Titik Pasrah
Pernah terpikir tidak, tentang titik paling sunyi dari seseorang yang sedang patah?
Ia ada pada momen ketika segala amarah mendadak bungkam, menyisakan jemari yang gemetar saat mengeja: "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin". Sebuah pengakuan sunyi bahwa hati telah terlampau jauh tersesat dalam harapnya sendiri, sampai akhirnya ia tertidur lelap dalam pasrah yang paling dalam.
Lalu saat pagi kembali, dan ia mendapati sisa perih itu ternyata belum juga beranjak, bibirnya hanya mampu berbisik lirih: "Robbi inni massaniyadh dhurru wa anta arahmur rahimin". Ia tak lagi mencari siapa yang salah, ia hanya sedang menunjukkan serpihan dirinya pada Sang Pemilik Kesembuhan.
Pada saat itulah, urusannya dengan dunia telah benar-benar usai. Ia sudah menitipkan lukanya pada tangan yang paling berkuasa. Dan tanpa perlu diminta, di titik itulah penyesalan bagi yang pernah mematahkannya akan mulai merayap perlahan, tanpa suara, namun jauh lebih menyakitkan dari sekadar sebuah kehilangan.
--
memaafkan adalah perjalanan paling sunyi yang pernah ditempuh manusia. di dalamnya hanya ada percakapan jujur antara luka dan doa yang tak terucap. biarlah langit yang menjaga bagian-bagian yang tak sanggup kita genggam sendiri. sebab terkadang, cara terbaik untuk pulih adalah dengan benar-benar berserah.
















