Berdamai dengan Diri Sendiri
Beberapa hari yang lalu aku berkesempatan untuk memandu kelas online via Instagram dengan tema memelihara kesehatan mental di masa pandemi covid19 ini.
Hal yang menurutku menarik dari pembicaraan dengan sang narasumber, dimana beliau seorang psikolog yang juga teman SMA ku adalah, berdamai dengan diri sendiri.
Kecemasan yang menjadi hal paling sering dijumpai individu yang positif korona, PDP, ODP, atau bahkan yang hanya menetap dirumah karena isolasi mandiri. Dan kecemasan ini diakibatkan salah satunya karena kita belum berdamai dengan diri sendiri. Dan semakin orang cemas, bisa saja menjadikan imunitas mereka menurun dan virus lebih mudah menyerang tubuh.
Berkaitan dengan itu, kecemasan memang tidak hanya terjadi di masa pandemi ini. Ia memang satu hal yang manusiawi. Lalu tentang berdamai dengan diri sendiri, aku pribadi mempunyai pendapatku sendiri.
Sering kali aku menyebutkan istilah berbicara dengan tembok. Teman SMA ku adalah orang pertama yang mengenalkan istilah itu. Sebut saja namanya Imam(adalah nama sebenarnya). Tentu istilah itu terlontar saat kita sedang mengobrolkan kegalauan yang saat itu menjadi topik andalan diantara kegabutan, tugas sekolah, dan drama organisasi.
Berbicara dengan tembok, atau yang sebenarnya adalah proses berdamai dengan diri sendiri adalah ketika kita sedikit lebih peka kepada suara hati kita. Ia yang sebenarnya selalu bersama kita, namun suaranya sering terdistraksi oleh sumber bunyi yang lain; termasuknya omongan orang lain.
Dan proses ini bukanlah satu kegiatan yang hanya perlu sekali dicoba, tanpa perulangan. Semakin sering kita mendengarkan hati kita, semakin mudah kita berdamai dengan diri sendiri.
Dan tentu damai tak selamanya akan menghentikan perang, bukan? Seperti Turki dan Rusia. Yang ratusan tahun lalu telah menyatakan damai, toh mereka di abad 21 ini kembali bertemu dan berseteru.
Maka penting bagi kita untuk pula melihat kedalam. Mengerti tentang keadaan. Jeli atas setiap tindakan. Kemudian perlahan mulai mendengarkan bisikan dari hati kita yang paling dalam. Mencoba berdamai dan menerima semua keadaan.
Dan tak lupa, meminta kepada yang Maha Memberi Petunjuk dan Kelapangan. Agar selalu menjaga hati kita dari kotoran, supaya ia membisikkan banyak kebaikan.