Inget,
Jangan berlebihan, nanti sembuhinnya susah lagi. Secukupnya aja, biar kalau sakit juga gak kelamaan..
Sebab, kadang yang bikin kecewa itu bukan sikap-sikapnya tapi ekspektasi kamu yang ketinggian..
KIROKAZE
𓃗
I'd rather be in outer space 🛸
Misplaced Lens Cap

ellievsbear

if i look back, i am lost
hello vonnie
macklin celebrini has autism

titsay
ojovivo

Origami Around

#extradirty
taylor price

Keni
Lint Roller? I Barely Know Her
YOU ARE THE REASON
d e v o n

gracie abrams

@theartofmadeline

seen from Argentina
seen from Venezuela

seen from Hong Kong SAR China
seen from Mexico

seen from United States

seen from Canada
seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from South Korea

seen from United States
seen from Lithuania

seen from Australia
seen from Costa Rica

seen from United States
seen from Russia

seen from Netherlands

seen from Germany
seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
@jelagaku
Inget,
Jangan berlebihan, nanti sembuhinnya susah lagi. Secukupnya aja, biar kalau sakit juga gak kelamaan..
Sebab, kadang yang bikin kecewa itu bukan sikap-sikapnya tapi ekspektasi kamu yang ketinggian..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lurus;
Ternyata, punya pikiran yang lurus-lurus aja itu bikin hidup jauh lebih tenang.
Dia tak membalas chat atau telpon, mungkin sedang sibuk.
Dia pergi begitu saja, mungkin memang tak menemukan alasan untuk tinggal.
Dia mengingkari janji, mungkin memang sejak awal kata-katanya lebih besar daripada kemampuannya.
Dia sering berbohong, mungkin itu memang kelebihannya.
Gak perlu marah. Gak usah mengejar penjelasan.
Sebab orang yang benar-benar ingin menjaga kita, tak akan membuat kita selalu menerka-nerka posisi kita di hidupnya.
Biar dia dengan pilihannya, kita dengan ketenangan kita.
Saat Sepi Tak Lagi Menakutkan Baginya..
Mencoba mencintai seseorang yang sudah terlalu lama berteman dengan sepi itu memang gak mudah, butuh kesungguhan ekstra. Kamu tidak bisa datang setengah hati, apalagi hanya menawarkan kesenangan semu dan kepastian yang pasang surut.
Sebab, di balik tenangnya, saat kecewa dialah orang yang paling siap melangkah pergi.
Ia telah menempa dirinya untuk terbiasa berjalan sendiri: menyelesaikan rumitnya masalah tanpa merepotkan siapa-siapa, dan mengambil keputusan besar hanya berdiskusi dengan dirinya sendiri. Ketenangan dan kedamaian hidup yang ia miliki hari ini dibangun bertahun-tahun lewat proses yang tidak mudah. Wajar jika ia sangat menjaga ruang itu dari kehadiran yang hanya menambah beban.
Jangan pernah mengira ia akan menggantungkan bahagia padamu dan mau bertahan ketika diperlakukan semena-mena.
Begitu kamu mulai tidak konsisten, memberi ketidakpastian, atau membuatnya lelah secara emosional, ia tidak akan ragu untuk berbalik arah.
Bukan karena ia dingin atau tak punya rasa, melainkan karena ia sudah membuktikan pada dirinya sendiri: kesendirian ternyata tidak pernah semenakutkan itu.
Jadi, jika kamu berniat hadir di dunianya, pastikan hadirmu memberi rasa hangat yang melebihi kedamaian yang sudah ia racik sendiri. Ia tidak sedang mencari sosok tempat bersandar, melainkan seorang teman perjalanan yang membuat hidupnya terasa jauh lebih indah dan menenangkan.
Orang yang sudah berdamai dengan sepi tak akan takut kehilanganmu, justru kamulah yang harusnya takut kehilangan sosok seperti dia.
