menemukan diriku bersedih setelah itu, aku yakini ini adalah bekas bukti bahwa aku memang mencintaimu—mengasihimu.
namun diantara geram pedih ketidakpastian dan buram bingungnya waktu—untuk membuatmu tetap anggun tak terganggu:
aku mafhum mau tak mau.
harus bangkit dari mejamu.
— Arief Aumar | untitled


















