Si Gemok cukur bulu cipap🤭
Ada ke sesapa yg nk jilat cipap tembam
Bini Gemok aku😋
seen from United States
seen from Belgium
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Slovenia

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from Norway
seen from Morocco

seen from United States
seen from Macao SAR China
seen from Morocco

seen from United States

seen from Morocco

seen from Morocco

seen from Morocco
seen from United States
Si Gemok cukur bulu cipap🤭
Ada ke sesapa yg nk jilat cipap tembam
Bini Gemok aku😋

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
KEMBANG LAYU
Dua tahun lebih kami tidak bertemu, akhirnya Tuhan menghendaki. Kamu tidak ayu seperti dulu, kamu layu.
Aku harap aku tidak datang ke acara itu. Ekspektasiku pada pertemuan kami untuk pertama kali setelah bertahun-tahun ternyata terlalu tinggi. Nyatanya niat baik tidak pernah cukup untuk menjamin sebuah hubungan yang sudah lepas. Ya, kepulangan salah satu temanku ke Tanah Air adalah titik balik gejolak nurani yang kami tinggalkan di masa lalu. Rasanya aneh! Tidak seperti kopi dan rokok setelah makan siang. Rasanya seperti ganja dan obat setelah minum alkohol! Pusing; Lemas; Mual.
Hari itu pesta kecil di rumah minimalis yang dihadiri 12 orang — termasuk aku — awalnya terasa hangat, hingga acara utama tiba. Semua berkumpul di ruang makan, sembari memanjatkan kalimat puji-pujian yang bahagia, sembari melepas rindu. Di antara semuanya, hanya ada dua wajah yang tidak terlihat bahagia, kebingungan tapi sama-sama melepas rindu. Ya, wajahku dan wajah anak perempuan itu.
Semua orang menyantap hidangan yang sudah disediakan, anak perempuan itu yang menyiapkan hidangannya. Karena telat, aku menjadi orang terakhir yang mengambil makanan, dan tentunya di depan wajahnya. Lalu, mata kami bertemu, jarak pandang kami hanya terhalang oleh nasi tumpeng yang sudah tidak beraturan. Seketika ruang makan menjadi hening dan mencekam. Untuk beberapa detik semua orang saling bertatapan dan berhenti berbicara.
Aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya selama 30 menit hingga selesai makan! Bahkan semua orang di rumah itu tahu betul semua cerita kami, karena mereka adalah teman dekat. Semuanya – bahkan aku – menunggu kelanjutan cerita lalu yang seru itu. Sayangnya, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari lidahku maupun lidahnya. b
Aku pergi ke depan teras rumah untuk melakukan ritual pencuci mulut setelah makan sembari menenangkan diri. Ya, merokok. Hal yang anak perempuan itu benci. Aku duduk di sana selama berjam-jam sembari bericara tentang masa depan bersama teman teman di masa lalu. Sementata anak perempuan itu — bersama pasangan barunya — dan teman-teman yang lain asyik bercanda dan tertawa di dalam rumah, terdengar kencang hingga ke teras. Ayolah, aku bisa melihat seisi rumah melalui jendela. Melihat betapa bahagianya anak perempuan itu.
Jam sudah menunjuk pada pukul 11 malam. Semua orang bergegas untuk pulang. Di dalam kerumunan perpisahan aku melihat anak itu pulang bersama pasangan barunya. Tidak ada ucapan perpisahan darinya, sama seperti saat aku datang. Hari itu aku sadar, betapa mengerikannya dunia ini. Mengubah anak perempuan lugu, yang polos, yang senang berdiam diri di rumah, menjadi anak yang senang bepergian hingga larut malam bersama pasangannya. Mungkin anak perempuan itu sadar akan rasa ngeri yang diciptakan oleh dunia. Aku pulang bersama rasa bahagia yang ternoda oleh amarah dan tentunya kecewa.