Salah satu puncak kebahagiaan hidup seseorang itu ada ketika kepergiannya bukan lagi untuk meninggalkan seseorang, dan penantiannya bukan sebab menunggu siapapun
Sebab sunyi baginya bukan sesuatu yang mematikan, dan kesendirian bukan lagi yang mengemis perhatian.
"Kenapa orang-orang baru cari payung saat hujan turun?"
Karena mereka membutuhkan itu
Jadi, jangan seneng dulu kalau kamu dicarinya cuma kalau lagi hujan...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Secangkir Malam, Sebait Hati;
Ada orang-orang yang tak lagi mengejar tepuk tangan, sebab sunyi telah mengajarkan bahwa tenang tak pernah lahir dari keramaian.
Ia duduk di sudut malam, dengan secangkir kopi yang perlahan mendingin. Bukan karena tak ada yang menemaninya, melainkan karena ia telah belajar bahwa tidak semua yang datang akan tinggal.
Tangannya menggenggam cangkir, sementara hatinya menggenggam dirinya sendiri.
Tak lagi haus akan perhatian, tak lagi lapar pada pujian. Ia telah selesai berdamai dengan ruang yang dulu disebut kesepian.
Kini, sepi hanyalah rumah yang ia bangun dari luka-luka yang tak sempat diceritakan. Jika kamu datang membawa kata-kata manis, senyumnya masih tetap ada untukmu.
Namun kamu harus tau, tak mudah membuka pintu yang karatnya telah berakar ke jiwa. Bukan karena hatinya membeku, melainkan karena ia telah mengerti, bahwa janji paling indah sering kali diucapkan oleh mereka yang paling cepat meninggalkan.
Orang-orang mengira ia dingin, padahal ia hanya berhenti menghangatkan tangan yang tak pernah berniat menggenggamnya.
Lingkarannya kecil, tetapi di sanalah ketulusan tinggal. Ia lebih memilih diam daripada berbicara demi disukai.
Sebab ia tahu, nilai seseorang tak pernah ditentukan oleh banyaknya orang yang mengenalnya, melainkan oleh sedikit orang yang tetap memilih tinggal.
Maka jangan takut pada seseorang yang menikmati kesendiriannya. Takutlah ketika ia masih memohon agar kamu tidak pergi.
Karena seseorang yang telah akrab dengan sunyi, tak akan mudah dipatahkan rayuan, tak akan mudah dibeli perhatian, dan tak akan tinggal di tempat yang tak lagi menghargainya.
Biarlah malam memeluknya, dan kopi menjadi saksi bahwa kebahagiaan paling tenang bukanlah yang ditemukan pada orang lain, melainkan yang diam-diam ia seduh sendiri, setiap kali hidup mengajaknya pulang kepada dirinya sendiri.
Pertemuan kembali dengan luka yang lupa pernah berdarah-darah;
Malam ini, masa lalu merambat pelan melalui kepulan uap kopi yang perlahan memudar.
Pintu yang telah lama kukunci rapat, tergerendel oleh sunyi dan luka yang menua, tiba-tiba memudar engselnya saat tatapan itu kembali menatapku.
“Kamu apa kabar? Lama ya kita tidak bertemu…”
Suaramu mengalun, hangat dan ramah seperti dulu. Namun di telingaku, ia bergemung layaknya gema dari pemakaman masa lalu, sebuah pengingat akan bayang-bayang yang telah kukubur di balik waktu.
Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum pertahanan diri.
Genggaman tanganku mengerat pada cangkir putih yang dingin, mencari tumpuan agar tak runtuh di hadapanmu.
“Aku baik.”
Hanya dua kata yang sanggup kulepaskan. Singkat, datar, dan menyembunyikan badai yang bergemuruh di balik dadaku. Tak ada lagi tawa yang dulu kerap kupunya, tak ada lagi celoteh hangat yang biasa kupasrahkan padamu.
“Kamu sekarang lebih pendiam…” ucapmu kemudian.
Kamu tersenyum, menyadari ada celah dingin yang memisahkan kita.
