trakteer / ko-fi
Green tomatoes.
seen from Finland

seen from Malaysia
seen from China

seen from Italy
seen from China

seen from United States
seen from Suriname
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Hong Kong SAR China

seen from Singapore
seen from Japan
seen from Brazil
seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Japan

seen from Türkiye
trakteer / ko-fi
Green tomatoes.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
x
Pakan dedaunan untuk ikan Nila di kolam. Kami biasanya memakai daun singkong. Kandungan kalsiumnya bagus untuk pertumbuhan ikan.
©deehwang // tidak diperkenankan mencuri gambar untuk diunggah ulang.
Hai sobat tani !!
Kalian kesulitan menanam jagung? Sering terserang bule?
HAH? BULE?
Iya.. Bule atau Bulai merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman dengan gejala daun menguning dan dengan cepat menyebar di seluruh daun.
Mau tau cara pengendalian dan pencegahannya? Yuk simak sampai slide terakhir !!
Valve said “Lemme borrow your homework real quick.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Proyek Hidup Belajar Berenang
LUBABUN NI’AM
“Kamu bisa berenang, Am?” tanya Mas Darmanto. Kami duduk-duduk di tepi Sungai Rijn di Wageningen, Belanda, menyaksikan Gerei, anaknya, dari kejauhan sedang bermain-main pasir. Kalau saja ada pakaian ekstra, dan air sungai terasa lebih hangat, dia berkata bahwa Gerei mungkin sudah diajaknya masuk ke badan sungai untuk belajar berenang. “Aku selalu mengusahakan untuk mengajak Gerei ke luar (rumah). Dengan berada di sini, misalnya, dia dapat berinteraksi langsung dengan alam, entah dengan bermain-main pasir pantai atau kecipak-kecipuk di permukaan sungai. Biar dia luwes ketika berada di (alam) luar,” katanya.
Sayang, saat itu kami memang tak merencanakan pelesir ke Sungai Rijn. Bersama Mitha, teman lama yang saat ini sedang kuliah S-2, awalnya kami hendak pergi ke Pluktuin Sayuran, kebun sayur dan buah yang dikelola secara agroekologis oleh salah satu kawan. Setiap Rabu dan Sabtu, kawan kami membuka lapak di depan kebun untuk menjual bibit-bibit tanaman (strawberry, timus, dan lain-lain) serta jus dan selai hasil olahan buah-buahan dari kebun.
Sesampai di sana, ternyata kami tak diperbolehkan masuk ke areal kebun. Kami hanya mengunjungi meja lapak yang berada di tepi jalan. Untuk menghindari penumpukan orang di dalam kebun, yang mungkin sekali sulit untuk dikendalikan, kawan kami memutuskan untuk menutup sementara akses masuk pengunjung. Dalam keadaan normal, pengunjung boleh masuk dengan leluasa untuk memilih sendiri sayuran atau memetik buah dengan sesuka hati. Walhasil, kami pun tak berada lama di sana. Apalagi, ada rombongan lain yang mengantri di parkiran sepeda. Mereka tak mungkin mendekat agar tetap menjaga jarak, kami pun tak mungkin berlama-lama di dekat lapak. Setelah membeli sejumlah bibit dan selai, kami melanjutkan perjalanan untuk mengisi sisa Sabtu (4/11) yang masih panjang.
***
Saya menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di lingkungan pesisir, tepatnya di Desa Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Meski rumah orangtua saya tak langsung menghadap samudra, saya kira hanya membutuhkan kurang dari lima belas menit berjalan kaki untuk sampai di pantai terdekat. Tetapi, kedekatan dengan laut itu tak sanggup membangkitkan pesona saya akan pantai. Dalam benak saya yang terpatri sejak lama, pantai adalah luka di telapak kaki karena menginjak karang, yang meninggalkan rasa perih sangat menyebalkan.
Di Jenu, anak-anak belajar berenang di sungai atau sendang (bukan kolam renang), seperti umumnya anak-anak desa. Di desa tetangga, terdapat sebuah sungai yang membawa airnya langsung mengalir ke Laut Jawa. Saya bukan sama sekali tak pernah pergi ke sungai dan menceburkan diri ke badan sungai sebagaimana anak-anak lain sebaya saya. Hanya saja, ketika memasuki masa-masa kelayapan ke sungai, periode itu berdekatan dengan kasus seorang anak yang nahas, hanyut saat bermain-main di sungai dan ditemukan meninggal beberapa jam setelahnya. Karena itu, meski sungai tersebut terletak sepelemparan batu dari lokasi keluyuran untuk bermain layang-layang, bahkan saya selalu melaluinya ketika pergi dan pulang Jumatan, saya tetap gagal untuk belajar berenang di sana. Ketika saya kelelep dan megap-megap setiap kali mencoba untuk berenang (tanpa bimbingan), saya diliputi ketakutan akan menjadi anak berikutnya yang meninggal dan dibawa arus sungai. Pada satu titik, saya pun berhenti masuk ke sungai. Tidak ada lagi pengalaman berenang.
