Jangan risau jika di usia kamu sekarang memang belum menikah. Saat ini masalahnya cuma satu, itu aja "belum menikah".
Sebab setelah menikah, masalahmu akan lebih dari satu..
Lint Roller? I Barely Know Her
taylor price

Stranger Things
Not today Justin
d e v o n
𓃗

blake kathryn

ellievsbear
Today's Document
macklin celebrini has autism
Peter Solarz
Sweet Seals For You, Always
hello vonnie
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

#extradirty
sheepfilms
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
untitled
seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from Colombia
seen from Colombia
seen from Chile
seen from Bulgaria
seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Chile

seen from United States
seen from United States

seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States

seen from India

seen from Russia
@jelagaku
Jangan risau jika di usia kamu sekarang memang belum menikah. Saat ini masalahnya cuma satu, itu aja "belum menikah".
Sebab setelah menikah, masalahmu akan lebih dari satu..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Keras Kepala Menggenggam Takdir;
Matahari tak pernah meminta izin pada malam untuk menyisakan senja, begitupun caraku mencintaimu dengan keras kepala, di luar restu semesta.
Aku telah melipat jarak, memeras peluh, dan menempuh beribu labirin sunyi yang kau sebut sebagai "usaha". Semua kulakukan demi melihat seulas senyum di bibirmu, sekadar untuk membohongi dunia bahwa bersamaku, kau baik-baik saja. Padahal aku tahu, isi kantong dan genggamanku teramat pekat oleh kesederhanaan yang meraba-raba di dalam gelap. Aku hanya punya hati yang ringkih, sementara dunia menuntutmu bersanding dengan kemegahan.
Kita adalah sepasang nisan tanpa nama di tanah larangan; cinta kita dikubur hidup-hidup oleh penghakiman mereka yang merasa berhak menentukan bahagia.
"Tak ada restu!" kata mereka, sebuah vonis dingin yang memotong nadiku berkali-kali.
Namun, lihatlah kegelapan ini. Aku tidak sedang sekarat; aku sedang menempa diri. Di bawah tirai langit yang kelam dan bisikan-bisikan sinis yang meragukanku, aku merangkak dan bertarung dengan takdir. Setiap luka yang menganga di tubuhku adalah bukti, sebuah manifesto berdarah bahwa aku sedang bertaruh dengan waktu.
Aku akan tegak berdiri di depan altar penolakan mereka, menyodorkan seluruh hancurku yang telah menjelma menjadi tameng hati, hanya untuk membuktikan satu hal yang paling tajam menusuk dada mereka: "aku teramat pantas untukmu, bahkan jika semesta harus mengutuk kita."
"Secangkir Peng-abaian"
Dia pernah hangat, sehangat pelukan mentari diujung senja.
Lalu, kau membiarkannya di sana, tergeletak di sudut meja. Uapnya yang semula membubung tinggi, serupa rindu yang menggebu atau rona yang paling jujur, kini lumat ditelan udara malam. Kau terlalu sibuk menatap hal lain, hingga lupa bahwa kehangatan punya batas kedaluwarsa.
Sekarang, tengoklah cangkirmu.
Warna hitamnya tak lagi menjanjikan ketenangan, melainkan menjelma menjadi genangan sunyi yang pekat. Ketika akhirnya kau memutuskan untuk menyentuhnya, bibir cangkir itu sudah sedingin tatapan seseorang yang telanjur mati rasa.
Jangan mengeluh jika sesapan pertamamu terasa asing. Pahitnya tidak lagi ramah, dan asamnya tak lagi meninggalkan kesan yang indah. Itu bukan lagi kopi; itu adalah sisa-sisa kepedulian yang terlambat kau peluk kembali.
