Darinya Aku Belajar Menjadi Tangguh
Mama adalah sosok wanita yang tangguh. Darinya aku belajar tentang sebuah cara hidup untuk tidak mudah menyerah dan sangat berkemauan keras.
Kenangan yang ku ingat tentang mama semasa ku kecil adalah ia bukan lah sosok wanita yang mudah bermanja-manja kepada sosok laki-laki. Ia terbiasa mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Bahkan untuk sesuatu yang berat seperti mengubah tata letak perabotan, mengecat rumah, ia lakukan tanpa meminta bantuan siapapun.
Tak hanya urusan tata letak rumah, mama yang ku ingat dalam ingatan masa kecilku adalah sosok ibu yang penuh talenta. Masakan yang dibuat mama begitu istimewa. Dari irisan cabenya yang begitu rapi, aroma masakan yang harum serta rasa masakan mama yang khas membuat keseluruhan indera yang ku punya mengingatnya dengan begitu jelas hingga detik ini. Masakan mama adalah kudapan terenak sekaligus tanda cinta paling aku rindukan di sepanjang hidupku.
Masakan Mama Penawar Rinduku
Jika ditanya masakan apa yang paling ku suka yang dibuat mama, jawabannya adalah semuanya. Aku sangat menyukai semua yang mama buat dengan tangannya. Cumi kuah hitam, ayam dikecapin, sup kepala ikan kakap, sambal goreng udang, sop iga dengan bumbu rempah yang komplit, nasi goreng bumbu terasi, rendang lebaran, lontong isi oncom, lopis, combro, sayur ketupat, nastar, kue sagu keju dan masih banyak lagi.
Yang sering kuperhatikan mama selalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak dengan kualitas terbaik dan diolah dengan cara yang paling baik.
Aku masih mengingatnya bagaimana suasana lebaran setiap tahunnya. Dua hari sebelum lebaran adalah hari paling sibuk dan melelahkan bagiku dan saudara perempuanku yang lain.
Kami menyiapkan aneka kudapan istimewa yang sangat menguras tenaga. Dimulai dari belanja bahan-bahan di pasar. Mencuci, memotong, mengiris, menghaluskan, memarut sampai akhirnya semua diramu sedemikian rupa.
Ada satu hal yang paling melelahkan diantara yang lain, yakni mencabuti bulu ayam. Entah tradisi ini sudah dimulai sejak kapan. Masak kudapan lebaran benar-benar dimulai dari nol. Dari ayam masih berkokok, kemudian dipotong dan dibersihkan bulu-bulunya.
Kanvas dengan Beragam Warna
Masa kecil yang ku jalani jika digambarkan pada sebuah kanvas, tentu isinya penuh dengan beragam warna.
Apapun yang mama lakukan sangat mempengaruhi bagaimana kanvas hidupku bergerak dan menorehkan warna di setiap sudutnya.
Sewaktu ku kecil, mama banyak mencoba hal-hal baru. Mulai dari belajar potong rambut dan berujung membuka salon di rumah, berjualan sembako di warung, menerima pesanan kue kering untuk lebaran, sampai membuat tas dan cindera mata dari manik-manik.
Hampir semua yang mama lakukan ada aku disana. Secara tidak langsung aku ikut bertumbuh sebagaimana mama bertumbuh. Aku belajar dan banyak memperhatikan ketika mama sibuk menjalankan salonnya, aku ikut belajar memajang produk jualan, melayani pembeli, belajar menjalankan transaksi jual beli, belajar membuat kue dan belajar untuk membuat berbagai produk handmade dari manik-manik.
Aku masih mengingatnya dengan jelas bagaimana aku pernah dimarahi mama karena suatu hal yang aku lupa alasannya. Lalu aku mengambil stok manik-manik di etalase milik mama. Kemudian aku membuat tas kecil yang polanya aku design sendiri.
Lalu mama memujiku, karena tas yang ku buat desainnya unik dan akhirnya dicontoh untuk diduplikasi lagi. Saat itu aku banyak mengenang tentang sosok ibu yang serba bisa. Ibu yang begitu kreatif. Ibu yang tak berhenti belajar. Ibu yang terus memacu dirinya untuk terus berdaya.
Rembulan yang Paling Memukau
Aku sangat bersyukur melewati ruang dan waktu bersama mama dengan segala warna yang ada. Aku melihat, ikut mencoba dan memiliki kenangan masa kecil penuh dengan pengalaman. Bisa dibilang aku tak perlu mengikut berbagai kursus dan magang ditempat kerja karena masa kecilku betul-betul ditempa lewat mama. Biidznillah.
Namun disudut ruang yang lain, aku begitu merasa hampa. Perasaan kosong, gelap dan sepi rasanya begitu penuh menyelimutiku.
Wajah mama yang begitu cantik, tak selalu bisa ku pandang setiap hari. Bahkan tangannya tak bisa selalu ku enggam. Apakah tangan mama hangat? Apakah telapak tangannya halus atau kasar? Aku tak pernah tau bagaimana suara detak jantung mama. Apakah sangat menenangkan seperti yang selalu ku dengar dari teman-teman yang lain?
