Tulisan hari ini mungkin lebih ke ungkapan dari sudut pandang pribadi akan suatu hal. Jadi, kalau kurang setuju ya silahkan saja, toh ini cuma *sudut pandang pribadi*.
Setiap orang pasti punya sesuatu yang ingin banget dia capai dalam hidupnya, dan ketika dia berhasil akan ada rasa puas juga haru karena udah bisa ngewujudin itu semua. Sederhananya mari kita sebut saja dengan "prestasi".
Sejak zaman jadi anak SD yang pulang sekolah masih harus di antar jemput sampe kelas 4, saya termasuk orang yang "ambisius" banget sama yang namanya prestasi. Gak ada ceritanya nama Hennika Arumsari gak pernah ada di lima besar rangking kelas teratas. Beberapa penuh di angka 1 dan 2. Hampir setiap guru jadi hafal nama saya, alasannya ya pasti karena wali kelas saat itu yang banyak bincang sana-sini. Lomba menggambar dan MIPA pun sengaja saya ikuti, dan memang permintaan sekolah. Satu cita-cita saya waktu itu dan belum kesampean sampe sekarang adalah, jadi penganten pas samenan/perpisahan. Padahal waktu itu nilai saya tertinggi kedua setelah "doi" hahahaha kecil-kecil udah ada yang naksir, dasar saya. Karena biasanya dia orang nilai tertinggi laki-laki dan perempuan akan di arak dalam upacara adat, yang kedua orangtuanya juga ikut di belakang. Otomatis seantero sekolah bakal tau, oh mereka orang tua yang sukses didik anak-anaknya. Alasan saya sederhana waktu itu, cuma pengen orangtua seneng. That's it. Semuanya gagal karena waktu itu ada pergantian kepala sekolah. Gagal lah saya dalam membanggakan orang tua di masa itu, dipenghujung jenjang dasar pendidikan saya.
Lanjut ke pondok pesantren, ternyata menjadi juara kelas bahkan angkatan tak semudah juara di SD dulu. Walau sudah berusaha pontang-panting, menghafal sana sini, akhirnya saya harus menerima, mungkin piala juara itu memang hanya bagi mereka yang punya "otak dewa". Berkali-kali juga curi-curi perhatian ustad biar bisa direkrut jadi tim Olimpiade Matematika sama Biologi waktu itu, tetep aja gagal. Kalau kata-kata julidnya "Ya emang kesempatan buat dia-dia lagi aja terus". Saya frustasi karena sebal melihat teman-teman saya yang itu-itu lagi yang di rekrut jadi tim Olimpiade, tiap tahunnya. Saya tak tau alasannya dan pada akhirnya saya tidak mau tau. Cita-cita saya saat itu adalah lulus dengan predikat Syarof di haflah angkatan tahun 2015 saat itu. Pasti bangga nih orang tua anaknya dapet kalung bunga dari mudir. Tapi memang benar kata orang bijak dulu, bermimpilah setinggi langit, maka ketika kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang. Syarofnya gagal, saya terselamatkan di predikat Mumtaz, ya cuma beda satu kelas lah, posisi duduk saya juga jadi di barisan kedua waktu itu hahahah. Banggalah pada diri sendiri dulu.
Saking depresinya saya yang cuma bisa ikut pengiriman lomba paskibra tim waktu di pondok itu, akhirnya saya putuskan untuk berpindah fokus dari mengejar prestasi dalam paham kejuaraan, menjadi prestasi dalam keaktifan diri saja. Bertemu dengan dunia kampus membuat saya semakin membuka pandangan bahwa prestasi ternyata bukan saja perihal kamu menang lomba A, B, C, kamu dapet piala A, B, C, dan sejenisnya.
Rahasia umum kalau dunia mahasiswa itu jadi dunia paling seru, bebas, dan menantang. Fase-fase menjadi dewasa awal dan pencarian jati diri jadi waktu yang tepat bagi kamu yang emang punya keinginan buat sejarah, seenggaknya yang akan nanti tertulis di berlembar-lembar portofolio diri. Bagi mahasiswa yang sejenis dengan saya ini, yang semangat banget kalau udah ada berita seminar gratis, workshop beasiswa, training-training skill gratis, open recruitment berbagai organisasi (dalam dan luar kampus), maka berlomba-lomba lah sejak awal kamu masuk ke kampus itu. Gunakan sedikit trik pilih-pilih tapi jangan jadi terlalu selektif juga. Biar selamat dari iming-iming "organisasi hitam" dan aman dari jeratan "Do less, Talk more". Dan oh ya, dunia mahasiswa juga sangat luas panggungnya, kamu bisa jadi juara apa saja di kejuaraan manapun, yang penting kemauan, usaha, dan do'a.