Upaya untuk belajar berenang bangkit kembali ketika saya kuliah S-1 di Jogja. Saya sempat pergi berenang ke kolam renang milik Universitas Negeri Yogyakarta, tapi tak berlangsung lama. Ketika saya bekerja di Pakem, saya juga sempat beberapa kali berenang, tapi juga tak berkelanjutan. Sesekali saya mencoba berenang di sejumlah kolam renang hotel setiap kali saya mengunjungi (mantan) pacar saya yang sedang dinas kerja. Bahkan, dia membelikan saya kacamata renang ketika kami pelesir ke Bogor. Pikir saya, dengan kacamata renang itu, setidaknya ada keterampilan yang bisa menjadi proyek hidup saya bersama dia. Dia mahir dan suka berenang, mungkin satu-satunya olahraga yang dengan senang hati dia lakukan, selain tenis. Proyek itu gagal di tengah jalan seperti halnya berbagai proyek pembangunan.
Saya turut membawa kacamata renang tersebut ketika terbang ke Belanda untuk kuliah kajian pembangunan. Saya tidak lagi merancang proyek belajar berenang dengan durasi sepanjang hayat di kandung badan. Seperti proyek-proyek pembangunan yang dikerjakan oleh LSM, selanjutnya saya beralih pada proyek belajar berenang yang sifatnya musiman.
Kali ini saya belajar bersama Bent, tetangga kamar di tempat tinggal sebelumnya. Dia tahu bagaimana cara mengajari saya. Dia berangkat dari apa yang sudah saya bisa. Saya cukup termotivasi ketika belajar berenang bersama dia. Kami mesti mendengarkan dengan baik ketika seorang nenek berbicara dalam bahasa Belanda tentang bagaimana teknik mengajari dan belajar berenang. Oleh orang yang lain, saya juga sempat diberi saran untuk mengikuti kelas berenang untuk dewasa, yang tak akan membuat berenang menjadi menyenangkan.
Saya pikir-pikir, pengalaman bersama Bent merupakan momen dengan tingkat kemajuan paling impresif dalam kisah hidup saya untuk belajar berenang. Sayang, sebelum saya mahir berenang, kolam renang yang paling dekat dengan kampus itu ditutup karena libur musim panas. Ketika saya hendak kembali ke Belanda lagi Februari silam, saya memastikan kepada Bent bahwa kami tak hanya akan berjumpa kembali, tapi juga harus melanjutkan pelajaran berenang yang belum kelar. Sial, tidak ada kolam renang (atau fasilitas-fasilitas olahraga yang lain) yang diperbolehkan untuk buka karena masih dilarang oleh Pemerintah Belanda.
***
Korona jelas membuat rencana Mas Darmanto, Gerei, Mitha, dan saya untuk menikmati akhir pekan di kebun, Sabtu (4/11), tak terlaksana. Tetapi, korona membuat apa yang belum sempat saya lakukan sebelumnya menjadi nyata, yang kemudian membuat saya bahagia.
Kami beranjak dari kebun, melanjutkan perjalanan. Setelah sempat memberhentikan Gerei di sebuah taman, kami meluncur ke Sungai Rijn. Selama kuliah, saya belum sempat pergi ke sungai ini, coba! Di sejumlah areal pantai dan lokasi yang hangat di sepanjang sungai, saya menyaksikan orang-orang—tentu saja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah tiga orang atau kurang—memanfaatkan siang sampai sore hari dengan menjemur badan. Para pemuda lain membelah sungai dengan perahu motor yang melaju kencang dan dentuman musik yang menggelegar ke mana-mana. Bagi mereka, dengan tetap waspada pada korona, akhir pekan yang hangat terlalu sayang untuk dihabiskan dengan mendekam di kamar saja.
Akhir pekan ini, saya berencana pergi lagi ke Sungai Rijn (mungkin ke hutan kecil di sekitar sana juga). Tapi, saya tak yakin akan berenang di sana. Saya masih menyimpan keterampilan berenang sebagai proyek hidup saya, entah dengan siapa nanti saya akan menuntaskannya.
Wageningen, 17 April 2020
trakteer / ko-fi
Last year's photo.