Pesan Dari Sakīnah
ā Nasihat Untukku Sebelum Menikah ā
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
Aku menulis ini bukan karena merasa telah siap, melainkan justru karena mulai sadar betapa banyak hal di dalam diriku yang belum selesai.
Tulisan ini bukan tentang mencari pasangan yang tepat, melainkan tentang keberanian menatap diri sendiri dengan jujurātanpa romantisasi, tanpa ilusi bahwa cinta akan menyelamatkan segalanya.
Sebab mungkin kesalahan paling sunyi dalam pernikahan bukanlah memilih orang yang keliru, melainkan masuk ke dalam relasi sambil membawa kekacauan batin dan berharap orang lain sanggup merapikannya.
Jika pernikahan memang ditujukan untuk menghadirkan sakīnah, barangkali pertanyaan pertamanya bukan:
āDengan siapa aku akan menikah?ā
melainkan:
āDalam keadaan seperti apa aku akan datang?ā
Allah berfirman:
ŁŁŁ ŁŁŁ Ų§Ł°ŁŁ°ŲŖŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ł ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŲ²ŁŁŁŲ§Ų¬ŁŲ§ ŁŁŁŲŖŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ł ŁŁŁŁŲÆŁŁŲ©Ł ŁŁŁŲ±ŁŲŁŁ ŁŲ©ŁŪ Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų°Ł°ŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ł°ŁŁ°ŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŲŖŁŁŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ū
āDi antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.ā
(QS. Ar-Rūm: 21)
Al-Qurāan menyebut tujuan pernikahan dengan kata yang lembut: li-taskunÅ«āagar kamu merasa damai. Bukan agar kamu diselamatkan, bukan pula agar kekosonganmu diisi.
Dalam ilmu nahwu, kata li di sana bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan penanda tujuan (lÄm taālÄ«l). Kedamaian itu justru diasumsikan telah hadir lebih dulu di dalam diri manusia, sebagaimana isyarat lafadz min anfusikumādari dirimu sendiriālalu menemukan tempat bernaung di dalam relasi, sebagaimana dimaknai melalui lafadz azwÄjanāpasangan.
Saat menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan:
ŁŁŲŖŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲ£ŁŁŁŲ³ŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŲ±ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŁŁŲÆŁŁŁŲ§
āAgar kalian merasa tenteram kepadanya, yakni merasa nyaman dengannya dan jiwa kalian menjadi stabil bersamanya.ā
Sementara Al-Qurthubi menegaskan bahwa sakīnah adalah:
Ų³ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ³ ŁŲ·Ł Ų£ŁŁŁŲŖŁŲ§ ŁŲ§ Ł Ų¬Ų±ŲÆ ŁŲ¶Ų§Ų” Ų§ŁŲ“ŁŁŲ©
āKetenteraman dan ketenangan jiwa, bukan sekadar pemenuhan hasrat.ā
Dulu aku sering bertanya-tanya: mengapa pernikahan justru menjadi arena kegelisahan banyak orang, jika Allah menyiapkannya sebagai jalan menuju sakīnah?
Seolah ada jarak antara janji wahyu dan realitas yang ku saksikan. Namun barangkali jawabannya bukan pada ayatnya, melainkan pada apa yang dibawa manusia ke dalamnya.
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
Karena sakÄ«nah bukan sesuatu yang dilahirkan oleh relasi, melainkan sesuatu yangāsetidaknya mulaiāditumbuhkan di dalam diri, lalu dibawa masuk ke dalam relasi.
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
Mirip memang, tapi berbeda. Dan perbedaan itu memuat dampak yang signifikan.
Maka ketika pernikahan gagal menghadirkan sakÄ«nah, barangkali bukan ayatnya yang keliru, melainkan manusia yang belum sempat berdiamādan berdamaiādengan dirinya sendiri.
Dari sini, muncul satu kesalahpahaman besar tentang pernikahan: seolah ia adalah pintu keluar dari kekosongan, padahal ia justru memperlebar apa pun yang kita bawa masuk ke dalamnya.
Bukan karena pernikahan kejam, tetapi karena ia jujur.
Pernikahan tidak runtuh karena manusia tidak sempurna, melainkan karena masing-masing menolak menyadari bahwa ia masih berada dalam proses.
Seseorang masuk ke dalam relasi dengan harapan diselamatkan, bukan dengan kesiapan untuk hadir. Ia berharap cinta menambal lubang, padahal lubang itu bahkan belum ia akui keberadaannya.
Gagasan ini bukan hal baru. Psikologi relasi telah lama menyadarinya. Erich Fromm pernah menuliskannya dengan jujur dan dingin:
āLove is not the solution to personal emptiness. Only mature individuals can truly love.ā
Cinta bukan obat bagi jiwa yang kosong. Ia hanya bisa tumbuh di atas batin yang cukup utuh untuk berdiri sendiriābukan sempurna, tetapi sadar.
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
Itulah mengapa menikah tidak mengubah karakter. Ia hanya memperlihatkannya dengan lebih terang.
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
Jika sebelum menikah seseorang belum disiplin pada hidupnya sendiri, kelalaian itu akan tampak lebih jelas ketika tanggung jawab berlipat.
Jika ia belum selesai dengan lukanya, sengaja atau tidak, luka itu akan mencari alamat baruādan sering kali, alamat itu bernama pasangan.
Maka āselesai dengan diri sendiriā bukan tujuan final, melainkan kesediaan untuk terus bertanggung jawab atas proses batin yang berjalan seumur hidup.
Ia tidak selalu tampak dalam prestasi besar, tetapi dalam hal-hal kecil yang jujur:
bangun pagi atau tidak,
menepati janji pada diri sendiri atau tidak,
mengelola emosi atau melampiaskannya,
menjaga ibadah atau menjadikannya aksesori.
Seseorang bisa sangat cerdas, sangat sukses, sangat dipujiānamun tetap belum hadir sepenuhnya sebagai manusia. Dan sebaliknya, orang yang tampak biasa saja, hidup sederhana, namun sadar, teratur, dan bertanggung jawab, sering kali jauh lebih siap mencintai.
Karena relasi tidak membutuhkan orang hebat. Ia membutuhkan orang yang sadar;
sadar akan batasnya,
sadar akan lukanya,
dan sadar bahwa pasangannya bukan tempat membuang kekacauan batin.
Maka mungkin benar: lebih baik terlambat menikah, daripada menikah tanpa kesadaran untuk terus bertumbuh.
Sebab cinta bukan tempat untuk bersembunyi, melainkan ruang untuk berjalan bersamaādalam sadar, dalam proses.
Dan hanya mereka yang bersedia hadir sebagai manusia yang sedang bertumbuh yang mampu berdiri berhadapan dengan manusia lain tanpa ingin menguasai, menyelamatkan, atau diselamatkan.
Di situlah cinta menjadi tenang.
Di situlah pernikahan menjadi dewasa.
Maka diri, kau harus ingat ini baik-baik:
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā
āMenikahlah bukan untuk diisi, melainkan karena kau cukup sadar untuk hadir dan berbagi.ā
āāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāāā















