Jejak, jarak, dan doa-doa yang menghidupiku.
Hatiku pernah tertinggal jauh di belakang. Terhimpit di antara runtuhan jejak yang mati-matian tidak ingin kuingat lagi.
Ternyata, berjalan sendirian dalam kondisi buta arah, perlahan-lahan meremukkan seluruh sendiku. Setiap jengkal tanah yang kupijak rasanya asing. Namun aku tahu mematung dan memilih berhenti adalah bentuk kekalahan yang paling memuakkan. Diam dalam keterpurukan hanya akan membuatku menjadi manusia yang paling tidak tahu diri pada takdir.
Kesunyian ini sering menjebakku dalam tanya: mengapa harapan yang kupunya dan jarak yang harus kutempuh selalu terasa seperti dua musuh yang saling tikam? Jalan di depanku berkabut, sementara impian melambai terlalu jauh di ujung sana. Rasanya ingin sekali menyerah dan membiarkan malam menelan tubuhku.
Namun, tepat sebelum lututku menyentuh tanah, aku teringat pada rumah.
Di sudut sana, Ibu masih melipat jemarinya, mengetuk pintu langit dengan seluruh sisa napas dan harapan yang tidak surut. Sementara Ayah, membiarkan telapak tangannya kian mengeras, legam berlumur peluh, bertaruh nyawa demi memastikan langkah kecilku tidak menemui jalan buntu. Mereka memintal fajar dari doa-doa malam, menghidupiku lewat harapan-harapan yang dititipkan langsung kepada-Nya.
Lantas, pantaskah aku mengemas usaha dan berhenti berharap? Ketika manusia-manusia terbaikku justru sedang memperpanjang napas mereka, semata-mata agar aku punya waktu cukup untuk kembali menemukan arah pulang.










