April #2 : melalui ketakutan terbesar
Hari ini, setelah hampir 2 bulan menghindar, akhirnya berhasil melalui satu ketakutan paling besarku, yaitu menghubungi seseorang untuk mengakui kesalahan. Ternyata ketakutan terbesarku bukan ketika harus mencoba hal baru, beradaptasi, atau bepergian sendirian. Ketakutan terbesarku adalah mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan membuatku takut akan mengecewakan orang lain. Karena seringnya, aku berusaha sebisa mungkin membantu dan memperbaiki. Ketika ternyata malah aku yang melakukan kesalahan, itu menjadi sebuah ketakutan untuk mengakuinya kepada orang lain. Diriku mudah menerimanya. "Semua orang melakukan kesalahan". Namun ketika berdampak pada orang lain, aku begitu merasa bersalah dan ketakutan.
Sejak 1 bulan lalu aku sudah berniat menghubungi beliau, namun selalu tertahan dengan ketakutan yang akhirnya beralih mencari-cari kesibukan lain berharap dapat melupakan rasa takut ini. Padahal nyatanya, tiap detik aku menunda, maka tiap lapis pula tertumpuk rasa takut dan pikiran buruk itu. Membuat-buat skenario aneh di kepala, genre horor hingga thriller yang mengalahkan film layar lebar tahun ini.
Maka, ketika akhirnya aku memaksa diri untuk menghadapi ketakutan ini, ternyata rasanya cukup lega. Lega bukan karena beliau langsung memaafkan atau menjawab pesanku dengan sangat baik, namun lega karena aku berhasil memecahkan cangkang ketakutan itu dan keluar dari pikiran buruk yang mengandangiku 1 bulan ini. Balasan beliau tentu mendatangkan rasa bersalah yang sudah aku perkirakan, bahkan lebih. Namun, melihat langkah berani yang aku ambil sebelumnya, aku seperti punya cahaya keberanian untuk menghadapi hal-hal berikutnya.
Seperti sebelumnya, aku pasti bisa menghadapi ini dan akan merasakan lega yang sama seperti sebelumnya
Maka, untuk ketakutan-ketakutan yang bergelantung di atas kepala, semoga engkau berani melaluinya satu-satu. Jika tidak satu-satu, setengah setengah atau sepertiga sepertiga tak masalah. Karena setiap yang engkau lalui akan mendatangkan keberanian untuk melalui ketakutan berikutnya.
-Challange Menulis 30 Hari