Hingga beberapa hari kemudian, pukul 7 pagi, kakaknya tiba-tiba menghubungiku.
“Hai, apa kabar?” katanya.
“Baik, ada apa?” tuturku.
“Tidak apa-apa. Ciee, kemarin ketemu galih, hahaha!”
“Memangnya kenapa? Kalau kamu menghubungiku hanya untuk mencemooh, lebih baik akhiri sekarang.” jawabku dengan nada tinggi.
“Tidak, kemarin anak itu cerita.”
“Aku tidak peduli.”
“Dengar dulu. Aku tahu kalian tidak saling menyapa dan aku mengerti alasannya. Aku orang yang tidak ingin kamu menghubunginya lagi untuk menyelamatkan dirimu, serta aku pula yang ingin kamu dan anak itu bertemu secara langsung. Ternyata tidak berjalan dengan baik.”
“Lalu apa intinya? Aku tidak butuh ceramah dan penjelasan berbelit.”
“Kemarin anak itu pulang ke rumah jam 1 pagi, ibunya marah besar.”
“Lalu apa urusannya denganku?”
“Dia menjual namamu agar ibunya percaya dan berhenti memarahinya, walaupun aku tahu dia pulang bersama pasangan barunya. Aku hanya ingin memohon maaf atas tindakannya.”
Aku terdiam diri untuk beberapa detik. Lidah terasa kaku karena menahan amarah agar tidak pecah.
“Halo, halo? Apa kamu baik-baik saja?” lanjut kakaknya.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih untuk informasinya.”
Segera setelah itu aku mengakhiri obrolan singkat kami di pagi hari.
Pada akhirnya, walaupun kami tidak bertegur sapa, aku menyelamatkan anak perempuan itu, satu kali lagi. Dan aku tahu perlakuannya adalah kebohongan. Rasanya tenang dan sakit luar biasa disaat yang bersamaan. Menekan diri dari kedua sisi, membinasakan sisa-sisa toleransi dan ketamakan, mengubah kesempatan menjadi ancaman hingga napas jadi tidak beraturan. Ingatlah, nama milikku bukan barang atau jasa yang bisa dibeli lalu dijual dengan mudahnya, terlebih untuk urusan rasa percaya.
“Aku ini binatang jalang! Bila mengutip kalimat dari salah satu puisi milik Chairil Anwar. Aku yang membuat harga diriku menjadi sangat mahal. Jangan pernah kamu mencoba untuk menjualnya untuk kepentingan dirimu sendiri. Bila kamu melakukannya, artinya kamu tidak lebih dari kembang yang layu, wangi busuknya menusuk seisi taman.”
Sekali lagi, aku tidak mengenali anak perempuan itu. Dia tidak ayu, Dia layu.
Loyal guards of the greedy greasy few, Keep us safe? They’ll knock down our doors, Kill us in our beds in any given chance.
Mixtape with new music from Spitfire, Lustmord & Karin Park, Eternal Silence, Queen of Distortion, Nebulae, Jalang, Koburg, Star Crystal, and Atrocity Girl
Mixtape with new music from Spitfire, Lustmord & Karin Park, Eternal Silence, Queen of Distortion, Nebulae, Jalang, Koburg, Star Crystal, and Atrocity Girl
Nine songs for your listening pleasure, today’s post is filled with new music varying from Heavy Rock to Dark Ambient so check it out and support the bands. If available, the songs are added to the Loud Unity Spotify playlist. Make sure to follow as it is updated on an almost daily basis. Photo: Spitfire by @mikedfurman With just drums, bass and vocals you can make awesome Heavy and Psychedelic…
View On WordPress
Biduan, Jalang dan Sebakul Janji-janji
Biduan
Oleh: Wiwin Agustina*
Ah kebaya ini lagi. Make up tebal ini. Gincu ini. Sepatu ber-hak ini. Tubuh yang dipaksa gemulai ini. Jari-jari lentik ini. Kedua mata yang dikata orang menawan ini.
Jika kalian tahu, sebenarnya yang kujual hanyalah suara nan lembut ini. Tapi semua orang, apalagi laki-laki lebih tertarik pada rupaku. Pada tubuhku. Pada apa yang mereka ingin lihat.
Jika aku di antara…
View On WordPress