Kamu tidak tahu, bahwa pendiamnya aku hari ini adalah gumpalan retakan yang kukumpulkan sendiri setelah kepergianmu dari hidupku dulu. Setiap detik keheningan yang kutawarkan adalah benteng terakhir agar kenangan lama tak kembali menelan jiwa yang telah payah kusembuhkan.
Kini, kita kembali duduk berhadapan di bawah lampu remang yang temaram, meminum sisa-sisa kenangan.
Begitu dekat secara raga, namun terpaut jarak bertahun-tahun cahaya yang tak akan pernah bisa kita seberangi lagi.
"Yang rusak diperbaiki, bukan diganti.."
~ katamu dulu
Sebuah petuah usang yang kamu rapalkan dengan nada paling suci, seolah kamu adalah juru selamat dari segala hal yang retak.
Namun, kamu lupa menaruh catatan kaki pada kalimat itu: "bagaimana jika yang rusak adalah pondasinya? How do we fix something that was built to collapse?"
Kamu memaksa aku mengukir kayu yang sudah berubah jadi arang. Kamu menyuruhku memungut pecahan kaca dengan tangan telanjang, memintaku menyatukan kembali setiap serpihannya, sementara darah dari jemariku pelan-pelan menodai lantaimu.
Kamu romantisir rasa sakit sebagai "perjuangan," dan kamu sebut kepasrahan sebagai "kesetiaan."
Ini bukan lagi soal memperbaiki seperti kamu bilang, tapi ini tentang kebodohan yang dirawat dengan sengaja.
Ada hal-hal yang memang tak diciptakan untuk abadi. Ada kerusakan yang begitu paripurna, hingga memperbaikinya hanya akan melahirkan monster baru yang lebih cacat.
Sadarilah, kadang dinding yang kamu sanjung itu sudah usang dan terlalu keropos. Tapi kamu bersikeras mengecatnya kembali, hanya agar dunia luar tak melihat bahwa di dalamnya, kita sudah lama membusuk..
Dan melupakanmu adalah pilihan terbaik walau mungkin tak mudah untuk ku lakukan. Sebab, melepaskan dan mengganti dengan yang baru bukanlah bentuk pengkhianatan, itu adalah cara paling waras untuk bertahan hidup sebelum kita mati tertimbun reruntuhan yang sama.
Stasiun Penantian yang Pucat;
Kita adalah dua gerbong yang berpapasan disebuah pemberhentian. Pertemuan yang hanya untuk saling membisikkan perpisahan sebelum roda besi memutus takdir.
Stasiun ini saksi bisu; bukan tentang siapa yang datang, melainkan tentang betapa mahirnya kita dalam mematikan api yang baru saja menyala.
Kau melangkah ke utara, membawa separuh jiwaku yang kau curi tanpa izin, sementara aku terdampar di selatan dengan sisa-sisa aroma tubuhmu yang membusuk di ingatan.
Kita menyebutnya "belajar tentang cinta", namun bukankah itu hanya nama lain dari kehancuran yang terencana?
Kita membiarkan hati tumbuh di atas tanah yang sama, hanya untuk melihatnya layu karena janji-janji yang tak pernah berniat untuk ditepati.
Kini, jika takdir mempertemukan kita kembali di peron yang sama, aku tak akan lagi bertanya tentang "mengapa".
Aku akan tersenyum sebagai sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan retakan di balik dada, lalu berterima kasih karena telah mengajarkanku satu hal yang paling brutal: bahwa pertemuan hanyalah perkenalan singkat dengan kehilangan, dan memiliki hanyalah ilusi yang sengaja kita ciptakan agar tak merasa begitu hampa saat akhirnya harus melepaskan.
Kita adalah kebaikan yang salah alamat, sebuah musim yang datang hanya untuk membekukan segala yang tersisa.
Pada akhirnya, kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan saling mengenali, terjebak dalam delusi bahwa pertemuan adalah sebuah takdir, padahal kita hanyalah sepasang luka yang sedang menunggu antrian untuk saling melupakan.
