai ‘cinta’. Kita hanya bersemuka dalam layar gawai, lalu bertutur kata selayaknya rekan sebaya pada lazimnya.
Entah. Sudah berapa banyak lintas pertemuan yang kita lalui, demi menatap lengkung kurva yang merekah. Perihal bagaimana kau menyeru nama panggilanku, yang acapkali mendengung dalam bilik hati. Pertemuan pertama yang masih kuingat dengan jelas adalah saat kita mampu menembus dinginnya udara malam, dan motor yang kita naiki berdua. Kurasakan kehadiranmu dengan sangat nyata, dan raga kita yang saling berdampingan. Dan dengan bodohnya, aku berpikir apakah kau masih mengingat dengan jelas peristiwa saat itu, Sayang?
Tidak ada kata yang tepat untuk memanifestasikan sebuah perasaan saat itu.
Ironisnya, aku mulai mendambakan suatu hal yang lebih dari sekedar pertemuan. I still remember the first time we held hands. I was so curious to know where our stands. Setidaknya, itulah yang kupikirkan, demi memperhatikan, kenapa laki-laki yang sebatas mengenakan kaos hitam dan celana kelabu itu, terlihat tampak cukup sempurna.
Adalah Rio, begitulah orang-orang memanggilnya. Nama Rio yang dihaturkan oleh ibu dan bapaknya, adalah sebuah hasrat agar ketentraman selalu melekat dalam tabiatnya. Ia dikenal sebagai Penanggung Jawab Kelas yang paling tunduk dengan titah dosen. Sepanjang riwayat kisah kasih, Rio tak pernah goyah dalam prinsip kesetiaannya. Baginya, satu wanita cukup menggenapi separuh atma hingga hayatnya. Oh, iya, aku sendiri menjulukinya sebagai Ririo. Sebagai isyarat bahwa atensi dan afeksi yang tak mengenal kata paripurna dalam hidupnya.
Meskipun aku dan Rio memiliki selisih usia yang terpaut satu tahun lebih muda, akan tetapi, tak menjadikan kami ingkar dalam darma asih. Justru Rio adalah teman hidup paling sebahu untuk sekadar berdiskusi suatu perkara atau sekadar berbagi kisah.
Ketentraman itu tercelik manakala ia sanggup menyajikan atensi sebagai sagu hati dari renjana yang tak lekang dimakan usia. Dengan perangai tabahnya itu, ia sanggup memecahkan berbagai kesulitan, serta mengalah yang menjadi salah satu jati dirinya sebagai sosok yang tegap tangguh.
Mojokerto sendiri telah menjadi saksi bisu atas berbagai riwayat hidupnya yang penuh pancawarna. Dengan kehadirannya pada pertengahan Maret, ia mampu menebar seri pada benak orang sekitar.
SMAN 1 Puri adalah persemayaman pendidikan yang ia lakoni selama tiga tahun, dengan bidang IPA sebagai ketertarikannya. Akan tetapi, talenta yang ia miliki mengharuskannya untuk alih minat serta hasrat. Bermula dari karangan pendek yang ia rangkai secara runtut, hingga dunia sastra yang menjadi destinasi terakhirnya di perguruan tinggi.
Salah satu prinsip yang ia pijak adalah, “Karena, aku bakal nepatin janjiku, dan aku akan terus setia. Bahkan, aku bakal nunggu kamu balik kalaupun kita sampai pisah.”
Rio adalah alasan mengapa sampai hari ini aku masih menunggu sudut itu. Sudut dimana orang-orang memanggilnya dengan ‘Rindu’.
—Tertanda cinta untuk @raqqun ❤️