Bagaimana kita bisa mendapatkan suatu ketenangan, sedangkan kita masih belum bisa menahan keinginan untuk selalu mengendalikan orang lain.
Padahal ketenangan yang kita cari-cari letaknya tidak jauh dari kesabaran kita. Pada kebesaran hati kita untuk selalu bersedia berkompromi dengan keadaan.
Kemurahan hati kita menjadi jarang sekali tersentuh, karena emosi kita yang mudah sekali tersulut. Kita menjadi mudah marah pada masalah-masalah sepele.
Membusungkan dada ketika orang lain tidak sesuai yang kita harapkan, ketika orang lain berbeda pendapat, ketika orang lain berbicara menyentuh ranah pribadi kita.
Seperti saat melihat sebuah percikan api, kita selalu menyiramnya dengan bensin, bukan berusaha memandamkannya dengan air.
Emosi kita menjadi mudah sekali terbakar. Sampai-sampai orang lain tidak bisa lagi mengenali kerendahan hati kita. Tidak bisa lagi melihat rasa belas kasih yang kita miliki.