Hey, jangan sebut ini pertemuan; ini hanyalah perpisahan yang tertunda, yang sengaja kita bungkus dengan kata 'kebaikan' agar tidak terlalu menyakitkan saat sadar bahwa kita memang tidak pernah benar-benar diciptakan untuk memiliki satu sama lain.
Menepi;
Tahukah?
Terkadang, seseorang menghilang bukan untuk memutus tali, tetapi untuk menjahit kembali robekan jiwa yang ia sendiri tak tahu di mana letak lukanya.
Ada yang pergi, bukan karena pintu telah tertutup rapat oleh amarah, melainkan karena ia tengah lelah mengeja dirinya sendiri di tengah bising dunianya.
Usah risau, beri dia waktu untuk berdamai dengan riuh di kepalanya. Seringkali, seseorang butuh jarak bukan untuk menjauh darimu, melainkan untuk pulang ke dirinya sendiri, memunguti serpihan semangat yang sempat tercecer, agar kelak saat ia kembali, ia adalah jiwa yang utuh, bukan lagi bayang-bayang yang rapuh akan masa lalu..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jangan risau jika di usia kamu sekarang belum menikah. Saat ini masalahnya cuma satu, itu aja "belum menikah".
Sebab setelah menikah, masalahmu akan lebih dari satu..
Keras Kepala Menggenggam Takdir;
Matahari tak pernah meminta izin pada malam untuk menyisakan senja, begitupun caraku mencintaimu dengan keras kepala, di luar restu semesta.
Aku telah melipat jarak, memeras peluh, dan menempuh beribu labirin sunyi yang kau sebut sebagai "usaha". Semua kulakukan demi melihat seulas senyum di bibirmu, sekadar untuk membohongi dunia bahwa bersamaku, kau baik-baik saja. Padahal aku tahu, isi kantong dan genggamanku teramat pekat oleh kesederhanaan yang meraba-raba di dalam gelap. Aku hanya punya hati yang ringkih, sementara dunia menuntutmu bersanding dengan kemegahan.
Kita adalah sepasang nisan tanpa nama di tanah larangan; cinta kita dikubur hidup-hidup oleh penghakiman mereka yang merasa berhak menentukan bahagia.
"Tak ada restu!" kata mereka, sebuah vonis dingin yang memotong nadiku berkali-kali.
Namun, lihatlah kegelapan ini. Aku tidak sedang sekarat; aku sedang menempa diri. Di bawah tirai langit yang kelam dan bisikan-bisikan sinis yang meragukanku, aku merangkak dan bertarung dengan takdir. Setiap luka yang menganga di tubuhku adalah bukti, sebuah manifesto berdarah bahwa aku sedang bertaruh dengan waktu.
Aku akan tegak berdiri di depan altar penolakan mereka, menyodorkan seluruh hancurku yang telah menjelma menjadi tameng hati, hanya untuk membuktikan satu hal yang paling tajam menusuk dada mereka: "aku teramat pantas untukmu, bahkan jika semesta harus mengutuk kita."
"Secangkir Peng-abaian"
Dia pernah hangat, sehangat pelukan mentari diujung senja.
Lalu, kau membiarkannya di sana, tergeletak di sudut meja. Uapnya yang semula membubung tinggi, serupa rindu yang menggebu atau rona yang paling jujur, kini lumat ditelan udara malam. Kau terlalu sibuk menatap hal lain, hingga lupa bahwa kehangatan punya batas kedaluwarsa.
Sekarang, tengoklah cangkirmu.
Warna hitamnya tak lagi menjanjikan ketenangan, melainkan menjelma menjadi genangan sunyi yang pekat. Ketika akhirnya kau memutuskan untuk menyentuhnya, bibir cangkir itu sudah sedingin tatapan seseorang yang telanjur mati rasa.
Jangan mengeluh jika sesapan pertamamu terasa asing. Pahitnya tidak lagi ramah, dan asamnya tak lagi meninggalkan kesan yang indah. Itu bukan lagi kopi; itu adalah sisa-sisa kepedulian yang terlambat kau peluk kembali.
