Dalam pencarian cinta sejati, pengorbanan terbesar terkadang adalah meninggalkan orang yang paling dicintai.
***
Yoon Ji Chan, sosok yang selalu bersinar dan menjadi pusat perhatian, terlibat dalam kisah cinta pura-pura dengan Jung Eun Kyung yang dingin dan tertutup. Namun, ketika cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka, ayah Ji Chan menjadikan Eun Kyung sebagai alat untuk menghancurkan impian dan kisah cinta putranya. Ji Chan kehilangan semuanya dan terpuruk dalam keputusasaan, membuat nyawanya terjebak dalam kegelapan.
Eun Kyung hanya bisa menyesali cinta yang tak bisa dia perjuangkan. Akankah cinta mereka menemukan jalan untuk kembali bersama? Atau apakah semuanya akan hilang selamanya?
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku korban yang tak mampu berbuat apa-apa, tak tahu harus menggugat siapa. Luka ini bahkan tidak bisa menggambarkan senjata penyebabnya, apalagi mencari pelakunya.
Bilamana ku kan menjumpa sosok pelengkap jiwa ini? Apa benar sejatinya kita hanya sedang menunggu saja tanpa persiapan? Jika begitu kita tak akan layak baginya.
Ya Allah . . Berilah Kemampuan tuk berbakti kepada ibuku. #ibu #kita #kartini #putri #sejati #putriindonesia #harum #namanya https://www.instagram.com/p/B4goYh-l193/?igshid=vo8bju93bey0
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Orang yang dekat terasa jauh dan orang yang jauh terasa dekat. Menurut saya, yang bagus itu orang yang meski berada jauh dan mungkin bahkan jarang bertemu. Kenapa? Karena dia yang jauh selalu ada saat kita butuhkan. Misalnya, saat kita merasa terpuruk dia ada dan saat senang pun dia ikut merasa berbahagia atas kesenangan kita. Memberi solusi untuk masalah yang kita ceritakan. Memberi nasihat untuk kebaikan kita. Mengingatkan kita selalu akan kehadiran dan kebesaran-Nya. Meski itu semua berlangsung hanya melalui pesan pribadi.. Tapi seperti itulah teman atau sahabat yang sesungguhnya. Di sini, bukan teman yang kenalan hanya melalui dunia maya yang saya maksudkan (karena biasa juga ada tmn kita kenal dunia dari dunia maya lantas menjadi sahabat, tapi ini sangat jarang terjadi). Yang saya maksudkan di sini, adalah teman yang memang kita sudah saling kenal di dunia nyata atau anggap saja teman satu sekolah atau sekelas di lembaga tertentu. Namun, karena kita mengejar mimpi masing-masing yang berbeda sehingga kita terpisahkan oleh jarak. Oleh karena itu hanya bisa berkomunikasi lewat pesan pribadi di sosial media. Tetapi, jauhnya jarak yang membuat kita jarang bersua atau bertatapan langsung tidak merubah makna persahabatan yang sebenarnya. Dan aku bersyukur karena memiliki beberapa sahabat di sini. Ya hanya beberapa orang sahabat saja, tapi mereka lebih berarti dibandingkan memiliki 1000 teman atau bahkan lebih. Dan ya, aku menyayangi mereka, sahabat-sahabatku. Tak masalah bagiku jika ada teman "dekat tapi terasa jauh" itu meninggalkan ku karena aku memiliki beberapa orang sahabat yang selalu mendukungku dan ada dibelakangku saat sedih maupun senang. Dan terlepas dari kedua ini, masih ada Allah yang Memang Selalu Ada untuk Hamba-Nya.
Pria–disebut sejati–bukan yang punya banyak macam cara, dalam rangka menaklukkan banyak wanita. Tapi justru pria sejati, hanya punya satu wanita, lalu mencintainya dengan banyak macam cara.
saya tuliskan surat ini sebagai tanda persahabatan kita pada malam hari ini tanggal 15 dzulqaidah 1438H atau pada malam ke 16 ketika bulan purnama benderang di langit yang kelam
Sampai pada malam ini, ketika usia saya menginjak 26 tahun,saya masih belum bisa memahami, kebahagiaan apa dan bagaimana yg kita bawa ketika menghadiri sb pernikahan??
Karena bagi saya pernikahan adalah sesuatu yg besar, berat tanggungjawabnya baik di dunia maupun akhirat
Kepada teman, saya ingin bertanya tentang suatu hal,
Kenapa kalian begitu bahagianya menyambut pernikahan? Tidak takutkah
Saya ibaratkan pernikahan itu seperti ini, seandainya engkau diberikan umur olehTuhan, memiliki hidup selama 60 tahun. Dan katakanlah seperti sekarang ini, kamu menikah di usiamu yang ke 25 tahun, itu artinya kamu akan hidup sebagai istri-dan atau ibu sebagaimana tanggungjawab yang terikat olehnya-selama 35 tahun.