Karena menurut saya menjadi yang terbaik itu perlu tapi tidak begitu penting pada akhirnya. Memasuki fase dewasa dengan segala tantangannya membuat diri sadar bahwa kompotitor terbaik adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Terlalu banyak mimpinya jika berdarah-darah kamu menjadi seorang pemenang yang ingin disanjung masyarakat seantero negeri. Karena kini adalah zamannya kolaborasi. Jadi daripada emosi terkuras habis untuk berteriak "Hai, Hai, ini gue yang terbaik di bidang .... ", lebih baik teriakan "Eh, gue punya ini, lu punya itu, kolab yuk, buat karya", mungkin setelah itu akan banyak kebaikan-kebaikan terlahir dan kebermanfaatan yang beranak-pinak.
Endingnya apa? Bukan lagi penghargaan manusia yang jadi tujuan, tanpa sadar tiap orang mulai berpikir gimana caranya berlomba-lomba buat dapet perhatian dari Sang Pemilik Semesta. Apalagi coba yang lebih membahagiakan dibanding RidhoNya yang membuat kita bisa makin nyaman jalanin hidup. Karena emang pada akhirnya juga kan semuanya akan berubah jadi bentuk tabungan, bekal di akhirat nanti.
Aih,, jangan lah buruk sangka dulu dengan berpikiran "Mentang-mentang nih si HenHen sarjana pendidikan yang jadi guru PAI, hari ini ngasih kultum" hahhaha. Justru itu, jarang-jarang kan bisa liat saya se-ukhti ini wkwwk. Gak dong, semua itu pasti ada prosesnya, ada alasannya kenapa sampe akhir di detik ini gue bisa kasih sudut pandang tentang "prestasi" dengan definisi yang kayak gitu. Ini semua gara-gara kata-kata Arab cantik ini yang gue pelajari waktu di pondok dulu:
1. Firman Allah yang diulang-ulang dalam QS. Ar-Rahman
ูููู ุฌูุฒูุงูุกู ูฑููุฅูุญูุณููฐูู ุฅููููุง ูฑููุฅูุญูุณููฐูู
"Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula)"
2. Hadits Rasulullah SAW (yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
ุนู ุงุจู ูุฑูุฑุฉ ุงู ุฑุณูู ุงููู ุต. ู
ูุงู :ุฅูุฐูุง ู
ูุงุชู ุงุจููู ุขุฏูู
ู ุงููููุทูุนู ุนูู
ููููู ุฅููุง ู
ููู ุซููุงุซู : ุตูุฏูููุฉู ุฌูุงุฑูููุฉู ุ ุฃููู ุนูููู
ู ููููุชูููุนู ุจููู ุ ุฃููู ููููุฏู ุตูุงููุญู ููุฏูุนูู ูููู . (ุฑูุงู ู
ุณูู
)
"Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rosulullah Saw. bersabda: 'Apabila โanak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan dia.'"
3. Kata-kata bijak (mahfudzat)
ุฎูุฑ ุงููุงุณ ุงุญุณููู
ุฎููุง ู ุงูููุนูู
ูููุงุณ
"Sebaik-baiknya manusia ialah yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi manusia (sesama)"
Mungkin tiga kata-kata ajaib penuh makna itu bisa sangat membantu ketika kita temui "jalan buntu". Keren banget sih emang kalau udah level prestasinya itu: Berlomba-lomba cari ridho Illahi. Kayak judul ftv Hen? Engga koq ini bener. Gue sadar loh nulis itu. Jadi ya, yuk bareng-bareng kita lakuin apa yang bisa kita lakuin kedepannya. As ini told before, bukan gue, bukan lu, tapi kita:) Masih tetep harus terus belajar dan latihan buat sampe ditahap itu, termasuk gue pastinya. Jadi yuk sama-sama aja! Maaf sekali lagi, karena ini hanya sudut pandang pribadi.
"Tuhan emang udah nulis takdir manusia jauh sebelum manusia itu lahir ke muka bumi. Tapi bijaksananya Sang Maha Kuasa itu, ya Dia kasih manusia kemampuan untuk berusaha. Berusaha mencari kesempatan, berusaha terus mencoba, berusaha buat terus belajar memahami. Dan jangan lupa selalu iringi sama do'a, kekuatan ajaib yang dibisikin ke bumi tapi bisa menembus langit"
Faidza azamta, fa........
*lanjutin guys, gue kasih hadiah permen nanti :)
@sekotenggg @fadhila-trifani @mathmythic @adhit21 @gugunm