Sebab di dunia ini, ada beberapa hal yang tidak diciptakan untuk menunggu. Begitu kau abaikan dan kaubiarkan dingin, ia tidak akan pernah bisa dihangatkan lagi dengan cara yang sama. Ia hanya akan menjadi racun bagi ingatanmu sendiri.
...
Begitu pun dengan kita, atau apa pun yang pernah sepakat untuk disebut sebagai "kita".
Dulu, kita adalah seduhan yang baru turun dari filter, dengan aroma yang memenuhi seluruh ruang kepala, panas dan penuh gairah. Kau memegang tanganku seolah takut suhu itu akan hilang, seolah setiap teguk adalah satu-satunya alasan untuk tetap terjaga.
Namun, ada masanya kau meletakkan cangkir itu terlalu lama di atas meja. Kau sibuk dengan duniamu sendiri, dengan ambisi-ambisi yang kau anggap lebih mendesak daripada sekadar menjaga hangat di antara jemari kita. Kau membiarkan jarak tumbuh, membiarkan udara dingin merambat masuk ke sela-sela percakapan kita yang mulai hambar.
Sekarang, lihatlah.
Hubungan ini serupa kopi yang sudah ditinggal lupa. Ia tidak lagi memberikan pelukan yang meredam resah. Saat kau akhirnya kembali dan mencoba menyesapnya, kau justru terkejut oleh pahitnya yang menusukmu, bukan karena kopinya yang salah, tapi karena kau baru sadar bahwa rasa yang dulu manis telah membusuk karena pengabaianmu sendiri.
Kita tidak mati, kita hanya dingin. Dan sayangnya, kau tahu betul bahwa tidak ada api yang cukup besar untuk membuat cangkir yang sama terasa hangat seperti pertama kali aku menyeduhnya dulu.
Trauma;
"Kalau kamu punya luka atau trauma masa lalu, jangan selalu minta orang lain mengerti dan memaklumi sikap-sikapmu yang mungkin menyakitinya"
Sebab, orang lain juga punya tapi mereka mau belajar mengendalikan diri..
---
Ada perbedaan besar antara:
"Aku sedang berjuang dengan lukaku" (ini jujur dan manusiawi), dengan :
"Karena aku punya trauma, kamu harus selalu mengerti dan memaklumi kalau aku mungkin menyakitimu". (ini sudah jadi bentuk eksploitasi emosional, sadar atau tidak)
Cobalah untuk berhenti menjadikan trauma sebagai perisai, jangan selalu ingin berucap: "Kamu tidak boleh marah, aku sudah bilang aku trauma."
Orang yang benar-benar sayang padamu akan berusaha mengerti. Tapi kalau kamu terus meminta pemakluman mereka setiap kali kamu menyakiti mereka, suatu saat mereka akan memilih untuk menyelamatkan diri dan pergi menjauh dari hidupmu.
Bukan karena mereka tidak sayang, bukan sebab mereka tidak pengertian, tapi karena mereka juga manusia yang punya batas.
Hanya dirimu sendiri yang bisa menyembuhkan segala traumamu, orang lain hanya penyerta dalam usahamu.
Figuran dalam Naskah Utama;
~ sebuah refleksi juli
"Aku adalah catatan kaki yang kau baca hanya saat kau butuh penjelasan, sementara dia adalah judul besar yang kau banggakan di halaman depan. Aku ada di setiap paragraf sulitmu, namun namanyalah yang kau tulis di akhir cerita sebagai bahagia."
Kesalahan terbesarku adalah: membuat diriku "terlalu tersedia."
Aku menjadi seperti udara; kau butuh untuk bernapas, tapi kau lupa aku ada karena aku selalu ada. Kau hanya mencari cahaya yang menyilaukan, meski ia sering membakar matamu, sementara aku yang redup namun terus menyinari jalanmu, kau biarkan menunggu di sudut sepi."
Lucu memang, bagaimana aku selalu menjadi tempatmu pulang saat dunia menghancurkanmu, tapi tak pernah menjadi alasanmu untuk menetap. Aku adalah pelabuhan yang selalu kau datangi untuk menepi saat badai, dan dia adalah samudera yang ingin kau arungi meski kau tahu kau akan tenggelam di dasarnya..
Sebab kenyataannya, yang selalu ada tak selalu jadi yang dipilih