Sebab di dunia ini, ada beberapa hal yang tidak diciptakan untuk menunggu. Begitu kau abaikan dan kaubiarkan dingin, ia tidak akan pernah bisa dihangatkan lagi dengan cara yang sama. Ia hanya akan menjadi racun bagi ingatanmu sendiri.
...
Begitu pun dengan kita, atau apa pun yang pernah sepakat untuk disebut sebagai "kita".
Dulu, kita adalah seduhan yang baru turun dari filter, dengan aroma yang memenuhi seluruh ruang kepala, panas dan penuh gairah. Kau memegang tanganku seolah takut suhu itu akan hilang, seolah setiap teguk adalah satu-satunya alasan untuk tetap terjaga.
Namun, ada masanya kau meletakkan cangkir itu terlalu lama di atas meja. Kau sibuk dengan duniamu sendiri, dengan ambisi-ambisi yang kau anggap lebih mendesak daripada sekadar menjaga hangat di antara jemari kita. Kau membiarkan jarak tumbuh, membiarkan udara dingin merambat masuk ke sela-sela percakapan kita yang mulai hambar.
Sekarang, lihatlah.
Hubungan ini serupa kopi yang sudah ditinggal lupa. Ia tidak lagi memberikan pelukan yang meredam resah. Saat kau akhirnya kembali dan mencoba menyesapnya, kau justru terkejut oleh pahitnya yang menusukmu, bukan karena kopinya yang salah, tapi karena kau baru sadar bahwa rasa yang dulu manis telah membusuk karena pengabaianmu sendiri.
Kita tidak mati, kita hanya dingin. Dan sayangnya, kau tahu betul bahwa tidak ada api yang cukup besar untuk membuat cangkir yang sama terasa hangat seperti pertama kali aku menyeduhnya dulu.
Trauma;
"Kalau kamu punya luka atau trauma masa lalu, jangan selalu minta orang lain mengerti dan memaklumi sikap-sikapmu yang mungkin menyakitinya"
Sebab, orang lain juga punya tapi mereka mau belajar mengendalikan diri..
---
Ada perbedaan besar antara:
"Aku sedang berjuang dengan lukaku" (ini jujur dan manusiawi), dengan :
"Karena aku punya trauma, kamu harus selalu mengerti dan memaklumi kalau aku mungkin menyakitimu". (ini sudah jadi bentuk eksploitasi emosional, sadar atau tidak)
Cobalah untuk berhenti menjadikan trauma sebagai perisai, jangan selalu ingin berucap: "Kamu tidak boleh marah, aku sudah bilang aku trauma."
Orang yang benar-benar sayang padamu akan berusaha mengerti. Tapi kalau kamu terus meminta pemakluman mereka setiap kali kamu menyakiti mereka, suatu saat mereka akan memilih untuk menyelamatkan diri dan pergi menjauh dari hidupmu.
Bukan karena mereka tidak sayang, bukan sebab mereka tidak pengertian, tapi karena mereka juga manusia yang punya batas.
Hanya dirimu sendiri yang bisa menyembuhkan segala traumamu, orang lain hanya penyerta dalam usahamu.
Figuran dalam Naskah Utama;
~ sebuah refleksi juli
"Aku adalah catatan kaki yang kau baca hanya saat kau butuh penjelasan, sementara dia adalah judul besar yang kau banggakan di halaman depan. Aku ada di setiap paragraf sulitmu, namun namanyalah yang kau tulis di akhir cerita sebagai bahagia."
Kesalahan terbesarku adalah: membuat diriku "terlalu tersedia."
Aku menjadi seperti udara; kau butuh untuk bernapas, tapi kau lupa aku ada karena aku selalu ada. Kau hanya mencari cahaya yang menyilaukan, meski ia sering membakar matamu, sementara aku yang redup namun terus menyinari jalanmu, kau biarkan menunggu di sudut sepi."
Lucu memang, bagaimana aku selalu menjadi tempatmu pulang saat dunia menghancurkanmu, tapi tak pernah menjadi alasanmu untuk menetap. Aku adalah pelabuhan yang selalu kau datangi untuk menepi saat badai, dan dia adalah samudera yang ingin kau arungi meski kau tahu kau akan tenggelam di dasarnya..
Sebab kenyataannya, yang selalu ada tak selalu jadi yang dipilih

