"Secangkir Peng-abaian"
Dia pernah hangat, sehangat pelukan mentari diujung senja.
Lalu, kau membiarkannya di sana, tergeletak di sudut meja. Uapnya yang semula membubung tinggi, serupa rindu yang menggebu atau rona yang paling jujur, kini lumat ditelan udara malam. Kau terlalu sibuk menatap hal lain, hingga lupa bahwa kehangatan punya batas kedaluwarsa.
Sekarang, tengoklah cangkirmu.
Warna hitamnya tak lagi menjanjikan ketenangan, melainkan menjelma menjadi genangan sunyi yang pekat. Ketika akhirnya kau memutuskan untuk menyentuhnya, bibir cangkir itu sudah sedingin tatapan seseorang yang telanjur mati rasa.
Jangan mengeluh jika sesapan pertamamu terasa asing. Pahitnya tidak lagi ramah, dan asamnya tak lagi meninggalkan kesan yang indah. Itu bukan lagi kopi; itu adalah sisa-sisa kepedulian yang terlambat kau peluk kembali.
Sebab di dunia ini, ada beberapa hal yang tidak diciptakan untuk menunggu. Begitu kau abaikan dan kaubiarkan dingin, ia tidak akan pernah bisa dihangatkan lagi dengan cara yang sama. Ia hanya akan menjadi racun bagi ingatanmu sendiri.
...
Begitu pun dengan kita, atau apa pun yang pernah sepakat untuk disebut sebagai "kita".
Dulu, kita adalah seduhan yang baru turun dari filter, dengan aroma yang memenuhi seluruh ruang kepala, panas dan penuh gairah. Kau memegang tanganku seolah takut suhu itu akan hilang, seolah setiap teguk adalah satu-satunya alasan untuk tetap terjaga.
Namun, ada masanya kau meletakkan cangkir itu terlalu lama di atas meja. Kau sibuk dengan duniamu sendiri, dengan ambisi-ambisi yang kau anggap lebih mendesak daripada sekadar menjaga hangat di antara jemari kita. Kau membiarkan jarak tumbuh, membiarkan udara dingin merambat masuk ke sela-sela percakapan kita yang mulai hambar.
Sekarang, lihatlah.
Hubungan ini serupa kopi yang sudah ditinggal lupa. Ia tidak lagi memberikan pelukan yang meredam resah. Saat kau akhirnya kembali dan mencoba menyesapnya, kau justru terkejut oleh pahitnya yang menusukmu, bukan karena kopinya yang salah, tapi karena kau baru sadar bahwa rasa yang dulu manis telah membusuk karena pengabaianmu sendiri.
Kita tidak mati, kita hanya dingin. Dan sayangnya, kau tahu betul bahwa tidak ada api yang cukup besar untuk membuat cangkir yang sama terasa hangat seperti pertama kali aku menyeduhnya dulu.















