EGOSENTRISME
Tidak apa bila tangis begitu keras, karena langit takkan pernah mengalah akan deras. Juga enggan peduli pada puisi yang ia sendiri tak mampu mengerti.
/
Bukankah langit adalah sesuatu yang paling egois? bersama awan, pura-pura menjadi paling murung untuk kaumku meratap, sedang ia begitu bahagia akan kepedihan yang setema sore itu.
/
Tapi aku bisa sembunyi darinya, setidaknya sampai malam. Saat langit buta, namun tak tuli pun bisu. Jadi jangan berteriak dan mengemis.
/
Aku akan melupakan hujan. Apapun itu. Aku harus melupakan hujan. Karena lelahku sendiri juga egois, memangku erat dan menggugat; kau milikku, dalam tempo waktu yang selamanya!
— Purwakarta, A.