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
🌿 "Rumah Tangga Dua Pujangga";
Tokoh:
Raka : Suami, penyuka rasa yang percaya bahwa kopi dan cinta punya kadar gula yang sama: tergantung siapa yang menyeduh.
Nira : Istri, penulis puisi yang bisa membuat daftar belanja terdengar seperti mantra cinta.
Adegan 1: Pagi di Rumah Kata
(Cahaya lembut menembus tirai. Raka masih meringkuk di kasur, sementara Nira sedang menyingkap tirai jendela meminta mentari masuk ke dalam rumah)
Nira: "Wahai suami belahan jiwa yang sering lupa waktu, matahari sudah menulis paragraf pertamanya di langit, kau masih saja jadi tanda koma di kasur empuk itu.."
Raka: (berguling malas)"Biarkan aku jadi koma sebentar lagi, Sayang. Karena setiap bangun, aku takut hari ini tak seindah puisimu kemarin malam.."
Nira: "Halah, alasan klasik penyair malas. Bangunlah, kopi sudah kusiapkan. Hitam pekatnya seperti nasib dompet kita menjelang akhir bulan.."
Raka: "Ah, kopi buatanmu selalu membuatku jatuh cinta berulang-ulang, walau tanpa gula, rasanya manis… karena bibirmu dulu yang mencicipinya.."
Nira: (sambil menatap sinis tapi senyum kecil muncul) "Kalau saja cinta bisa dibayar dengan rayuan, kita tak akan pernah mengeluarkan uang untuk membayar listrik.."
..................
Adegan 2: Siang di Dapur Cinta
(Dapur ramai dengan aroma bawang tumis dan suara sutil dan wajan yang menari.)
Nira: "Hari ini kau ingin makan apa, Raka? Antara nasi goreng romantis atau mie instan puitis?"
Raka: "Mie instan saja Sayang. Karena cinta sejati tak harus serumit bumbu-bumbu yang harus kau racik, kadang dia cukup diseduh tiga menit."
Nira: "Haha, dasar lelaki pandai berhemat! Baiklah, mie instan puitisku satu porsi, dan satu porsi lagi dengan penuh harapan supaya dapur kita tak kehabisan ide."
Raka: "Ah, setiap sendok yang kau aduk, begitu indah dan rasanya begitu meresap, seperti bait puisi yang kau racik di wajan kehidupan kita."
Nira: "hmmm, makin pandai merayu rupanya.. Tahukah kamu jika Ada rasa bahagia yang tak bisa diterjemahkan kata, ketika setiap suapanmu menjadi pujian tanpa suara."
Raka: "Baiklah, mari kita makan, bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk menegaskan bahwa cinta juga butuh lauk, bukan hanya kata-kata tanpa makna."
...................
Adegan 3: Sore yang Melankolis
(Mereka duduk di teras, menatap langit senja.)
Raka: "Lihat, Sayang. Senja itu seperti kita, indah, hangat, tapi cepat sekali hilang kalau nggak dijaga."
Nira: "Benar. Makanya jangan sibuk main ponsel tiap sore, biar senja nggak cemburu."
Raka: “Baiklah Sayang, kuletakkan dunia maya yang masih kugenggam ini. Kini hanya ada aku, kau, dan senja ini. Sebab yang kuinginkan hanya satu: esok tetap kutemukan kamu, masih di hidupku, masih di dadaku.”
Nira: (ketawa kecil)"tapi jangan lupakan tagihan listrik yang besok jatuh tempo."
...................
Adegan 4: Malam, Saat Puisi Menjadi Nyata
(Lampu temaram. Mereka duduk di ruang tamu, Raka menulis di buku catatan, Nira membaca)
Nira: "Kau menulis apa, Raka? "
Raka: "Sebuah puisi untukmu. Judulnya: “Perempuan yang Menggoreng Mimpi dan Menghidangkannya dengan Sambal Cinta.”"
Nira: (tertawa keras) "Wah, itu puisi atau resep masakan gagal?"
Raka: "Keduanya, Sayang. Karena di rumah ini, setiap masakan yang kau masak adalah metafora pernikahan. Kadang asin, kadang gosong, tapi selalu ada rasa untuk bertahan".
Nira: (tersenyum lembut) "Kalau begitu, mari kita hidupkan lagi puisinya besok. Karena malam ini aku cuma ingin merebah di pelukmu, dan tetap dekap aku dengan hangat cintamu, bukan dengan renungan."
Raka: "Baiklah, bidadariku. Mari kita rebah bersama, biar mimpi yang melanjutkan kisah kita malam ini."
(Lampu meredup. Mereka tertawa kecil, Ia bersandar di bahunya, sementara dunia di luar jendela perlahan tenggelam dalam malam yang semakin meninggi, seperti nada penutup dari hari yang sempurna, sederhana, tapi penuh makna)
“Cinta tak perlu megah, cukup dua hati yang bersyair setiap hari, kadang lewat tawa, kadang lewat cuci piring bergantian.”
Selalu senyum setiap kali membacanya. Mengingat-ingat lagi momen apa yg menginspirasiku menulis tentang ini..
Bahagia yg sederhana, walau tak se-sederhana itu mampu tercipta..
Jika ada seseorang yang lama tak berkomunikasi denganmu, tiba-tiba datang dan bercerita banyak hal, jangan dulu senang, jangan dulu merasa dia nyaman bersamamu.
Sebab dunia ini berjalan berdasarkan KEPENTINGAN, bukan keperdulian..
Baru sebulan;
Gak terasa, sebulan tanpa medsos.
Iya, memang baru sebulan pula aku baru sadar betapa bisingnya dunia yang dulu rasanya begitu menyenangkan, begitu ramai, menanti respon, komentar atau 'likes' dari setiap unggahan yg kukabarkan. Dan baru kumengerti, jika hatiku yang dulu terlalu penuh oleh hal-hal yang tak perlu.