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jalang
"Jalang" "Hadir pak" seraya bocah perempuan kelas enam itu mengacungkan tanganya saat guru mengabsen. Hari itu adalah pelajaran bahasa indonesia, pelajaran kesukaan jalang. Tidak. Bukan suka karena pelajarannya. Namun Jalang merasa nyaman dengan guru tersebut, guru satu-satunya yang memanggil namanya dengan tulus dan juga mengindahkan namanya. Pada saat mengabsen pak Suwardi selalu memanggil nama semua muridnya, semuanya di panggil dengan cara yang sama. Lantang dan jelas. Lalu pak Suwandi akan melihat memastikan murid tersebut hadir di kelas, dengan mengacungkan tangan dan menjawab "hadir". Tak ada perlakuan spesial yang pak Suwandi berikan bagi Jalang dan semua muridnya. Menerapkan sitem sama rata tanpa membedakan murid-muridnya, membuat Jalang senang setiap pelajaran ini. namanya tidak di cemooh atau jadi bahan tertawaan bagi yang menyebut. Guru lain yang masuk ke kelas akan menahan tawa setiap kali mengabsen nama Jalang, lalu menatapnya dengan pandangan seperti melihat hal menjijikan. Maka dari itu jalang suka sekali pelajaran bahasa Indonesia. Jalang tidak mengerti mengapa dimanakan demikian. Setiap kali Jalang bertanya pada Ibunya mengapa diberikan nama tersebut ibunya akan langsung memarahin Jalang. Pernah suatu ketika saat Jalang sudah tidak tahan lagi dengan namanya yang selalu jadi bahan olokan orang-orang dewasa di sekitar rumahnya, Jalang bertanya pada ibunya kenapa ia dimanakan seperti itu, ibu-ibu lain menamakan anak perempuannya dengan nama yang cantik. Namun mengapa ia bernama Jalang. Lalu sang Ibu mejambak rambut Jalang dan menyeretnya ke dalam bak mandi. Dengan amarah yang memuncak Ibu mencelupkan kepala Jalang ke dalam bak mandi sambil memarahi jalang "Jadi pergaulan kamu sudah liar sekarang hingga tahu arti jalang?? Anak biadab kamu. Mati sana sama bapakmu !" ***** Awalnya Jalang tidak pernah mempersoalkan namanya. Yang ia tahu Jalang adalah dirinya. Di akte pun demikian, lengkap bersanding dengan nama bapaknya sebagai nama panjang, Jalang Santoso. Seperti halnya teman di kelas yang lain, Jelita Purnama, Wulan Sutantio, Jingga Alamsyah. Mereka berkata itu artinya anak kesayangangan bapaknya, sehingga pada nama belakang mereka ada nama dari masing-masing bapak. "Jadi kamu Jalangnya Bapakmu?" "Ya. Tentu. Aku Jalangnya Bapakku" Jalang akan bangga menjawab seperti itu setiap ada pertanyaan demikian. Karena ia adalah kesayangan bapakanya. Begitu pahamnya saat itu. Memasukin kelas 6 SD menjadi pintu jawaban kebodohannya selama ini. Teman-teman sekelas yang telah beranjak remaja dan daya fikir yang lebih maju hingga kaya akan kata dan bahasa mulai mencibir Jalang. Mereka yang telah mengerti arti kata Jalang secara hafiah. Namun tidak dengan Jalang, yang ia tahu Jalang itu adalah dirinya. Dan ketika Jalang mengetahui arti kata tersebut dari kamus bahasa indonesia yang ada di perpustakaan , Jalang menangis sendiri di pojokan rak. Menangis karena selama ini tidak ada yang namanya anak kesanyangan Bapak. Tidak ada untuk dirinya. Hanya dirinya. Jalang mengerti mengapa orang-orang sering menertawakan namanya. Jalang mengerti mengapa orang-orang dewasa menatap dengan pandangan aneh pada dirinya. Yang tidak Jalang mengerti mengapa ibunya memberikan nama seperti itu. Di sekolah Jalang menjadi giat belajar. Ia tak ingin dibilang pintar atau di sanjung. Toh ibunya tak pernah mengambilkan rapot, juara kelas hanya salah satu jalan menuju ambisinya. Ia ingin dapat SMP favorit, sehinga saat SMA hingga kuliah Jalang menjadi murid yang pandai. Dan pada saat itu Jalang berkerjaa di perusahaan dengan gajih besar, pada saat itu ia dapat mendapatkan kebebasan. Kebebasan ganti nama. ***** Memasuki masa SMP, Jalang di terima di SMP favorit. Disini Jalang bekenalan dengan orang baru. Orang-orang penuh rasa maklum dan iba dihadapan hadapan Jalang. Awalnya sedikit berat menyesuaikan dengan orang baru yang mendengar namanya saat berkenalan. Namun masa berat tersebut berhasil dilewatkan hingga Jalang lulus dan masuk SMA. Menginjak bangku SMA membuat Jalang semakin risau, pada usia ini semua orang mengerti betul makna "jalang". sebuah kata sifat yang berkonotasi buruk, namun "jalang" itu merupakan namanya. Hari demi hari Jalang tumbuh menjadi anak yang penuh rasa iri dan juga benci terhadap teman-teman, guru, orang asing