Raungan Serigala dalam Ruang Kedap Suara
Malam itu, hal paling kencang yang berdentam di seisi ruangan bukanlah suara dari seseorang yang mengaku manusia. Sambil terus berusaha mematahkan semua identitas yang aku genggam puluhan tahun, manusia tersebut terus bersuara. Di sebelah kananku, Sang Serigala duduk diam mengamati gerak-gerik kami. Serigala tersebut membiarkan diriku larut dan bersandar padanya, membiarkan kakiku yang bergerak cemas dan bahuku yang kaku, juga nyawaku yang perlahan larut dan tenggelam dalam raungan di ruangan yang berisik.
Sang manusia terus mencecar, mencoba menggali lubang pada tanah pijakanku yang sudah sejak lama retak. Sambil tertawa, aku menghiburnya, menjawab dan mengiyakan semua tuduhannya. Tanpa sadar, gemetar membuncah dalam diriku. Tepat sebelum aku benar-benar jatuh ke dasar, sebuah suara memecah bising. Serigala yang dari tadi terdiam hening dan terlihat acuh mengaum perlahan sembari menunjukkan sedikit taring.
"Tapi dia memang memilikinya…"
Sang Serigala berbicara sembari sudut matanya menoleh ke arahku, seakan mengawasiku. Walau hanya beberapa kata dan terdengar sangat pelan, suara dari sang serigala justru jadi hal paling kencang dan bergema di kepala.
Aku merasa tidak sendiri dalam saat itu. Aku, Sang Bulan, ternyata sedang ditemani lolongan Sang Serigala yang setia dalam malam yang semakin kelam. Hal selanjutnya membuatku termenung. Sebuah dinding kokoh yang tiba-tiba terwujud menghalangi dan membuat jarak yang menjulang tinggi.
Sang Serigala yang ternyata memberi jarak antara aku dan si manusia. Ia tidak lagi mengaum. Ia berhenti memamerkan taringnya untuk mengoyak sang lawan karena ia tahu raungan balasan hanya akan memperparah riuh di kepalaku. Ia memilih melindungiku dengan tenang. Mencondongkan tubuhnya ke depan, mengambil alih ruang agar sang manusia tak lagi bisa menyentuhku.
Lalu, waktu seakan dipaksa berhenti. Tanpa membuang sisa napas, Sang Serigala menghapus jejak keberadaanku di ruangan itu. Memutus paksa benang merah percakapan yang mulai mencekik leherku. Di saat itu, suara-suara jahat di kepala kembali berbisik, ‘Apakah ia muak padamu? Apakah ia lelah melihatmu hancur?’ Terlebih saat kulihat gurat lelah yang pekat di wajahnya malam itu.
Tapi untuk kesekian kalinya, indera perasaku keliru. Ia tidak muak padaku. Ia sedang menyelamatkanku. Menarik tanganku keluar dari sarang sang manusia sebelum nyawaku benar-benar habis tak bersisa.
Ruang besi yang meluncur turun membelah malam itu menjadi saksi bisu. Tidak ada lagi bising. Hanya ada aku, Sang Serigala, dan hening yang menenangkan. Telapak tangannya yang kuat menggenggam erat jemariku, menyalurkan kehangatan pada tubuhku yang masih bergetar. Lantas, mataku jatuh pada luka lama di sudut sikunya. Bekas luka masa kecil yang selalu ia kutuk sebagai sesuatu yang buruk rupa. Sesuatu yang menakutkan.
Aku bergerak dalam satu tarikan napas dan tanpa ragu, kububuhkan sebuah kecupan tepat di atas bekas lukanya. Sang Serigala tidak menarik lengannya menjauh. Ia menatapku diam, membiarkan Sang Bulan yang penuh lubang ini memuja bagian dari dirinya yang paling ia benci.
Di malam itu, kami bukan jadi yang saling mendamba dalam diam dan jarak. Semua sudah berbeda dalam berbagai hal dan bentuk yang sangat membuat tenang. Sang Serigala membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa ia adalah pelindung setia Sang Bulan. Dan mendeklarasikan lagi pada semesta bahwa kami adalah dua jiwa penuh luka yang memilih untuk saling menyembuhkan.
Malam semakin pekat saat aku bersiap untuk melaju menjauh. Aku menoleh mencari sosok Sang Serigala di sudut jalan. Di bawah temaram lampu, Sang Serigala berdiri tegap. Dalam diam, pandangannya tetap lekat padaku, mengawasi pergerakanku malam itu, menolak untuk berbalik hingga ia benar-benar yakin Sang Bulan telah ditelan jarak dengan selamat dan kembali ke langit dengan aman.
Dahulu kala, aku selalu berpikir bahwa cinta selalu datang dengan deklarasi agung dan pedang yang dihunus terang-terangan. Ternyata, semesta membuktikan sebaliknya. Ternyata ia bisa mewujud dalam bahu yang enggan bergeser, ruang sempit yang menjadi saksi bisu dua luka yang saling mengecup, dan sepasang mata yang rela berjaga di sudut jalanan gelap. Menjelma menjadi Sang Serigala yang senantiasa menjaga Sang Bulan dalam diam.
Memastikan bahwa Sang Bulan akan selalu bisa kembali pulang ke orbitnya… dan bahwa Sang Serigala akan selalu menjaganya.
"The loudest thing in the room wasn't the man psychoanalyzing my trauma; it was the quiet, immovable weight of the man sitting to my right."