Tentang Rezeki
Kerap kali resah menjelma ombak, menghantam tepi hati yang rapuh menanti. Padahal langit telah menuliskan takaran, dan bumi sekadar panggung untuk menjemputnya.
Kita tahu, jalan terbentang bercabang-cabang: ada yang berlumur cahaya, ada yang beraroma luka. Tangan bisa memilih merenggut dengan doa, atau merampas dengan rakus tanpa rasa.
Namun hari ini, garis batas makin samar, suara uang lebih nyaring dari nurani. Lembaran kertas jadi dewa sembahan, sementara jiwa kehilangan rumahnya sendiri.
Rezeki seakan hanya angka di layar, padahal ia bisa menjelma teduh di dada. Seteguk air di kala haus, atau sepotong roti yang menyelamatkan hidup sederhana.
Maka semoga langkah kita, seperti benih yang ditanam di tanah yang subur karena ridha Allah. Tumbuh bukan sekadar banyak, tapi berbuah berkah yang menenangkan jiwa dan mengantar pulang kepada-Nya dengan lega.