yang selalu tertawa saat mengajaknya berkenalan, semuanya. Jalang mengutuk semuanya dalam hati. Rasa bencinya yang tidak terhankan itu ia lampiaskan dengan cara mengadu domba semua orang, menjadi pembohong dan juga menjadi karakter palsu di depan semua orang. Apapun dilakukan agar Jalang tidak terlihat seperti ibu, orang-orang akan menatapnya penuh kebencian jika ia memiliki sedikit saja garis kemiripan dengan ibunya. Ia ingin menjadi Jalang yang asli tanpa kontruksi siapapun, termasuk ibu. Jalang Santoso. Ia tidak ingin sedikit pun sifat ibunya yang patut tiru, orang lain akan menyamakan dirinya secara kasar dengan memanggilnya "anak si jalang itu...". Ibu yang selalu menyemprotkan minyak wangi ke sekujur tubuh juga berpoles dengan riasan tebal dengan balutan baju yang terbuka dan ketat saat akan bertemu laki-laki itu. Om Tio. Keesokannya ibu akan memajakan Jalang dengan membelikan apapun, selalu begitu sehabis bertemu Om Tio. **** Semua usahanya itu tidaklah sia-sia, Jalang mendapatkan ruang dan posisi di antara mereka. Kini semuanya menaruh rasa percaya dan juga kagum terhadap Jalang, tak ada lagi Jalang si objek olokan. Jalang menjelma menjadi gadis populer dan idola. Di sekolah Jalang bukanlah anak yang pintar, namun ia aktif dalam semua kegiatan dan pandai bergaul, terutama pada lawan jenis. Memiliki bentuk badan dan paras seperti gadis-gadis dalam sampul majalah remaja, membuat Jalang lebih populer dari gadis lain yang ada di sekolahnya. Popularitas dan juga pengakuan dari orang-orang membuat Jalang mabuk kepayang dan juga mengabaikan sekolah. Nilai-nilainya turun, ia jarang masuk kelas karena lebih banyak bermain. Sampai suatu ketika surat itu datang, surat peringatan dari sekolah. Jalang mencium gelagat tidak baik dengan adanya surat tersebut, pasalanya itu merupakan surat yang ketiga. Muncul ketakutan dan rasa cemas yang amat sangat mengusik ketenanganya. Bayangan ibu akan menyiksa dan memutilasinya hidup-hidup menyerang fikiran jika surat itu sampai di baca oleh ibunya. Maka Jalang memutuskan untuk tidak akan memberikan dan merahasiakanya. **** Sejak pulang sekolah Jalang mengunci diri di kamar sambil memandangi dengan frustasi amplop putih di tangannya. Ia berfikir keras hingga tertawa dan menangis. Setelah mendapatkan ide, Jalang keluar dari persembunyiannya lalu masuk ke kamar ibu sebelum penghuninya datang. Diam-diam diambilah peralatan rias wajah dan juga minyak wangi milik sang ibu. Jalang telah memantapkan hatinya, ia akan mengenakannya esok untuk bertemu kepala sekolah. Ada jeritan batin yang Jalang rasakan, namun keputusannya telah bulat. Dalam hal ini ia sudah tak memikirkan lagi persoalan benar dan salah. Ini adalah sebuah titik bagaimana Jalang harus bertahan dengan jalan yang ada. Dengan cara ini, cara yang persis seperti ibu terapkan saat akan bertemu om Tio. Jalang berfikir om Tio dan kepala sekolah memiliki kesamaan, seorang laki-laki. Lalu Jalang masuk kembali ke kamarnya dan memilih dalaman yang terlihat menggoda untuk ia kenakan esok. Menjelang Jalang menjelma menjadi ibu. Untuk Jalang yang kehilangan intelegensinya
J A L A N G - Mahabebas (on Wattpad) http://my.w.tt/UiNb/YKsfRNdD5E Cerita ini tidak penah bisa kau beli meski dengan harga diri
Jalang
Ada mata tajam yang menancap dalam ingatan
Senyumnya serupa angin di musim kemarau
Aku benar-benar bingung mengapa ada dia di antara kerumunan jerami?
Kurasa tempatnya bukanlah di situ
Lebih tepatnya dia harusnya menjadi bulan di antara kerumunan bintang gemintang di langit hitam yang kelam
Sendu mulai berdatangan bersama mendung yang tak tahu arah, berjalan hanya mengikuti angin yang ribut
Dan mata tajamnya masih mengakar kuat dalam kepala
Hari-hari berlalu dengan lamban
Sebab matahari betah berlama-lama tinggal dalam pangkuan
Sedang di sana ada begitu banyak (atau mungkin hanya aku saja) yang merindukan bulan di malam yang pekatnya lebih kelam dari secangkir kopi dingin di tangan kecilku ini
Berpuluh-puluh kenangan melintas cepat dalam otakku
Diputar berulang-ulang dengan iringan musik menyedihkan
Kau pergi bersama wanita jalang itu
Kau memujanya tiada henti
Kau membiarkan dirimu dalam kegelapan asal ada dia dalam pelukanmu
Kau membiarkan dirimu melukai banyak orang, asal ada dia dalam rengkuhanmu
Kau meninggalku sebatang kara
Mengapa?
Mungkin aku lebih jalang darinya.
by: Syarifah Aini