Sore hari menjelang adzan maghrib. Kereta berhenti di stasiun Tugu, aku melangkahkan kaki keluar dengan perasaan membuncah, keinginan untuk segera melepaskan perasaan rindu. Namun rasanya semuanya begitu asing, banyak berubah, stasiun kini nampak lebih modern, mengikuti arus perkembangan zaman dan aku lihat cat tembok yang baru saja ditimpa, serta terdapat bangunan baru di sisi utara. Ah, apa mungkin ingatanku yang mulai kabur akan bangunan dan sisi stasiun yang dulu sering aku singgahi. Tentu saja, 15 tahun adalah waktu yang panjang untuk merubah banyak hal.
Waktu itu, aku ingat betul. Suatu Kamis siang menjelang sore, kita membeli tiket peron dan duduk di kursi paling ujung untuk menunggu kereta-kereta tiba. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, mau saja diajak olehmu dan membolos untuk kali pertama.
Seseorang siswa yang sering berlangganan masuk keluar ruang BK karena kepergok membolos pelajaran dan sering kali berakhir di meja kantin, tapi aku merasa kamu bukan seseorang yang patut dijauhi. Selain itu, sebenarnya aku bersyukur, jika saat itu kamu tak berada di ruang BK untuk menulis kalimat pernyataan selembar penuh portofolio, mungkin saja aku tidak akan pernah mengenalmu, sebagai teman pertamaku di sekolah baru.
"Pernah membolos?", celetukmu kala itu.
Kamu tersenyum, "Mau mencoba?" tanyamu kepadaku.
Aku hanya diam menggeleng, tentu saja siapa orang yang mau diajak membolos orang yang baru saja dikenalnya.
"Tunggu saja waktunya, suatu saat kamu pasti mau," ucapmu penuh percaya diri.
Aku mengernyit, cenderung meremehkan dalam hati, aku berkata itu tidak akan mungkin. Namun, kenyataannya waktu itu ucapanmu benar-benar terwujud.
Obrolan singkat di ruang BK itu aku kira akan berakhir di sana. Namun, seolah sudah direncana dengan kemungkinan dan kebetulan yang ada, aku tidak menyangka akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, entah tak sengaja bertemu di ruang perpustakaan atau sengaja berjanjian untuk makan bareng di kantin.
Sesungguhnya adalah suatu anomali menemukan dirimu duduk membaca buku di perpustakaan, tak banyak ditemui siswa yang membolos ternyata suka membaca buku. Apalagi buku yang sedang kamu baca saat itu, Madilog. Buku tebal, yang orang melihatnya saja sudah enggan membacanya.
"Kenapa kamu suka membolos?" tanyaku saat itu.
"Ruang kelas itu seperti penjara, sesak. Aku tak betah duduk lama-lama dan hanya berdiam diri mendengarkan."
"Kenapa?", tanyaku saat itu.
"Karena mendengarkan adalah pekerjaan yang paling berat," jawabmu begitu diplomatis.
"Iya berat. Ketika kamu mendengarkan paling tidak, kamu membutuhkan tiga indra yang bekerja secara bersamaan."
Ucapanmu kala itu selayaknya guru yang mejelaskan sesuatu kepada muridnya, aku mengangguk takzim.
"Pertama, kamu membutuhkan telingan untuk mendengar suara dan otak untuk memproses semua yang kamu dengar menjadi informasi. Kedua, kamu membutuhkan kedua mata kamu untuk memperhatikan dengan seksama, tak mungkin kedua matamu terpejam ketika guru menjelaskan berapa kecepatan buah jambu yang jatuh dari pohon, tergelincir ke genteng dan jatuh ke tanah, bukan?"
Aku tersenyum tipis mendengarnya, mana ada penjelasan soal semacam itu, "Ketiga apa?" ucapku ketika kamu tak kunjung melanjutkan.
"Kamu nggak tahu?" tanyanya.
Aku menggeleng dengan tatapan penasaran. Sedangkan, kamu kembali menatapku begitu lama tapi tak sampai membuatku risi, "Tersenyum."
"Tersenyum?" Aku merasa salah mendengar dan menatap sangsi wajahmu yang kala itu nampak serius.
"Mbak, jangan terlalu serius mendengar ucapan seorang anak SMA yang pengalaman hidupnya baru secuil kapur tulis yang mau habis. Bisa tersesat dan aku nggak mau tanggung jawab nantinya," ucapmu kemudian.
