Sepenggal cerita yang dahsyat sebagai inspirasi
Setelah sekian lama, sudah tidak pernah menulis di blogku sendiri. Judul blogku kali ini diberi judul "Sepenggal cerita yang dahsyat sebagai inspirasi". Kenapa judul ini yang saya angkat? karena menurut saya, cerita-cerita yang akan dituliskan disini benar-benar dapat digunakan sebagai inspirasi bagi Anda yang membacanya. Tanpa basa basi lagi, saya akan mulai bercerita.
Dimulai dengan ketidakcocokan saya sebagai salah satu karya di sebuah PT di Surabaya. Ketidakcocokan ini saya mulai rasakan terakhir-terakhir ini. Memang dulu hanya emosi semata karena pimpinan saya sama sekali tidak ada rasa respect terhadap karyawannya. Respect disini dapat saya jelaskan bahwa saat kita sudah selesai mengerjakan sesuatu dan meminta tolong agar diperiksa segera dengan harapan jika ada yang tidak cocok/ ada eror (karena saya bekerja di perusahaan IT dan menjabat sebagai desainer web) dapat segera dibenahi. Namun pada kenyataanya, sang bos/ pemimpin mengulur-ulur waktu sampai deadline penyerahan tugas. Alhasil, dapat kalian tebak, Beliau marah-marah karena ada eror, desainnya tidak sesuai dengan PSD, CSS dan HTMLnya kacau berat. Disini kami (saya dan teman-teman seprofesi) juga merasa jengkel dan kesal akan tingkah lakunya. Kami merasa Beliau tidak serius menangani proyek ini, hanya tahu memarahi kami jika ada kesalahan-kesalahan. Sejak itu, jujur sekali saya amat sangat dongkol dalam hati. Sempat berpikir bahwa pimpinan saya sudah tidak peduli dengan perusahaan. Namun, saat istirahat/ break lunch bersama anggota-anggota lainnya, saya disadarkan oleh salah satu teman "Ya itu memang sudah tabiat dari bos kita, kita bisa apa-apa, kita sebagai karyawan hanya bisa belajar cara management perusahaan ini dan diharapkan nantinya tidak diterapkan di kemudian hari". Dari situ, saya berusaha memaafkan Beliau, mulai menerima beliau apa adanya dan tetap menunjukkan performa kerja.
Akhir-akhir ini, saya mengerjakan sebuah projek sebuah katalog website. Di sini saya benar-benar ditantang sebagai desainer dapat mendesain dan mengcoding sebuah website. Betapa tersiksanya saya, mengerjakan coding 1 halaman saja sudah berhari-hari bahkan minggu karena beberapa halaman ada pemrograman jQuery (salah satu istilah coding website yang digunakan untuk membuat slide show, animasi ataupun light box). Namun, penyertaan Tuhan sangat luar biasa, disana mata saya dibukakan bahwa apa yang saya pelajari amat sangat berguna dikemudian hari. Saat proyek itu sudah selesai, saya laporkan kepada Beliau. Pertama, respon beliau amat sangat positif dan menyambut gembira atas report saya. Namun lambat laun respon yang saya tangkap menjadi biasa. Saya tidak tahu kalau pekerjaan ini sudah selesai harus mengerjakan tugas apa lagi, seperti tidak diberi pekerjaan dan yang paling parah "MAKAN GAJI BUTA". Mungkin bagi beberapa orang, makan gaji buta (tidak mengerjakan apa-apa tetapi masih mendapatkan uang) itu enak, bagi saya tidak. Saya merasa amat sangat berdosa dengan Tuhan. Bukan munafik atau sok-sok ke-Tuhan-an namun ini benar apa adanya. Saya masih muda, saya bisa melakukan segala hal, saya sudah diberi talenta yang besar oleh Tuhan, namun mengapa tidak saya gunakan sebaik-baiknya?? Mengapa saya harus bekerja enak-enakan?? Jujur itu sangat tidak adil jika kita bandingkan dengan orang yang cacat. Orang yang cacat saja, masih berusaha keras agar mereka dapat menghidupi diri sendiri tanpa belas kasihan orang lain, bahkan diantara mereka ada yang menikah walaupun fisiknya tidak selengkap kita.
