Menjadi atau tak pernah terjadi, begitulah kira-kira. Bersinggungan, terus terpaut, lalu saling berangan bak Romeo dan Juliet.
Malam selalu punya cara menelanjangi sunyi. Di antara dengung lampu dan detik yang tak pernah letih berlalu, aku duduk memunggungi dunia, bertanya pada diri sendiri: lebih baik menjadi, atau tetap abadi sebagai sesuatu yang tak pernah terjadi?
Ada ruang dalam dada yang tak tersentuh kata-kata; ruang tempat segala kemungkinan berdiam, menunggu dilahirkan atau dilupakan. Di sana, ribuan versi diriku menggigil – yang berani melangkah, yang memilih diam; yang jatuh dan bangkit, yang tak pernah berani jatuh karena tak pernah benar-benar hidup.
Kadang aku iri pada angin. Ia tak ragu melintas, sekalipun tak meninggalkan nama. Sedang aku, terlalu takut menjadi luka, hingga memilih tidak menjadi apa-apa. Tapi bukankah tidak pernah terjadi justru lebih sunyi daripada menjadi dan patah berkali-kali?
Mungkin, menjadi itu bukan soal berhasil atau hancur, melainkan tentang menandai bahwa aku pernah ada – walau sebentar, walau hanya sebagai gemetar di tepi detik. Sebab apa arti hidup kalau hanya jadi wacana yang digenggam erat tanpa pernah membiarkannya menyeberang ke kenyataan?
Jika esok masih datang, aku ingin menyapa dunia bukan sebagai kemungkinan yang ragu, tetapi sebagai kenyataan yang meski rapuh, berani ada. Sebab tidak pernah terjadi adalah abadi dalam penyesalan, sementara menjadi – meski hanya sebentar – adalah tanda bahwa aku telah melampaui diam.
Maka malam ini, biarlah aku tak sempurna, tak utuh, mungkin bahkan tak dikenang. Tapi biarlah aku menjadi… setidaknya sekali, agar aku tahu rasanya benar-benar hidup sebelum hilang.
Batujajar, 26 November 2025 | siplatonik














