Mungkin, tulisan ini berisi tentang peristiwa beberapa tahun lalu dan ternyata sosoknya masih ada dan menetap di mata. Bleiau adalah sosok adik, guru dan penyejuk mata insyaallah.
Beliau adalah Ustadzah Muna, kelahiran Lombok. Selama satu tahun lebih berada di atap yang sama, ada banyak hal yang aku syukuri walau hanya bisa melihatnya saja. Ada kalimat yang pernah kutulis, isinya begini, "semakin kita berbicara, semakin banyak salah pahamnya." Ini adalah statement dariku untuk beliau. Ternyata, ndak semua sayang, ndak semua kagum harus kita dapatkan pada saat itu juga. Dan sekarang, aku mensyukuri dan mencukupkan hal itu.
Berawal dari latar belakang yang berbeda, tentu pola sikap, pola pikir dan tingkah laku bisa jadi akan sangat bertentangan. Dan bisa jadi juga, ini yang akhirnya menjadi titik ketidakcocokan.
Latar belakang bliau adalah anak bungsu, dari banyak bersaudara. Tapi aku lupa, berapa bersaudara. Dari sekian banyaknya pertemanan, selama di rantauan alhamdulillah ditemukan banyak anak bungsu, dan hampir semua anak bungsu yang aku temui, aku kagumi karakternya. Ipa, Diah, Anna, Ustadzah Muna, Sani. Ayu dan Fildza ndak temasuk anak bungsu, tapi dalam daftar, bliau berdua masuk dalam orang-orang yang aku syukuri pertemuannya.
Mereka adalah orang-orang yang bisa diibaratkan, melengkapi puzzle dalam hidup, sungguh syukur dan nikmat sudah melewatinya.
Anak bungsu, karakter yang menarik adalah sikap dan sifat dewasanya. Ntah kenapa yah, kok bisa karakter tersebut ada di dalam diri mereka. Tapi, dari anak bungsu ini, aku belajar apa itu tenang, apa itu cukup.
Argumenku adalah, bahwa anak bungsu itu full dalam hal kasih sayang, dari ibu bapak dan kakak-kakaknya. Mereka menerima secara penuh, tanpa adanya saingan dari saudara lain. Ditambah lagi bila mereka berada di keluarga yang berada. Ini statementku, bisa jadi salah, bisa jadi bener. Hehe
Dari hal yang penuh tadi, melahirkan karakter tenang dan cukup.
Ada satu peristiwa kecil, ketika bliau prepare akan pindahan setelah pernikahannya. Satu sisi seisi asrama itu sedih, namun kebahagiaan lebih besar terpancar. Ada kalimat yang Upa tanyakan, "Ustadzah Muna, mau dibantu nggak?" lalu bliau tersenyum, dan mengatakan boleh atau iya. Dalam pikirku, "ternyata menerima tawaran bantuan bisa seindah dan sehangat itu?" Senyumku mengingat peristiwa ini.
Bliau hangat dan penyejuk mata insyaallah. Sosok diriku, pada saat itu yang masih bingung dalam hal menerima bantuan dari orang lain, mengatakan bahwa diriku ndak mau merepotkan dan insyaallah aku bisa sendiri. Ternyata itu adalah cara yang salah dalam bersikap dan di mata orang lain, ternyata menolak pertolongan adalah menyakitkan.
Jazakumullahu khoiron, wa barakallahu fiikum. Semoga Allah memberikan kebaikan atas segala takdirnya dan Allah jaga bliau dan keluarga.