Setelah peristiwa MAKAN GAJI BUTA itu, saya berpikir jika terus-terusan disini, saya tidak akan maju dan pasti akan stagnan (tetap), maka dari itu saya memutuskan untuk mencari perusahaan lain agar saya dapat berkembang baik dari segi hard skill maupun soft skill. Mulailah proses lamar melamar, ada yang di Surabaya dan ada pula yang di Jakarta. Masalah mulai muncul ketika saya dipanggil wawancara ke Jakarta, saat itu saya tidak berpikir panjang karena memang ingin mendapat tempat yang layak, saya iyakan ajakan/ tawaran mereka. Namun, apa yang terjadi ketika saya sampaikan berita ini ke orang tua??? Orang tua saya sangat MARAH. Mereka mengatakan "Untuk apa kamu kerja jauh-jauh??Cewek itu gak perlu jauh-jauh kalau kerja, kalau kerja cukup di Surabaya saja, yang harus kerja keras itu cowok" dan satu hal yang membuat hati saya pilu. Nama pacar/ kekasih saya dibawa-bawa seolah-olah dia lah yang menyuruh saya untuk berangkat ke Jakarta. Padahal saya tidak terbesit pikiran seperti itu. Saya mendaftar/ melamar ke perusahaan Jakarta memang awalnya iseng dan atas dorongan teman-teman sekantor namun takdir dan kehendak Tuhan berkata lain. Waktu itu saya sangat marah dan kecewa dengan orang tua saya tentunya. Jujur, saya sempat tidak ingin berkomunikasi dengan mereka, namun teman-teman saya bahkan kekasih saya menyarankan jangan diteruskan, bagaimanapun orang tua sudah menghidupi kamu dari kecil, mungkin mereka punya pemikiran lain yang belum tersampaikan. Sejak itu, memang saya perlahan-lahan memaafkan ketidaktahuan mereka, apa yang saya inginkan dalam hidup. Saya setiap hari berdoa Novena 3 Salam Maria agar menjadi kuat dan agar saya diberi kesempatan untuk membuktikan kepada mereka bahwa saya sunguh-sungguh dalam hal ini, tidak main-main. Tak lama setelah kejadian itu, berbagai tempat yang saya kirimkan Curriculum Vitae, satu persatu memanggil untuk melakukan proses interview. Sungguh mukjizat Tuhan ada dalam hidup saya dan NYATA bahkan ada satu perusahaan yang memberikan kesempatan tes sebanyak 2x dan tidak saya sia-sia kan, sampai-sampai rela tidak tidur demi mengerjakan tes tersebut hingga selesai. Mukjizat Tuhan juga tidak berhenti sampai disitu. Subuh, saya membaca e-mail dari sebuah perusahaan yang amat sangat saya inginkan yaitu C**se. Beliau mengajak saya interview via skype besok dan mohon doanya agar bisa masuk ke tempat ini mengingat orang tua saya tidak rela jika saya harus meninggalkan mereka untuk menggapai prestasi di Jakarta (walaupun tadi pagi sudah diberi ijin diperbolehkan agar mengerti seberapa keras hidup di Jakarta).
Yang ingin saya sharingkan disini adalah :
Mengapa semua orang beranggapan bahwa wanita tidak boleh bekerja terlalu berat?? Mengapa wanita tidak perlu mencapai karir yang cemerlang?? Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa wanita harus bekerja sebelum menikah. Beberapa hal inspirasi ini saya kutip dari blog orang lain yang menurut saya alasannya sangat rasional dan juga campuran dari pendapat saya.
