Petugas Stasiun Kereta Api mengumumkan bahwa kereta menuju Bogor segera memasuki Stasiun Sudirman. Itu keretaku. Tapi, apakah harus sekarang aku naiki? Ah tidak. Barusan aku yang bilang, aku akan terus disini, aku tak akan mengabaikannya. Si Dia yang telah lama ku kagumi. Yang pesonanya meluluhkan hati. Yang leluconnya berpadu dengan sikap tegasnya, membuat otakmu seketika menjadi desa antah-berantah dan kau bangun di tengah kerumunan manusia. Rindu yang membanjiri relung hatiku, seketika menjadi lautan susu, pantainya berpasir bening hingga kau masih melihat kakimu kau kubur di bawah pasir itu. Aroma lautan tercium sangat nyata, aku dibuat lumpuh. Saat ku nikmati buaian rasa rindu ini, mata elang itu melirik ke arahku. Jantungku berdegup kencang saat kau berkata dengan gayamu, “Ngapain lo liat-liat”. Oh Tuhan, walaupun kalimat itu pedas, tapi bagiku tak ada makanan yang lebih lezat tanpa semaian cabai rawit dan bubuk lada. Kalau saja di depanku ada cermin, sudah ku pastikan parasku tak terkendali. Menganga, berbinar, merona. Oh Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku mohon padaMu, berikanlah aku kekuatan. Harapanku hanya satu. Seperti biasa, dia yang selalu mengingatkanku untuk menjaga harga diriku. Ku harap lima tahun berlalu, imannya masih sekuat dulu, kuatnya dia hingga tega meninggalkanku. Tarik aku dari tatapanmu.
“Kan punya mata, makanya aku liat.”, jawabku dengan girang. Aku memang seperti ini kok, selalu riang gembira. Hanya saja, pupil mata ini yang membedakan saat ini dan saat-saat bahagia lainnya. Dia tak bisa berdusta. Tapi tak apa, iris mataku hitam, tak kan ada yang bisa melihatnya dalam jarak seperti ini.
Dia menunduk, kemudian hanya menghela nafas dan tersenyum kecil. Aku hanya dapat mendengar nafas ringan dan melihat lesung pipitnya itu, menggemaskan.
Aku, baru kali ini bisu saat bertemu dengannya. Aku hanya.. Terlalu haru dan bahagia. Namun ada rasa sesal dan benci juga padamu. Mengapa kau tak pernah menghubungiku. Kali ini, aku hanya bisa tersenyum bersyukur, kalau kalau ada kesempatan meminta maaf. Kali ini, aku hanya bisa berharap, jarimu tadi masih aman. Kali ini, aku sudah siap. Aku bukan lagi manusia yang dahulu kau kenal.
Tak ada kata yang dapat memcah hening suasana bangku stasiun ini. Aku hanya merubah senyum manisku dengan yang lebih lebar lagi. Tahu untuk apa? Tentu saja untuk membuatnya merasa jijik padaku. Hingga akhirnya dia melontarkan kalimat yang membuatku merasa menjadi manusia paling alay yang dia kenal. Tak apa, yang penting dia tertawa.
“Kamu pulang kemana?”, akhirnya kau membuka pembicaraan
“Ke.. Teeebet.”, sambutku dengan harap stasiun pemberhentian kami sama.
Kau tak banyak bicara sekarang. Apa kau sudah berubah? Mendengar jawabanku, kau hanya mengangguk dan melempar pandangan jauh ke depanmu.
“Udah setahun di Jakarta, kok ga ngabarin sih? Kan lo tau gue juga di Jakarta”, tanyanya dengan nada datar, suara berat, sembari menutup kitabnya dan memasukannya dalam saku mantelnya.
“Aku tahu kita pasti bertemu. Cepat atau lambat”, seperti biasa, kalimat puitis ringan ku lontarkan untuk meyakinkan dia atas perasaanku padanya. Ah, alasanku saja.
Akhirnya, muka jijik yang ku nantikan, tampil juga. Bola matanya memutar ke atas, bibirnya miring sebelah, dan hanya satu kata yang dia ucap, “Yaelah”. Diikuti geleng-geleng kepalanya.
Maaf, aku tahu aku ini pengecut. Aku tahu aku ini terlalu minder di hadapanmu. Aku, hanya merasa kau lebih baik dariku segala-galanya. Tapi aku tahu, ada kekuranganmu yang harus kututupi. Begitu pula kekuranganku yang harus kau tutupi. Setelah sekian lama ku mengamatimu, aku yakin suatu saat aku dan kamu akan menjadi kita. Kita saling melengkapi. Tapi, sekali lagi maafkan aku yang sungguh tak tahu malu, hanya berani mengungkapkan perasaan, tapi tak kunjung bertandang pada walimu. Ah, apa kabar mereka, enam tahun lalu kau mengajakku ke rumah. Aku bertemu dua orang istimewa yang membesarkan hingga sampai saat ini bisa ku cintai. Tapi, bodohnya aku. Aku merasa seperti tikus masuk dalam perangkap saat itu. Mencari-cari jalan keluar, ingin cepat berlalu. Tapi berhari-hari tak kunjung perangkap ini terbuka, akhirnya hanya terpojok kaku, pasrah, tak ada suara apa-apa. Payah.
“Kakak pulang kemana?” Tanyaku, aku memang memanggilnya kakak.
“Aku sebenarnya ga naik kereta.” Jawabannya membuatku bernostalgia. Selalu dia membuatku jatuh dalam kisah misteri. Dia misterius. Apa yang dia lakukan, selalu sulit ditebak. Maka kali ini dia menjawab tidak naik kereta, lantas apa yang dia lakukan disini?
“Kamu selalu naik kereta di stasiun ini? Aku tinggal nggak jauh dari sini.” Tambahnya lagi.
“Terus kakak ngapain disini?” Tanyaku kembali.
“Ada deeh, haha”, jawabnya. Huh dasar, pelit bicara. Tapi semakin dia merahasiakan kehidupannya, semakin aku suka.
Dan perbincangan lainnya berlanjut. Mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, keluarga di rumah, dan teman-teman kami yang sudah lama tak ia dengar kabarnya.
Jam hampir menunjukkan pukul setengah 6. Sepatu-sepatu pantopel mulai membuat membuat kegaduhan di atas bangunan ini. Temponya cepat, seakan ada yang mereka serbu di bawah sana. Ya, mereka menyerbu gerbong yang harus direbut. Entahlah sudah seperti apa situasi di bawah sana, di peron bogor. Aku tahu, probabilitas ku pulang cepat hari ini sudah kecil. Biasanya satu jam yang lalu aku sudah mendapat barisan paling depan. Pasang badan bak barikade massa aksi. Tapi hari ini, aku dibuat menikmati indahnya langit senja, berpadu manis dengan kehadirannya disini.