10 Hari Berbagi Cerita dan Pikiran
Day 6: Laksana Bola Salju (from Al-Hakim with Love)
Tanggal 7 Desember tiga hari lalu, di sore yang melelahkan tetapi dipenuhi kehangatan, sembari rebahan setelah berkegiatan tanpa istirahat sejak hari sebelumnya, sebuah frasa tiba-tiba hadir di kepala: pertemuan laksana bola salju. Sore ini, frasa itu saya jadikan judul untuk melanjutkan seri 10 hari menulis yang sejak 29 November kemarin saya jeda.
Sembari berpikir untuk menyederhanakan pikiran yang kompleks sampai berkecamuk, saya membuka riwayat chatting, lalu mendapati diri saya tersenyum pada rangkaian kejadian yang membawa ke titik ini.
Keyword untuk tahun 2025 adalah 'pertemuan'. Pertemuan yang membawa banyak momen kebersamaan yang penuh kehangatan. Pertemuan yang menjadi medium tercetusnya banyak ide yang lalu direalisasikan sebagai upaya menghadirkan kebaikan dan meninggalkan jejak keberadaan di kota ini, di bumi ini, dalam hidup yang entah sampai kapan ini.
Pertemuan manusia itu kadang ajaib. Polanya acak, ritmenya cepat, lalu di satu titik kita menyadari, kita sudah menjadi bagian berarti dari kehidupan satu sama lain.┬а
Semua bermula dari rangkaian kegiatan Ramadhan hingga Idul Fitri, lalu kegiatan Idul Adha, lalu rangkaian kegiatan Agustusan, lalu sarapan soto di suatu Ahad usai kajian, yang kemudian berlanjut pada beberapa sesi makan bersama, berakhir pada terbentuknya sebuah komunitas yang menyenangkan.┬а
18 Oktober lalu, sebuah pesan datang tanpa aba-aba, mengajak ke panti asuhan. Niat tersebut kemudian diteruskan kepada yang lain, dan laksana bola salju, menggelinding menjadi besar. Kurang lebih satu setengah bulan sejak hari itu, agenda kunjungan ke panti asuhan menjadi fokus kami di tengah kesibukan masing-masing.
Begitu banyak yang bisa diceritakan dari rangkaian panjang persiapan, begitu banyak kehangatan yang bisa diresapi, begitu banyak pembelajaran yang bisa dimaknai dan dibagikan.┬а
Namun, ada satu hal yang ingin saya highlight.┬а┬а
Betapa merupakan sebuah privilege ketika kita mampu mengelilingi diri dengan manusia-manusia yang meskipun karakternya berbeda-beda namun memiliki energi yang sama dalam hal kemanusiaan dan kepekaan sosial.
Di dunia yang sudah overcrowded dengan manusia-manusia tone-deaf dan miskin empati ini, betapa melegakan bahwa kita masih diizinkan Tuhan untuk mengupayakan kebaikan, bukan agar merasa sudah menjadi baik, tetapi sebagai pengingat bahwa kita hanya seonggok daging tanpa arti jika tanpa nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang pada sesama.
Di dunia yang seringkali terasa mendesak, menyudutkan, dan mudah sekali membuat manusia lupa bersyukur, betapa menenangkan bahwa kita masih mampu mempersepsikan anugerah dan mendoakan anugerah yang sama untuk orang lain.
Di dunia yang penuh tuntutan dan mudah sekali menjebak manusia menjadi egois dan hanya melihat diri sendiri, betapa melapangkan bahwa kita masih diizinkan untuk melihat realita kehidupan di sekitar kita dan mengusahakan yang terbaik untuk menjadi setitik oase dalam realita itu.
Di dunia yang segala sesuatu bergerak begitu cepat, betapa bersyukur kita masih mampu untuk berhenti sejenak dan mengizinkan diri untuk merenungkan kehidupan dan hakikat menjadi manusia di bumi Allah.
Dalam perjalanan menyusuri garis kehidupan yang entah membawa ke mana dan berhenti di mana,
dalam himpunan persinggungan garis kehidupan sekelompok manusia yang sedang menghitung waktu menuju perpisahan yang tak bisa dihindari,
betapa menjadi sebuah catatan kehangatan dan kebanggaan,
bahwa kita pernah bersama, membagi sebanyak yang kita bisa dari tenaga dan pikiran, untuk memulai satu kebaikan kecil, yang semoga laksana bola salju, terus membesar dan menggelinding tanpa akhir.
















