Tak Kupilih, Tapi Kuterima
Tidak ada yang pernah mengajariku bagaimana rasanya ketika hidup yang sudah kita bangun tiba-tiba meminta kita mundur.
Selama ini aku hanya tahu satu cara berjalan: maju.
lebih lama dari rasa lelah.
Aku percaya bahwa ketekunan akan selalu menang, bahwa selama kita terus bertahan semua akan baik-baik saja.
Tapi ada hari ketika tubuhku seperti menarik lenganku pelan dan berkata: cukup.
Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sunyi yang perlahan mengisi hari-hariku.
Saat itulah aku mengerti bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita taklukkan dengan kemauan keras.
Dan akhirnya aku harus meletakkan sesuatu yang dulu kupegang dengan bangga—
sebuah bagian dari diriku sendiri.
Tidak ada suara saat aku melepaskannya.
yang tiba-tiba terasa sangat luas.
Aku berduka, atas versi diriku yang mungkin tidak akan kembali.
Yang dulu mampu berjalan jauh, yang dulu percaya bahwa tubuhnya akan selalu setia.
Kini hari-hariku berbeda.
Ada banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang dulu tak sempat kupikirkan.
Tentang batas. Tentang rapuh. Tentang bagaimana hidup kadang memaksa kita berhenti, bukan untuk menghukum tetapi untuk menyelamatkan.
Aku masih belajar menerima, bahwa tidak semua kehilangan adalah kegagalan.
Bahwa kadang, melepaskan sesuatu yang kita cintai adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
di jalan yang tidak pernah kupilih ini, aku sedang diajarkan sesuatu yang tidak bisa dipelajari oleh mereka yang terus berlari: bagaimana berdamai dengan diri sendiri.