Bagiku mama adalah rembulan yang begitu memikau dengan sinarnya yang berkilau. Namun ia hanya bisa ku lihat dari kejauhan. Tak mudah ku temui, tak mudah ku gapai. Aku selalu merasa, bagai pungguk yang merindukan sang rembulan.
Jubah-jubah yang Ku Letakkan
Kini, aku sedang menjalani fase ku sebagai seorang ibu. Apa yang terasa begitu menyakitkan dan memilukan sebagai seorang anak dahulu, ku upayakan sekuat tenaga untuk bisa melawan arusnya, memilih cara dan jalan yang berbeda dari fase kehidupanku sebelumnya.
Mama dulu sangat aktif mengembangkan dirinya. Aku tak punya banyak memori bersama mama. Yang terpatri dalam ingatanku adalah aku dititipkan di rumah mbah sedari pagi lalu menunggu hingga senja tiba untuk dijemput pulang. Namun berulang kali ku tunggu tak jua kunjung datang baik mama dan bapak. Alhasil mbah lagi dan lagi yang memulangkanku. Bersama dengan becak yang tertutup tirai dari plastik atau dengan tirai yang digulung melipat pada ujung atas penutup becak.
Mama selalu bahagia dengan dunia yang berputar di dekatnya. Namun aku merasa dunia mama selalu sulit untuk ku gapai. Rotasiku semakin menjauh dari lintasan orbitnya.
Itulah mengapa hari ini aku memilih menjadi ibu penuh waktu. Jubah-jubah kebesaran itu telah ku letakkan tanpa menamainya sebagai pengorbanan. Aku tak ingin anak-anak kesulitan menggapaiku. Aku tak ingin mereka selalu merasa kesepian karena menunggu. Aku tak ingin mereka berjarak dengan lintasan orbit yang begitu jauh karena tak pernah biasa ada aku dalam ingatan kecilnya.
Aku memilih jalan ini bukan karena banyak membenci dan menyimpan rasa sedih dan amarah. Tapi, jalan ini adalah caraku kembali untuk bisa melepaskan rantai yang membelenggu. Jalan ini adalah sebuah kesempatan keduaku untuk memutus rantai yang berpotensi untuk terus berputar tanpa henti.
Memutus Rantainya Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan
Tak ku sangka nyatanya memilih untuk memutus rantainya tak semudah membalikkan telapak tangan. Semakin ingin ku putus rantainya, semakin sering tubuh ini mengingat rasa yang telah lama ku benamkan. Bagai putaran scene dalam sebuah film yang hanya aku yang tau betul bagaimana ia mampu membangungkan dan menghadirkan kembali emosi-emosi itu.
Aku mengingatnya kembali dengan rasa yang sama. Terkadang aku merasa marah, sedih, dan kecewa kembali. Tanpa diminta tanpa diundang tapi ia kembali membawa pesan seolah-olah menjadi sebuah pintu untuk menuntaskan, melepaskan, dan memulai perjalanan baru.
Dulu aku selalu menebak-nebak mengapa mama tak seantusias itu dengan anak perempuan? Apakah karena terlalu jenuh karena di fase sebagai anak, mama tumbuh bersama dengan enam saudara perempuannya? Atau memang aku tak seberharga dan seistimewa itu sebagai seorang anak dimata mama?
Aku mulai membaca ritme yang mama tunjukan lewat sikap tanpa sepengetahuannya. Seringnya, senyum mama merekam dan begitu antusias ketika membicarakan segala hal tentang anak laki-lakinya. Mama selalu menghadirkan hadiah istimewa yang tak pernah ia siapkan juga untuk anak perempuannya. Mama selalu menyiapkan berbagai kudapan istimewa untuk menyambut kedatangan anak laki-lakinya. Bahkan hanya foto anak laki-lakinya yang selalu terpajang di sudut dinding kamarnya. Tak sungkan mama bilang, anak laki-lakinya adalah malaikat penolong untuk mama di depan kami anak perempuannya.
Mama secara terang benderang mengungkapkan kecenderungan hatinya. Dan sepanjang aku bertumbuh di dekatnya, tubuhku mengingat sebuah rasa yang memilukan bahwa aku tak seberharga itu. Aku tak ayal seorang anak yang tak betul-betul diharapkan. Nyala hatiku berangsur-angsur mulai padam. Entah karena terlalu lama atau terlalu seringnya menerima pengabaian.
Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan
Aku sangat menyukai mama. Tapi cintaku selalu bertepuk sebelah tangan. Aku berusaha mengemis kasih sayang dan perhatian mama dengan menjadi anak yang menyenangkan mama. Anak yang tak banyak protes dan selalu nurut, anak yang berusaha mandiri agar tidak merepotkan, anak yang mengupayakan apa yang mama inginkan meski harus menambal sulam kesulitanku.
Aku terus merayu mama dengan caraku bersikap. Aku sering memendam suaraku. Sering juga membenamkan asaku. Asal mama menerimaku dengan senyum dan kasih sayangnya.