Aku menggeleng, menurutku perkataanmu memang benar, kecuali tindakanmu yang membolos saat itu.
"Ketiga, hidung untuk bernafas, nggak mungkin orang mendengarkan tanpa bernafas. Sekali lagi, tolong jangan serius banget, dari tadi lho Mbak melotot seolah lihat hantu."
Aku refleks melebarkan mata.
"Tuh kan, aku sudah bilang jangan melotot Mbak," ucapmu dengan tertawa renyah. Suara tawa yang nyaman didengar.
Aku saat itu hanya tersenyum kecil, meskipun sebenernya itu tidak lucu, dan guru yang berada di pojok ruangan kembali melirik kami mengisyaratkan untuk tenang.
Setiap hari kecuali tentu saja hari Minggu, hampir tak jemu kita mengobrol banyak hal. Saling bercerita dan membuka sisi dari diri kita masing-masing, yang mungkin tak pernah diceritakan kepada orang lain.
Satu minggu berganti bulan, dan bulan demi bulan terlewati, tak terasa satu tahun kita menjalin hubungan pertemanan. Kamu masih sama, suka membolos meskipun sudah berulang kali menulis berlembar-lembar kalimat pernyataan bersalah. Sedangkan aku, masih saja tidak bisa menebak apa yang kamu pikirkan.
Seperti saat kita duduk memakan somai langgananmu, di depan sekolahan. Aku memikirkan ucapan teman sekelasku tetang kamu yang dianggap sebagai anak berandalan, tukang bolos dan tidak punya masa depan.
Pernah seorang teman sekelas bilang kepadaku, "Kinan, kamu nggak tahu? Arkan itu pernah mau dikeluarkan. Dia itu madesu, apa sih gunanya berteman dengan dia. "
Aku menarik nafas lelah, menatap somai di depanku.
"Hei, aku tahu kamu memang pendiam. Tapi hari ini kamu seperti orang sakit gigi. Apakah tidak enak?"
"Kamu nggak denger ghosip?"
"Ghosip apa? Pandangan negatif orang lain tentangku?"
Aku menipiskan bibir, mengaduk somai tapi enggan untuk memakannya, "Iya", jawabku.
"Kinan, kamu itu terlalu pemikir. Aku tak pernah memusingkan hal itu," ucapmu begitu mudah.
"Arkan, tapi menurutku itu tidak benar."
"Berhenti memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Lagi pula hidup kita seutuhnya milik kita, bukan milik mereka dan begitu sebaliknya. Selagi kita tidak merugikan orang lain, kenapa kita harus memusingkan penilaian orang lain, itu tidak perlu."
Percapakan itu berakhir, dengan maklumat aku harus ikut membolos denganmu, katamu hidupku begitu kaku dan aku harus melakukan suatu dobrakan dengan ikut membolos.
Peron adalah tempat favoritmu. Aku masih ingat, saat aku tanyakan alasanya kenapa kamu memilih peron sebagai tempat membolos, sedangkan sejak awal kamu bilang tak sanggup duduk terdiam begitu lama. "Di sini, aku lebih bebas dan aku bisa mengobrol dengan banyak orang. Kamu juga bisa melihat berbagai perasaan tulus, orang-orang. Perpisahan terkadang membuat mereka jujur dengan apa yang mereka rasakan. Liatlah seseorang wanita muda yang berdiri sendirian itu, dia memakai baju biru tua."
Aku mengikuti arah pandangmu.
"Wanita itu baru saja terpisah dengan orang yang dia sayangi, wajahnya terlihat sendu, berusaha tegar meskipun air matanya akan keluar."
Aku masih diam dan mengamati orang yang kamu maksud.
"Kamu bisa melihatnya kan?"
Aku tertegun, menggeleng beberapa kali, tersenyum miris. Apakah aku mulai kehilangan kewarasaan?. Aku melihat bayangaan diriku sendiri.
Suaramu itu sungguh amat nyata, tapi aku tahu sampai kapanpun keberadaanmu tidak akan bisa jadi milikku lagi. Semua sudah terlewatkan dan hanya akan menjadi kenangan. Saat aku melihat, seseorang wanita seusiaku berjalan ke arahku menggendong seorang anak kecil yang terlihat mirip denganmu.
"Memang benar perpisahan mengajarkan seseorang banyak hal, tapi selebihnya akan ada rasa sesal ketika kamu tak bisa mengikuti kata hatimu."