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
🌿 "Rumah Tangga Dua Pujangga";
Tokoh:
Raka : Suami, penyuka rasa yang percaya bahwa kopi dan cinta punya kadar gula yang sama: tergantung siapa yang menyeduh.
Nira : Istri, penulis puisi yang bisa membuat daftar belanja terdengar seperti mantra cinta.
Adegan 1: Pagi di Rumah Kata
(Cahaya lembut menembus tirai. Raka masih meringkuk di kasur, sementara Nira sedang menyingkap tirai jendela meminta mentari masuk ke dalam rumah)
Nira: "Wahai suami belahan jiwa yang sering lupa waktu, matahari sudah menulis paragraf pertamanya di langit, kau masih saja jadi tanda koma di kasur empuk itu.."
Raka: (berguling malas)"Biarkan aku jadi koma sebentar lagi, Sayang. Karena setiap bangun, aku takut hari ini tak seindah puisimu kemarin malam.."
Nira: "Halah, alasan klasik penyair malas. Bangunlah, kopi sudah kusiapkan. Hitam pekatnya seperti nasib dompet kita menjelang akhir bulan.."
Raka: "Ah, kopi buatanmu selalu membuatku jatuh cinta berulang-ulang, walau tanpa gula, rasanya manis… karena bibirmu dulu yang mencicipinya.."
Nira: (sambil menatap sinis tapi senyum kecil muncul) "Kalau saja cinta bisa dibayar dengan rayuan, kita tak akan pernah mengeluarkan uang untuk membayar listrik.."
..................
Adegan 2: Siang di Dapur Cinta
(Dapur ramai dengan aroma bawang tumis dan suara sutil dan wajan yang menari.)
Nira: "Hari ini kau ingin makan apa, Raka? Antara nasi goreng romantis atau mie instan puitis?"
Raka: "Mie instan saja Sayang. Karena cinta sejati tak harus serumit bumbu-bumbu yang harus kau racik, kadang dia cukup diseduh tiga menit."
Nira: "Haha, dasar lelaki pandai berhemat! Baiklah, mie instan puitisku satu porsi, dan satu porsi lagi dengan penuh harapan supaya dapur kita tak kehabisan ide."
Raka: "Ah, setiap sendok yang kau aduk, begitu indah dan rasanya begitu meresap, seperti bait puisi yang kau racik di wajan kehidupan kita."
Nira: "hmmm, makin pandai merayu rupanya.. Tahukah kamu jika Ada rasa bahagia yang tak bisa diterjemahkan kata, ketika setiap suapanmu menjadi pujian tanpa suara."
Raka: "Baiklah, mari kita makan, bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk menegaskan bahwa cinta juga butuh lauk, bukan hanya kata-kata tanpa makna."
...................
Adegan 3: Sore yang Melankolis
(Mereka duduk di teras, menatap langit senja.)
Raka: "Lihat, Sayang. Senja itu seperti kita, indah, hangat, tapi cepat sekali hilang kalau nggak dijaga."
Nira: "Benar. Makanya jangan sibuk main ponsel tiap sore, biar senja nggak cemburu."
Raka: “Baiklah Sayang, kuletakkan dunia maya yang masih kugenggam ini. Kini hanya ada aku, kau, dan senja ini. Sebab yang kuinginkan hanya satu: esok tetap kutemukan kamu, masih di hidupku, masih di dadaku.”
Nira: (ketawa kecil)"tapi jangan lupakan tagihan listrik yang besok jatuh tempo."
...................
Adegan 4: Malam, Saat Puisi Menjadi Nyata
(Lampu temaram. Mereka duduk di ruang tamu, Raka menulis di buku catatan, Nira membaca)
Nira: "Kau menulis apa, Raka? "
Raka: "Sebuah puisi untukmu. Judulnya: “Perempuan yang Menggoreng Mimpi dan Menghidangkannya dengan Sambal Cinta.”"
Nira: (tertawa keras) "Wah, itu puisi atau resep masakan gagal?"
Raka: "Keduanya, Sayang. Karena di rumah ini, setiap masakan yang kau masak adalah metafora pernikahan. Kadang asin, kadang gosong, tapi selalu ada rasa untuk bertahan".
Nira: (tersenyum lembut) "Kalau begitu, mari kita hidupkan lagi puisinya besok. Karena malam ini aku cuma ingin merebah di pelukmu, dan tetap dekap aku dengan hangat cintamu, bukan dengan renungan."
Raka: "Baiklah, bidadariku. Mari kita rebah bersama, biar mimpi yang melanjutkan kisah kita malam ini."
(Lampu meredup. Mereka tertawa kecil, Ia bersandar di bahunya, sementara dunia di luar jendela perlahan tenggelam dalam malam yang semakin meninggi, seperti nada penutup dari hari yang sempurna, sederhana, tapi penuh makna)
“Cinta tak perlu megah, cukup dua hati yang bersyair setiap hari, kadang lewat tawa, kadang lewat cuci piring bergantian.”
Selalu senyum setiap kali membacanya. Mengingat-ingat lagi momen apa yg menginspirasiku menulis tentang ini..
Bahagia yg sederhana, walau tak se-sederhana itu mampu tercipta..
Jika ada seseorang yang lama tak berkomunikasi denganmu, tiba-tiba datang dan bercerita banyak hal, jangan dulu senang, jangan dulu merasa dia nyaman bersamamu.
Sebab dunia ini berjalan berdasarkan KEPENTINGAN, bukan keperdulian..