Tak ada lagi tepuk tangan manusia yang sering membuat langkah lupa arah. Tak ada lagi perbandingan semu yang diam-diam menumbuhkan iri dan resah. Sering menunggu kabar dari manusia menyebut namaku, tapi justru menunda sujud yang jelas memanggil lima kali sehari.
Tak ada lagi angka yang menipu rasa berharga, tak ada lagi pujian singkat yang diam-diam membuat lupa arah.
Yang tersisa hanya waktu yang jujur, dan hati yang tak bisa lagi bersembunyi dari diri sendiri. Sunyi memaksaku duduk berhadapan dengan hidup yg nyata, tanpa topeng, tanpa pura-pura kuat, tanpa tempat bersembunyi.
Dan di situlah terasa perih yang apa adanya, sekaligus tenang yang lama hilang. Aku melihat, betapa sering dulu aku mencari untuk terlihat, namun jarang benar-benar melihat ke dalam diri sendiri.
Bukan karena tak tahu jalan pulang, hanya terlalu sibuk berputar di keramaian yang kosong.
Sebulan ini memang tak mengubah dunia, tapi pelan-pelan mengubah cara hatiku memandangnya.
Sebulan ini nyatanya tak membuat hidupku berhenti, justru menenangkannya. Langkah terasa lebih ringan, doa terasa lebih dekat, dan hati perlahan paham bahwa tak terlihat bukan berarti tak ada.
Kini sunyi tak lagi menakutkan, ia seperti pelukan yang tak bersuara.
Dan jika suatu hari aku kembali ke keramaian itu, semoga aku tak kembali hilang. Semoga tetap membawa hening ini di dalam dada, tenang, sederhana, dan cukup karena Allah saja.
~ 2𝘯𝘥 𝘙𝘢𝘮𝘢𝘥𝘩𝘢𝘯
Baru 6 bulan;
"Masih kuat ? Masih mau tetep lanjut atau lambaikan tangan ke kamera?"
-
Enam bulan sudah, aku melepaskan layar yang tak pernah diam.
Kini pagi tak lagi dimulai dengan “siapa yang lebih bahagia hari ini”, melainkan dengan embun yang basah di ujung jari, dan kopi yang tak perlu difoto untuk diakui enak.
Aku tak lagi mengejar suara yang tak bersuara, tapi mendengar angin bercerita di antara daun.
Dan anehnya, aku tak merasa ketinggalan. Justru aku menemukan diriku yang dulu sempat hilang di antara notifikasi yang tak pernah selesai.
Enam bulan tanpa medsos, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tersenyum tanpa alasan yang menunggu tombol "jempol" di tap berkali-kali
~ dan ini, menenangkan
Kurangi rindumu, lihat lebamnya sudah terlalu membiru..
Kemarin, di sudut meja yang cahayanya pudar seperti ingatan, jemari kita bertautan tuk yang terakhir. Dalam hangat yang sudah mulai dingin. dalam genggaman yang sebentar lagi hanya kan menjadi kenangan.
Gelas Capucino dengan taburan cinnamon kesukaanmu masih penuh belum tersentuh, seolah ingin menjadi saksi bisu pertanyaan yang tak lagi butuh jawaban: "Ingatkah kapan terakhir kita bicara?"
Kau menunduk, mata merah samar di balik bulu mata yang basah, tanganmu di genggamanku seperti orang yang sudah tahu perpisahan akan datang sebelum kata itu diucapkan.
“Mungkin sudah tiba waktuku..” gumam angin yang masuk dari jendela kaca, membawa bau hujan yang tak jadi turun.
Kini, keretaku telah melesat. Dunia di luar jendela kabur menjadi hijau yang berlari melewati bukit, pohon pisang, dan rel yang hilang di tikungan, seperti rasa yang akan sirna perlahan..
Kecepatan itu seperti waktu yang memaksa kita berpisah lebih dulu dari yang seharusnya.
“AKU CINTA KAMU…” katamu dulu, suara yang kini hanya tinggal desis di antara celah jendela dan angin yang masuk. Aku duduk sendirian di kursi kereta ini, sendiri yang tak lagi menujumu atau siapapun..
Kereta ini sudah membawa tubuhku jauh, dan lebam itu semakin dalam setiap kali roda besi menyentuh rel baja. Biarkan ia membiru sampai tak lagi terasa sakit, sampai perpisahan ini menjadi warna yang kita terima, bukan luka yang terus kita rawat dengan harapan yang sudah mati.
Bahagialah dengan yang menjadi alasanmu..
Untuk seseorang yang masih saja kusebut namanya dalam doa malam ini;
Aku masih ingat, saat sehari x 24 jam, seminggu dengan 7 hari-nya kita. Nyaris tak ada jeda, hampir tak ada celah untuk bernapas sendiri. Kita saling mengisi ruang, suara, bahkan diam yang paling sepi. Indah? Iya, aku tau..
Yang aku tak tahu akan berujung kemana langkah kaki "kita" yang belum jua menjadi KITA yg sebenarnya.
Seperti segumpalan awan mendung yg tak tau akan jatuhkan dirinya dimana sebagai hujan atau terus melayang tak tentu arah.
Hingga akhirnya tiba di satu hari keadaan membalikkan semuanya..
Kau pergi dengan seseorang yg kau bilang bukan pilihanmu, tp kau hrs memilihnya, demi baktimu kepada pintu surgamu di dunia..
Berat? Sangat
Kecewa? Iya
Sakit? Tak perlu kau tanya
Dan aku? Masih berdiri di bawah awan yang sama, menunggu. Entah hujan akan turun dan membersihkan segalanya, entah angin akan membawa awan itu menjauh, meninggalkan langit yang lebih kosong… atau justru lebih gelap.
.
~ Jakarta, july, 2006

