Aku banyak belajar
Aku belajar tentang bahwa apapun yang terjadi, atau seburuk apapun hal yang terjadi hari ini. Hidup harus tetap berjalan, perjuangan mesti tetap pada lintasan, dan aku hanya perlu percaya pada hari esok.
Aku belajar tentang betapa kita bisa mengenal seseorang, dari bagaimana mereka menyikapi tiga hal dalam hidup: hari yang dibaluti Hujan, Amarah yang mengungkung kesadaran, dan Beban yang semesta berikan.
Aku belajar tentang betapa mereka selalu dikerubungi kepalsuan. Tawa yang merekah menjadi topeng berkedok luka, dibaliknya terdapat cerita yang memunculkan perasaan tak menyangka.
Aku belajar tentang betapa aku tak perlu tak suka pada seseorang hanya karena sifatnya, tabiatnya, atau apapun itu. Sebab mereka selalu menjadi makhluk yang rumit. Dan ditempat lain—dibalik itu, mereka pasti baik. Aku hanya tak tahu.
Aku belajar tentang betapa aku tak perlu meremehkan orang lain. Sekali lagi, mereka selalu mempunyai kisahnya tersendiri. Aku tak pernah tahu, apa yang sedang mereka hadapi, dan apa yang telah mereka lewati dalam hidup ini.
Aku belajar tentang betapa pentingnya merawat hati dengan tak mengedepankan emosi. Sebab hati bisa membatu dengan hal-hal kecil yang aku lakukan. Jalan yang paling baik saat amarah giat bergejolak adalah dengan diam. Bak laut yang tenang, amarah mesti terkontrol agar hati tak terombang-ambing.
Aku belajar tentang bahwa aku mesti belajar. Aku harus berpikir, agar aku terbiasa menghadapi hidup yang selalu dipenuhi dengan getir. Bukan hanya belajar akademik. Bukan hanya diam lantas menghafal pelajaran— yang bahkan akan hilang dalam rentan waktu satu bulan. Aku pun perlu mencari esensi hidup, agar langkah ini tak selalu statis, agar hidup ini tetap dinamis, pun agar pikiran ini tak merupa pikiran apatis.
Aku banyak belajar.
— Arief Aumar Purwanto





















