Lantas, apa cinta yang sederhana itu dapat menemukanku yang sudah terlanjur hidup dalam kerumitan?
Sejak awal, aku terkait dan terikat pada apa yang terasa rumit. Bahkan untuk sesederhana dicintai sebagaimana diriku oleh mereka yang mengadakanku di bumi, aku harus menempuh jalan yang rumit untuk anak seusiaku saat itu.
Rumit itu mulai memiliki jeda ketika aku yang dapat menjadi diriku sendiri di hadapan mereka yang darahnya tak bertaut dengan darahku, lalu menjadi manusia yang seratus delapan puluh derajat dari itu ketika pulang ke tempat yang disebut rumah. Saat itu pertama kalinya aku mengerti tentang cinta yang sederhana sambil tetap berkutat pada rumit.
Lalu ketika aku dewasa, aku memiliki kesempatan untuk berkutat dengan segala yang rumit dan sederhana. Sayangnya, aku belum sempat menemukan titik tengahnya, aku harus kembali menerima bahwa pada dasarnya, rumit itu bukan hanya ada di depan mataku, rumit itu mengelilingiku bahkan mengalir di darahku.
Seperti menjadi waras di antara kehidupan yang gila. Mereka waras, akulah yang gila.
Jika sejak awal, rumit ini bukanlah pilihanku, apa boleh beri aku kesempatan untuk mencari pola sederhana milikku terlebih dulu? Jika saat ini aku belum memiliki ruang untuk menjadi waras, bisakah aku mohon untuk menungguku untuk sedikit lebih waras? Untuk sedikit lebih kembali menjadi diriku.
©antasmira