Sewindu sudah rasanya aku melupakanmu
Melupakan semua tentang kita, tentang kali pertama kita bertemu, dan tentang perpisahan..
Masihkah kau menggunakan kaos putih oblong dan kemeja kotak-kotak?
Maaf, novelku tak sampai habis selesai ku tulis yang berisi tentangmu, tentang tragisnya kisah kita
Padahal aku ingin seisi dunia tahu bahwa kita terpisah bukan berpisah!
Kau ingat Tuan, kali pertama kau mengajaku berkencan? Iya, Museum Galeri Jakarta!
Kita berangkat dari stasiun ke stasiun, kau memotretku diberbagai sudut
Saat handphone ku rusak, kau seperti ayam yang kehilangan induknya. Bingung, cemas, gaduh, jenuh!
Lalu kau menelpon tempat kerjaku saat itu
Hah, bisa bisanya kau tahu nomer kantorku?
"Kak, ada telfon dari luar untuk kmu dimeja administrasi nomer 3"
Aku bergegas menerima telpon itu
"Hallo, kamu kemana saja? HP kamu kenapa tidak aktif? Aku khuatir. Kamu baik-baik saja kan? Nanti aku jemput, aku izin pulang cepat, tunggu aku ya". Suara dibalik telpon itu
Rela kau tempuh hanya untuk memastikan wanitamu baik baik saja..
Kau menunggu jam pulang kerjaku dibangku pasien dipojokan sambil sesekali tersenyum menyemangati
Jam dinas telah selesai, kau menghampiriku dengan setangkai bunga mawar dan sebatang coklat yang kau bawa
"Untuk tuan putri ku, biar senyummu mengalahkan lelahmu hari ini"
Semua orang meledek dan menggoda
Sampai pada hari dimana kau melamarku disebuah caffe coffe
Kau memberiku sepiring potongan cake, kau menyodorkan cake itu yang diatasnya kau taruh sebuah cincin. Ah, indaahhh sekali..
Kau melamarku saat itu, kau lelaki romantis!
Cincin itu kau pakaikan ke jari manisku. Pas!
Tapi, dari mana kau tahu ukuran jariku sedangkan jari ku begitu kecil?
"Kemaren diukur pake jari aku seberapa besarnya, sengaja aku pegang jari kamu, dan untungnya aku ingat lingkaran jarimu seberapa besar"
Aah.. lagi dan lagi kau membuatku menangis bahagia. Serasa aku adalah wanita paling beruntung memiliki lelaki sepertimu
Kita menyebrangi pulau, perahu yang kau sewa itu membuatku mual dan pusing
Tapi kau ada disampingku, bergurau dan meledek seakan semua akan baik-baik saja
Sesampainya dipulau, sandalku basah, syok!
Saat kau membersihkan sandalku. Kau begitu romantis Tuan..
Hari telah petang, saatnya pulang sayang!
Disepanjang pulang kau bergurau dan membuatku tertawa memeluk indahnya tubuhmu sambil bernyanyi bersama diatas sepeda motor vario putih milikmu
Setiap malam, kita selalu bercerita dibalik riuhnya telpon
Aku menangis saat kau menceritakan kisah pilumu kala itu, bertukar cerita ttg keluarga dan dunia masing-masing
"Dongengin dulu!" Pintaku
Serasa tidak mau memboloskan dirimu disetiap malam untuk mendongengkan ku dengan cerita karangan yang entah tidak pernah nyambung dan tidak ada endingnya. Tapi aku suka!
Aku rindu dongeng ambigu itu...
Pada akhirnya kita terpisah dengan keadaan dan jarak
Aku akan selalu menunggumu sayang..
"Aku akan izin menikahi kamu kepada ayahmu dan kamu ikut aku ke Batam" pintamu
Ayahku tak mengizinkan, cepat pulang dan pinanglah anaku. Tegas ayahku
Kau kecewa, kau hilang arah dan kau menangis dipeluku
"Jangan menunggu, aku tidak tahu kapan akn kembali. Jaga dirimu sayang". Ucapmu lirih sambil mengusap air mataku
Kini, aku harus merelakan dirimu kepada wanita yg beruntung selain aku disana
Bahagialah, dan berpanjang umurlah Tuan berkaos putih oblong..