Agar kita sebagai wanita dapat menghargai kerja keras suami. Ini adalah hal yang sangat penting. Ketika Anda sebagai wanita yang hanya tahu bagaimana menghabiskan uang dengan memanjakan diri di salon, membeli baju-baju yang bagus baik branded ataupun non-branded, ke dokter kecantikan, dll, Anda pasti tidak akan pernah mengerti perasaan suami Anda yang dengan susah payah menafkahi Anda. Mungkin jika suatu saat penghasilan suami Anda tidak sebanyak dulu, kata-kata kasar akan memungkinkan dilontarkan seperti "Sayang, kenapa sih jabatanmu nggak naik-naik seperti tetangga sebelah, kan tetangga sebelah sudah punya mobil H**da bagus". Jika lama-kelamaan suami diperlakukan seperti ini, dia bisa tidak tahan dengan Anda, ladies. Mereka mencari istri yang dapat diajak dalam suasana suka dan duka.
Agar mengenal budaya tempat kerja. Dengan bekerja, Anda sebagai wanita juga dapat memaklumi jika suami Anda pulang larut malam. Ia pulang malam bukan untuk berselingkuh atau apapun, namun Ia berjuang demi keluarga yang sedang dibina dan untuk mengamankan Anda dari segi finansial.
Lebih mudah kembali ke dunia kerja. Jika memang Anda mempunyai planning setelah mempunyai anak bekerja kembali, sebagai wanita yang belum menikah ada baiknya Anda bekerja terlebih dahulu karena jika sudah menikah baru bekerja, maka kemungkinan beberapa perusahaan menolak Anda, dikarenakan perusahaan tidak ingin dirugikan saat Anda mengajukan cuti hamil (dalam hal ini perusahaan akan sangat dirugikan).
Untuk bersosialisasi. Memang saya banyak menemukan teman-teman saya yang sehabis lulus dari Perguruan Tinggi (PT) langsung menikah, dan setelah menikah terkadang mereka susah untuk bersosialisasi karena obrolan antar teman-temannya sudah tidak klop lagi. Intinya, jika Anda bekerja sebelum menikah, Anda pasti mempunyai banyak teman sehingga tidak akan terisolisasi. Setidaknya jika Anda sudah tidak berada di perusahaan yang sama, Anda masih dapat melakukan kontak dengan teman-teman lama.
Agar tidak minder dengan suami. Yang dimaksud dengan minder ini adalah lebih ke arah jika diajak mengobrol apa yang dibicarakan dapat dimengerti satu sama lain. Apalagi dalam membina sebuah keluarga/ rumah tangga, komunikasi sangatlah penting. Selain itu, dengan bekerja, jika suatu saat Anda mendapatkan musibah, semisal suami/ pasangan sedang dilanda kesusahan ekonomi yang membuat Anda harus turun tangan ataupun ketika suami Anda sudah meninggal (tentu kejadian yang terakhir ini sangat tidak diharapkan bagi kaum wanita, mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi perkawinan Anda hingga tua tetap bisa bersama), Anda tidak canggung untuk kembali bekerja.
Dari sini, yang dapat saya simpulkan, menjadi seorang wanita/ perempuan memang harus punya mimpi, carilah pasangan/ suami yang dapat mendukung keinginan/ impian Anda (selama impian tersebut positif dan Anda sebagai wanita/ istrinya tidak melupakan kewajiban untuk mengurus rumah, anak dan tentunya pasangan Anda sendiri). Bukan masalah, wanita tidak boleh bekerja terlalu keras, setidaknya itu bekal kita di hari tua nanti, maka dari itu, selama kita masih muda, latihlah softskill dan hardskill selama masih ada waktu. Lakukan apa yang kalian senangi, karena bisa jadi, sesuatu yang kalian senangi dapat berguna di kemudian hari.
Sekian cerita dari saya dan maaf jika terlalu panjang, semoga Anda semua terinspirasi dengan adanya cerita ini.
- Kutipan blog : http://www.sabdaspace.org/haruskah_perempuan_bekerja -