Jalan yang ku telusuri nyatanya begitu terjal dan mahal. Dalam kamus mama, tak ada kasih sayang tanpa uang. Tak ada kasih sayang ibu sepanjang masa bila tanpa memberikan kebahagiaan lebih dulu kepada mama.
Aku pernah membelikan cincin emas di hari ibu untuk mama. Ku beli dari uang yang dikumpulkan dari gaji mengajarku beberapa bulan. Aku membelinya sebagai bentuk rasa cinta dan syukurku kepada mama. Hadiah yang ku siapkan dengan hati penuh dan peluh. Ku berharap mama menyukainya. Namun, cincin itu tak berumur panjang. Mama menjualnya meski tanpa ku berikan suratnya.
Jangan tanya bagaimana kondisi hatiku. Hatiku patah lagi untuk kesekian kalinya. Meski demikian, aku terus mengulanginya tanpa jera. Aku bukan bodoh dan tidak peka, hanya masih menyimpan nyala harapanku. Suatu saat pintu hati mama terketuk lalu berangsur-angsur menemukan jalannya menjadi seorang ibu sesungguhnya.
Aku bukan tak berupaya menemukan sudut ruang yang tak ditampakkan oleh mama seperti yang aku lakukan sebelumnya, menemukan ruang bapak yang kutemui secara diam-diam.
Mamaku, mungkin punya luka yang samar-samar pernah ia ceritakan. Tapi kali ini aku sangat kesulitan membedakan dimana hitam dan putih itu ditampakkan. Tumpang tindih antara kebenaran pasti dengan sebuah potret kehidupan yang telah dihiasi dengan opini pribadi yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi.
Mama tak pernah mau jujur dan menampakkan sisinya seapadanya. Entah karena tingginya tembok arogansi atau terlalu sulit baginya melepas topeng yang menampakkan dirinya yang sebenarnya.
Padahal berulang kali ku ungkapkan, ia tak mesti terlihat begitu dermawan dan baik hanya untuk diakui oleh lingkaran pertemanan. Cukup menjadi ibu seapadanya saja, dan kami akan selalu menjadi tempat pulang paling aman yang menerima mama dan menyayangi mama tanpa perlu menyematkan hiasan yang dibuat-buat.
Entah bagaimana alur kehidupan membentuk mama hingga menjadi seperti ibu yang pada akhirnya membawaku meniti jalan untuk menyembuhkan diri, aku tak lagi mau menyimpan bongkahan batu yang menyesakkan dada. Aku tak perlu lagi mencari dimana ruang yang tak pernah mama tampakkan itu.
Mama mungkin banyak menanggung pilu dan terluka namun ia tak pandai menyadari lukanya sehingga ia tak pernah tahu caranya memberi ruang untuk dirinya bisa pulih sepenuhnya.
Pungguk yang Merindukan Sang Rembulan
Menjadi aku si pungguk yang merindukan sang rembulan, bahkan luapan rindu yang membuncah tak pernah bisa sampai menemui tuannya. Sudah merindu, malangnya pun bertepuk sebelah tangan.
Begitulah cerita hidupku sebagai anak yang tumbuh dan dibersamai oleh ibu yang lebih mencintai bayangannya ketimbang kehadiranku.
Mama bagai mentari yang selalu menuntut semesta untuk berputar mengelilinginya namun enggan memberikan secercah kehangatan untuk aku yang mengais sebuah dekapan kala dingin menusuk tulangku.
Cahaya terang yang mama punya tampak menyilaukan bahkan untuk setiap mata yang memandang, namun sayangnya sinarnya tak benar-benar menerangi jalanku bahkan sekedar untuk kembali pulang.
Dibawah naungannya, tangisku tak punya tempat tak ubahnya bagai riuh angin yang berhembus dan berlalu begitu saja baginya. Namun untuk mengukir senyumannya, ia selalu menuntut tepuk tangan yang sangat meriah.
Perasaanku juga tak pernah punya ruang dalam bilah semburatnya kecuali kemegahan akan jingganya lebih dulu mendapatkan sanjungan yang mampu memenuhi ruang istimewa miliknya yang tak berkesudahan.
Dari kemegahan mentari aku banyak belajar bahwa memutuskan untuk mencintainya artinya bersiap untuk selalu mengkerdilkan diriku. Manisnya kata darinya adalah cambuk yang sangat menyakitkan dimana aku harus bersiap menerima sebuah kenyataan yang memilukan. Ketenangan yang tampak tak serta merta membuatku merasa aman, karena seringkali di dalamnya terdapat arus hebat yang meluluh lantahkan.
Aku tumbuh dengan perasaan bersalah yang bukan milikku, juga memikul beban emosi yang tak pernah aku titipkan.
Akulah si pungguk yang setia menatap sang rembulan. Bukan karena ia tak nampak indah, melainkan karena ia terlalu jauh dan sukar untuk ku dekap.
Dan diantara jarak itu aku tersadar bahwa tak semua ibu mampu menjadi rumah. Sebagiannya layaknya rembulan yang hanya bisa dipandang dari kejauhan namun tak pernah benar-benar bisa menjadi rumah untuk ditinggali.