Dari banyaknya hal dalam hidup yang sedang dikhawatirkan, barangkali perasaan khawatir itulah yang patutnya kita khawatirkan.
Tidak ada penawar kekhawatiran selain sebuah keyakinan, dan keyakinanlah yang kelak mengantarkan kita pada perasaan yang kita sedang cari, yaitu rasa tenang.
Coba ingat, kenapa kita tidak khawatir ketika masuk ke rumah makan tanpa melihat daftar harga?
Kenapa kita tidak khawatir memasukkan ragam barang saat sedang berbelanja?
Kenapa kita tidak begitu khawatir masuk taksi tanpa menanyakan berapa argonya?
Itu semua karena kita yakin. Kita yakin memiliki dana yang cukup, sehingga kita mampu untuk nanti membayarnya.
Lantas, mengapa pada urusan kehidupan, kita tidak punya keyakinan yang sama?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, kalau diri kita tidak mampu menghadapi hal-hal yang kita khawatirkan?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, bahwa bekal yang kita siapkan tidak akan bisa melawan yang sedang kita khawatirkan?
Atau lebih buruknya, apa mungkin kita tidak cukup yakin, bahwa Allah—Yang Maha Mengetahui—tidak mampu untuk mengatur, menolong, menjaga kehidupan kita?
Itulah mengapa, kadang-kadang yang perlu dikhawatirkan itu adalah perasaan khawatir itu sendiri.
Kekhawatiran yang ternyata menegasikan Allah yang berkuasa akan kehidupan kita.
Kekhawatiran yang ternyata membuat kita lupa bahwa tak pernah ada daya upaya selain karenaNya.
Kekhawatiran yang ternyata... selalu menjadi sebab tidak turunnya ketenangan pada hati kita, karena rasa khawatir kita begitu penuh hingga menjelma menjadi bentuk ketidak-yakinan kita padaNya.
Maka, semoga Allah selamatkan kita dari kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada mengimani kuasaNya atas segala sesuatu dalam hidup kita.
Biar nanti keyakinan—keimanan itu menjadi jalan. Menjadi sebab turunnya ketenangan dari Allah yang dituangkan ke dalam hati kita. Tidak peduli bagaimanapun kondisi dunia yang sedang kita menghadapi, karena kita tau ada Allah yang selalu membersamai.
@creativemuslim













