"Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun pun memadai." (2 : 265)
Potongan kalimat itu suka bikin aku nangis dan jadi topik utama project buku komunitasku di Ramadhan tahun kemarin. For some reason, aku suka bagaimana cara Allah menggunakan analogi "kebun di dataran tinggi" untuk orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah (tumbuh ke atas) dan memperteguh jiwa mereka (mengakar ke bawah).
Dikatakan, ada dua kondisi yang mungkin "kebun" itu alami. Pertama ada kondisi disirami hujan lebat yang outputnya berbuah dua kali lipat. Ini kondisi ideal.
Menurutku ini analog dalam konteks hidup berjamaah. Memang apa yang dapat menyirami dan memperteguh jiwa? Apa sih yang disebut airnya? Jawaban sementaraku, airnya adalah silaturahmi, pembinaan, dan ketugasan. Di sini setiap orang disirami dukungan dan pembinaan yang terus-menerus, jadi ∆ improvement dan outputnya juga besar (seharusnya).
Jadi, aneh ya sebenarnya kalau udah di kondisi ideal, tapi outputnya malah nggak sesuai harapan. Semua faktor eksternal udah dikondisikan nih, berarti kan simply ada yang faktor internal yang nggak beres dari tiap-tiap diri sebagai pohon? (Mungkin itulah gambaran kasar untuk diriku selama ini)
Kedua, ada kondisi tidak ideal atau serba terbatas. Ketika hujan lebat tidak menyirami, maka embun pun memadai. Di kondisi dua ini, kebun tidak ditugaskan berbuah dua kali lipat kok, karena memang embun itu sendiri tidak sebanding dengan hujan lebat dalam hal volume dan intensitasnya.
Jadi apa tugas kebun yang tidak disirami hujan lebat?
Ketika "hanya bisa mengandalkan embun", kebun diuji untuk bertahan dalam kondisi yang serba kekurangan. Tapi sebagaimana kebun-kebun biasanya yang berfungsi menghasilkan oksigen (sumber kehidupan), maka dengan tetap menjaga kelangsungan hidup pun sudah sebaik-baik tugas kita. Toh tidak setiap masa meminta hasil panen yang melimpah juga. Justru kesediaan dan kesetiaan untuk senantiasa bertahan dalam ketentuan Allah tuh bentuk produktivitas tersendiri.
Jadi bayangkan, bagaimana kalau kebun bermodal embun ini justru dapat produktif dan tetap berbuah? Berarti skill syukurnya segimana coba? Berarti diri-dirinya sebagai pohon memang sudah menjadi pohon yang baik dan punya fleksibilitas dalam menerima qadha dan qadar Allah. Berarti kebun itu telah membuktikan ketangguhannya, karena tetap adaptif dan fungsional terlepas dari kondisi faktor eksternalnya.
Apalagi kondisi ideal ataupun terbatas tuh bukan hal yang bisa "diatur" oleh si kebun itu sendiri. Kita sebagai kebun tidak bisa "mengatur" cuaca dan kelembapan. Itu dihadirkan oleh Allah sebagai kenyataan yang nggak bisa kita sangkal. Artinya, akan selalu ada fase berlimpah dan fase kekurangan, fase dukungan penuh dan fase kemandirian. Barangkali dalam konteks inilah masing-masing kebun memiliki ladang ibadah yang tidak sama.
Kabar baiknya, kita tetap disebut "kebun"
Allah tuh nggak bilang kita sebagai pohon yang terpisah dari kebun lalu tidak mendapat hujan karena keterpisahan kita. Artinya, baik dalam kondisi hujan lebat maupun embun, identitas kita sebagai bagian dari kebun nggak pernah berubah.
Kita tetap dalam lindungan-Nya, tetap dalam rencana-Nya, tetap menjadi tempat di mana kehidupan dan kebaikan tumbuh. Nggak ada kondisi yang membuat kita "terpisah" dari kebun itu, selama kita tetap menjalankan tugas hidup kita yakni bertumbuh, berkembang, bertahan, dan berusaha untuk berbuah sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Dan mendedikasikan pohon tak kenal musim ini, adalah sebaik-baik kita bertumbuh. (Bloom in Belief, 32)
— Giza, anak kebun di dataran tinggi yang mudah-mudahan senantiasa dapat mensyukuri kecukupan dari embun maupun kelebatan hujan














