Ternyata membangun relasi dengan orang yang belum dikenal itu lebih mudah daripada menjaga persahabatan yang sudah lama kita agungkan.
“Aku jengkel, berkali-kali aku sudah katakan padanya, jelaskan dan juga meminta pemahamannya. Apa dia tak menghargai sedikitpun apa yang selama ini aku berikan dan usahakan untuknya? Selalu saja kemudian dia ungkit saat dimana aku menolak permintaannya” Katamu lagi, ini sudah keberapa kali kamu menyuarakan hatimu tentang kekesalanmu pada seorang sahabatmu.
“Saat dia minta tolong selalu langsung aku tolong kalau tak mau dia ungkit-ungkit, saat aku minta tolong tak langsung ditolong tak lagi ku permasalahkan, bahkan sudah ku usahakan selalu tak meminta pertolongannya. Aku kesal, kenapa dia seperti itu. Aku tak masalah dia menggodaku dan meledekku berkali-kali, namun saat aku meledeknya sekali dia selalu marah. Aku sebal” Katamu lagi, belum sempat aku membuka mulutku.
“Lalu dia bercerita padaku seribu cerita cintanya, tapi marah bila aku hanya meledeknya sesekali. Dia selalu saja begitu. Aku sebal” Kali ini mulutmu terhenti, teralihkan oleh es milo kesukaanmu yang baru saja diantar pramusaji.
Rasanya ingin aku tertawa, terlalu gemas melihat ekspresimu saat itu. Ingin rasanya ku cubit kedua pipimu saat itu, andai saja. Namun ku urungkan, aku tahu tertawa hanya akan membuatmu lebih sebal lalu berlalu tak mau lagi bercerita padaku.
“Lalu bagaimana?” jawabku akhirnya.
“Yasudah, karena kemarin puncak kekesalanku akhirnya aku pun merajuk padanya pada saat itu, sampai sekarang” katamu lagi, kali ini ditambah dengan helaan napas.
Kali ini aku benar-benar terawa, dan benar saja kamu melotot melihatku. Sungguh, aku tak lagi tahan melihat ekspresimu.
“Yaa, lalu hari ini aku harus segera mengontaknya. Ada hal yang harus aku sampaikan padanya, tapi aku masih sebal dengannya.” Katamu lagi, kali ini memanyunkan bibirmu dan menerawang.
“Bukan gengsi?” Tambahku.
Kamu melotot ke arahku, mengambil es milo dan tasmu lalu beranjak dari kursimu dan berkata “Aku mau pulang”, Meninggalkan aku yang puas tertawa melihat tingkah lakumu, membayar ke kasir dan segera menyusulmu.
“Bukankah menjaga persahabatan dengannya itu penting?” kataku sambil berusaha mensejajarkan langkahku dengan langkahmu.
“Dia saja lebih peduli membangun relasi dengan teman-temannya di luar sana dengan menjaga persahabatannya denganku” katamu tak menoleh kepadaku, menambah kecepatan langkahmu.
“kamu cemburu?” jawabku pendek dan berhasil membuat langkahmu berhenti, kamu menoleh ke arahku, sebal tak terima jawabanku benar.
“Terserah.” Jawabmu pendek, dan aku tahu kamu tak mau lagi membahas ini karena aku tahu kamu sudah bisa berpikir jernih tentang apa yang akan kamu lakukan.
Masih terdiam, kamu pun menghela napas, menerawang jauh dan berkata dengan lirih “aku mau pulang”.
Aku tersenyum, ingin sekali menepuk punggungmu dan mengusap kepalamu. Aku tahu kau sedang membutuhkan kekuatan saat itu juga, namun yang ku lakukan hanyalah berkata “Ayo pulang, aku antar”.