Selama 25 tahun kita hidup, telah dijagakan pada diri kita kedua orang tua kita, namun terkadang keharmonisan kasih sayang itu menimbulkan kekecewaan, amarah, sebel, perasaan ndongkol dsb,tapi kasih sayang tidak akan berubah. Ya,karena mereka orang tua kita. Darahnya mengalir sebagaimana darah kita, DNA sifat karakteristiknya memiliki kurang lebih persamaan dg kita. Sedang kan, ketika dalam pernikahan, kamu akan hidup selama 35 tahun dg orang yg sama sekali berbeda, dia hidup dg sifat dankarakteristik sesuai dg budaya keluarganya, dan kamu tidaklah sama, namun sayangnya, tidak ada ikatan abadi seperti darah yang memepertautkan kalian berdua. Kamu punya jaminan apa untuk berumah tangga?tidak takutkah kamu disia siakan?tidak takutkah perasaan kamu berubah?padahal perasaan adalah sesuatu yang ada di luar kendali kita sbg manusia.
Jujur, saya takut. Takut dg diri saya sendiri.
Ketidakkonsistenan dalam kekonsistenan menjalani kehidupan.
Hal pertama yang saya bayangkan tentang pernikahan adalah, ketakutan
Saya takut kalau nantinya entah saya atau dia berpulang kepada Tuhan terlebih dahulu, ketika malam memeluk kerinduan, kepada siapa saya mengadukan?
Sebab kematian adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar ataupun ditukar dan ia akan terus hidup selama kita masih hidup
Saya takut kalau seketika perasaan saya berubah hambar, sebagaimana cinta, ia akan mengalami pasang surut nya, dan perasaan adalah sesuatu di luar kendali kita.
Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana berat kehidupan seorang istri ketika berapa tahun pernikahan dari 35 tahun tersebut, suaminya menderita sakit, sehingga tidak bisa memberikan nafkah, bahkan dirinya yang harus tabah dan menjadi tulang punggung keluarga. Bagaiamana, apa kabar hati? Jika datang kepadamu di saat sulitmu, sesuatu yang mungkin mampu menggoyahkan kesetiaanmu, sesuatu yang menjanjikan keindahan dari hidupmu yang sekarang? Dan bukankah sudah sifatnya manusia selalu merasa kurang puas?
Bagaimana dalam 35 tahun itu, jika engkau diuji oleh Tuhanmu dg kekurangan materi? Maka apa kabar hati yang tertunduk pilu ketika anakmu meminta, menangis, merengek, untuk dibelikan baju baru seperti milik temannya, dan kamu hanya bisa menelan ludah pahit, karena jauh dari kemampuan unt mewujudkan keinginanya?
Bagaimana jika seandainya bahtera kalian pecah ditengah jalan selang beberapa tahun, beberapa belas tahun, beberapa puluh tahun kemudian dari 35 tahun itu?
Setelah kehidupan terasa lengkap, dikaruniai anak, dikecukupi harta, namun ternyata bagaikan dua buah garis yang tak selaras lagi. Allah menghendaki kalian berpisah??
“membayangkan hal buruk hanya akan membuatmu takut menikah,” begitu katamu
Saya tersenyum,.....
Saya tidak sedang membayangkan
Saya menyaksikan, melihat, mendengar, dan merasakan....
“kamu terlalu banyak membaca buku...”
Ya, sebab itu sumber pengetahuan saya, untuk mengenal diri saya
Orang seperti apa saya ini??
Sebab saya sendiri yang mampu mengukur, dan mengarahkan seluruh diri saya, kecuali nafas dan kehidupan di dalamnya.
Saya hanya ingin menyadari satu hal,,,,kebahagiaan kita tidak diukur dg pernikahan, banyaknya anak, atau kecukupan materi.karena kesemuanya...dalam sekejap bisa hilang, berubah, diganti...
Apapun fase hidup yang kita lewati, diri kita adalah tetap,kematian adalah tetap.
Dg menikah, kita tidak bisa langsung menjadi manusia mulia
Dg belum menikah, bukan berarti kita tidak bisa mencapai kesempurnaan diri
Tergantung bagaimana kita mengolah hati dan pikiran kita untuk selalu merasa bahagia
Membangun optimisme di dalam kesedihan
Belajar mencari kebenaran, tanpa perlu menyalahkan
Terus dan terus berusaha mengenali diri, mengolah jiwa, untuk menciptakan rasa nyaman dg diri kita sendiri, sehingga muncul outputnya adalah kita bisa membuat diri kita easy going dg apapun masalah kita, siapapun partner kita.
Dan sekali lagi, hidup terasa melelahkan jika yang menjadi tujuan kita hanyalah dunia. Berkeluarga, beranak, berharta, berderma, berpangkat, berkedudukan. Terasa melelahkan....
Ada atas, diatas segalanya....
Semoga apapun fase hidup yang kita lewati - yang pada akhirnya akan tetap kita tinggalkan, beserta tinggalnya nyawa kita- semoga Allah tetap menjadi tujuan sejati.
Sehingga sempurna kematian kita akan segala keinginan yang tak berkesudahan
Sehingga sempurna tauhid dan iman kita dalam ketaqwaan
Sempurna amal ibadah kita- karena dia satu satunya teman sejati di dalam mati-
Sehingga sempurna tujuan hidup kita, adalah baik ketika di dunia dan baik ketika sesudahnya.
Sempurna, hanya Allah satu satunya yang menjadi sumber segala kebaikan