Aku mencoba berdamai, dengan luka yang kutanam sendiri. Berusaha meminta maaf pada hatiku yang dulu kupaksa untuk kembali jatuh cinta, hingga akhirnya aku terluka, dan kini ia menatapku dengan tatapan penuh rasa kecewa.
Setiap malam aku berbicara padanya, pada hatiku yang dulu berteriak dan meminta agar aku berhenti, tapi aku mengabaikanya dan terus saja melanjutkan tanpa pernah perduli.
Kini, bisikannya berubah jadi jerit, tapi bukan lagi untuk memperingatkan, melainkan untuk mengutuk diriku yang tak pernah mau mendengar apa yang selama ini ia katakan.
Sekarang aku mencoba meminta maaf dengan memeluk diriku sendiri. Namun pelukan itu terasa dingin, karena bagian terdalamku telah mati di hari aku memilih untuk jatuh cinta lagi.
Aku membuat tulisan ini untuk hatiku sendiri. Namun tinta yang menetes bukan dari pena, melainkan darah dari luka yang takan pernah bisa pulih sepenuhnya.
“karena aku tak pernah mendengarkanmu, hingga akhirnya aku membuatmu jadi sehancur ini.”
Kini aku berjalan di antara bayangan kenangan dan penyesalan, menginjak serpihan harapan yang dulu kukira indah.
Setiap langkah seperti mengiris.
Setiap ingatan seperti menampar.
Aku ingin di maafkan, sungguh.
Tapi bagaimana caranya memaafkan diri yang membuat hatinya sendiri hancur berkeping-keping?
hidup dalam sunyi yang diciptakan oleh keputusanku sendiri, menangisi cinta yang tak seharusnya ku mulai sejak awal, dan belajar berdamai dengan bagian diriku yang sudah tak ingin hidup lagi.
Namun di ujung semua ini, aku hanya bisa berharap.
Andai waktu bisa kembali. Aku akan memilih untuk tetap sendiri, dan mencegah diriku untuk memulai cinta ini, agar tidak ada satupun pihak yang tersakiti.
karna hal itu lebih baik daripada aku harus kembali jatuh cinta, kemudian terluka, dan aku harus kehilangan kepercayaan hatiku selamanya.