Terkadang hidup membawa kita pada hal-hal yang tak terduga. Yang merusak hari, mengoyak asa, meleburkan harapan. Terkadang hidup membawa kita beranjak dari satu luka ke luka yang lain. Memaksa kita bertahan padahal kita hanya ingin tenggelam Dan meraung sejadinya. Terkadang hidup mengajarkan kita untuk beranjak dengan paksa, atas apa yang kita cinta, atas apa yang kita damba. Terkadang memang hidup menuntun kita dari satu kecewa kepada kecewa yang lain.
Lalu untuk apa kita hidup? Untuk apa kita bertahan? Untuk apa kita bertanya? Untuk apa kita dipertanyakan? Lelah di dera. Namun ternyata, hidup tak hanya berkutat perihal luka. Tak hanya berkubang dalam keterasingan dan keterpurukan. Bukan pula perihal melupakan luka. Kita bisa memilih untuk beranjak atau menatap. Tetap berkubang, atau Bangkit. Karna ternyata, selalu ada banyak hal yang diperoleh saat kita berserah. Karna memang selalu ada pelangi setelah badai. Walau kadang kita yang terlalu rumit menilai dan menakar hal-hal tersebut.
Dan saat kita akhirnya berdiri, menatap dunia dengan pandangan yang lebih tajam dan penuh makna, kita menyadari bahwa yang memeluk kita bukanlah hanya kebahagiaan, melainkan luka itu sendiri. Luka yang mengajarkan kita untuk mencintai diri kita dengan cara yang baru, menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada. Karena dalam menerima dan memeluk luka, kita akhirnya menemukan kedamaian sejati.
Semoga kita kelak menyerah untuk menyerah...