Tentang Prinsip: Menjadi Alphaman
Alphaman The Series Eps. 04
Kita tahu, pergaulan laki-laki itu kadang sangat kompleks. Laki-laki butuh teman yang baik, lingkungan yang mendukung, dan yang sering terlupa adalah waktu kesendirian yang berkualitas.
Karena dunia laki-laki itu luas. Hampir semua orang bisa jadi teman; bisa nongkrong bareng, bercanda bareng, pergi bareng. Tapi ingat, tidak semua pertemanan membawa pertumbuhan.
Seringkali kita melihat laki-laki yang di rumahnya luar biasa; ia menjaga diri, tidak merokok, lisannya terjaga, dan sujudnya tepat waktu. Namun, saat ia keluar bertemu teman-temannya, ia berubah. Hal itu bukan berarti karena ia tidak tahu mana yang benar, tapi karena ia takut terlihat "aneh" saja.
Ia rela down grade dirinya, mengorbankan prinsipnya, hanya agar tetap dianggap "bagian dari mereka". Adaptasi. Di situlah banyak laki-laki terjatuh.
Dunia laki-laki memang menuntut pengakuan. Jika tongkrongan merokok, ia ikut. Jika tongkrongan berkata kasar, ia tertawa meski hatinya menolak. Jika tongkrongan menormalisasi maksiat, ia dipaksa menunduk dan menganggapnya biasa. Mereka takut dicap cupu, takut dijauhi, atau takut disebut "aneh".
Yang menyedihkan, di balik tawa itu, mereka sebenarnya lelah. Lelah harus berpura-pura nyaman dengan hal yang tidak sesuai hati nuraninya. Lelah harus ikut arus padahal jiwanya menjerit.
Maka wahai laki-laki, jika kamu menemukan lingkaran yang membuatmu lebih tenang, lebih bertumbuh, lebih sopan, dan lebih dekat kepada Allah—jagalah mereka. Jangan lepaskan. Sebab di zaman sekarang, teman yang berani mengajakmu ke surga itu jauh lebih langka daripada teman yang hanya mengajakmu membuang waktu.
Dan jangan pernah malu menjadi laki-laki yang menjaga diri. Tidak merokok bukan memalukan. Menjaga lisan bukan kelemahan. Menjaga shalat bukan kuno. Justru itu adalah tanda bahwa kamu memiliki otoritas penuh atas dirimu sendiri.
Ingat, laki-laki yang benar-benar kuat—seorang Alpha yang sejati—bukanlah dia yang paling berani mengikuti arus tongkrongan, tapi dia yang tetap teguh memegang prinsip meski seluruh lingkungannya mencoba merobohkannya.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat." (HR. Abu Dawud).
Ditambah lagi perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
اعتبروا الناس بأخدانهم
"Nilailah seseorang dari teman dekatnya."
Karena kita tahu, laki-laki baik tidak lahir begitu saja. Mereka butuh lingkungan yang sehat, nasihat yang tulus, dan doa-doa panjang. Kelak, yang membangun generasi bukan hanya perempuan yang lembut, tapi juga laki-laki yang jiwanya sehat, pikirannya bersih, dan imannya terjaga.
Karena ketika laki-laki rusak, dampaknya sistemik. Cara dia bicara akan mencerminkan rumahnya. Cara dia memandang perempuan akan menentukan martabat keluarganya. Cara dia menjaga iman akan menjadi pondasi bagi anak-anaknya kelak.
Seringkali, akar dari semua kerusakan itu dimulai dari rasa malu menjadi orang baik. Padahal, untuk menjadi "Jantan", kita tidak perlu merusak diri sendiri.
Laki-laki yang paling tangguh bukanlah dia yang paling liar, tapi dia yang paling mampu menjaga izzah dan kehormatannya di tengah dunia yang sedang kehilangan kompas moralnya.