Memoar Pujangga Pendusta
Aku belajar menulis bukan untuk mengatakan kebenaran, melainkan untuk membuatnya terdengar indah.
Sejak kecil, aku percaya bahwa kata-kata lebih kuat dari kenyataan. Kenyataan sering kali kasar, patah, dan tak selesai. Tapi kalimat—ah, kalimat bisa dijahit rapi. Ia bisa menutup luka, menyembunyikan aib, bahkan mengubah kegagalan menjadi legenda kecil yang memabukkan.
Aku tumbuh sebagai pemuja diksi. Di rak kamarku terselip bayang-bayang para penyair: dengan amarah mudanya, dengan hujan yang tak pernah benar-benar reda, dan dengan palu yang menghancurkan moralitas. Dari mereka aku belajar satu hal: kebenaran bukan sesuatu yang utuh—ia adalah tafsir yang paling meyakinkan.
Dan aku ingin menjadi yang paling meyakinkan.
Aku pernah menulis tentang cinta seolah-olah aku pernah memilikinya sepenuhnya. Padahal yang kumiliki hanya bayangan, percakapan singkat, dan penolakan yang tak pernah selesai. Aku pernah menulis tentang kehilangan seolah-olah aku telah berdamai dengan kematian. Padahal setiap malam aku masih takut pada sunyi. Aku menulis tentang keberanian, padahal dalam hidup nyata aku sering menunda langkah, seperti prajurit yang menunggu perang usai tanpa pernah bertempur.
Aku adalah pujangga pendusta.
Tapi dengarlah: dustaku bukanlah kebohongan murahan. Ia adalah upaya menyelamatkan harga diri. Di dunia yang mengukur manusia dari capaian dan saldo, aku memilih membangun kerajaan dari metafora. Jika aku tak bisa menjadi pahlawan dalam kehidupan, setidaknya aku bisa menjadi pahlawan dalam paragraf.
Ada saat-saat ketika aku bertanya: apakah aku menipu pembaca, atau justru menyelamatkan mereka? Bukankah setiap orang ingin percaya bahwa cinta bisa abadi, bahwa luka bisa sembuh, bahwa manusia bisa berubah? Jika aku menulisnya dengan cukup indah, mereka akan percaya. Dan dalam kepercayaan itu, mungkin ada sedikit kebenaran yang lahir—meski berasal dari dusta.
Aku mulai sadar, pendusta sejati bukanlah ia yang mengarang cerita, tetapi ia yang takut mengakui rapuhnya diri. Aku takut disebut gagal. Takut dianggap biasa. Maka aku membungkus diriku dengan kalimat-kalimat kontemplatif, istilah-istilah filsafat, dan nada eksistensial yang terdengar dalam. Padahal yang bersembunyi di baliknya hanyalah seorang lelaki yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Aku menulis untuk terlihat kuat. Aku menulis untuk terlihat dalam. Aku menulis agar tidak terlihat kosong.
Ironisnya, justru dari kekosongan itu lahir tulisan terbaikku.
Kini, saat usia tak lagi muda dan cermin tak lagi ramah, aku mulai berani mengurangi metafora. Aku belajar menulis tanpa topeng. Tidak semua luka perlu dipuitiskan. Tidak semua kegagalan perlu dijadikan alegori. Ada kalanya kebenaran cukup ditulis apa adanya—tanpa hiasan, tanpa kebesaran palsu.
Aku masih pujangga. Tapi aku tak lagi ingin menjadi pendusta.
Jika suatu hari kau membaca tulisanku dan merasa tersentuh, ketahuilah: mungkin itu bukan karena aku pandai merangkai kata, tetapi karena akhirnya aku berhenti bersembunyi di baliknya.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, puisiku tak lagi menjadi dusta—melainkan pengakuan.

