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nasehat;
Mumpung lagi bahagia, lagi dikasih rezeki yang bagus sama Tuhan, jangan lupa ditabung lebih banyak.
Biar gak bingung dan bisa dipakai kalau nanti terluka lagi..
Sebab, bukan cuma jatuh cinta, patah hati juga butuh biaya..
It's true!
"Kehilangan tak melulu tentang kepergian seseorang dalam hidupmu.."
Ia tak selalu datang dengan pintu yang ditutup atau punggung yang menjauh.
Kadang ia datang diam-diam dalam sepi, menggerogoti dari dalam, hingga suatu hari saat kamu menoleh, kamu tak lagi mengenali siapa yang berdiri di balik matamu sendiri.
Lalu menyadari bahwa kamu sendiri yang telah meninggalkan versi dirimu yang dulu, yang paling berani, paling polos, mudah tergelak dan paling hidup. Kamu bahkan tak ingat kapan menguburnya.
Kamu masih bernapas. Kamu masih tersenyum pada dunia. Tapi jiwa yang dulu pernah menari di dalam dadamu telah pergi tanpa jejak, hati yang dulu sering tersenyum, kini hanya meninggalkan cangkang yang pandai tampil dengan berpura-pura utuh.
Percayalah, hal yang paling menyedihkan adalah kehilangan dirimu sendiri
Kog kamu?
Kog hidup kamu tenang banget sih?
Kok hari-hari kamu adem banget ya?
Kok kamu bisa ya ke mana-mana sendirian?
Kok kamu nggak pernah merasa kesepian?
Kok kamu bisa menikmati kesunyian tanpa merasa hampa?
Kok kamu bisa duduk berjam-jam di kedai kopi tanpa cepat bosan?
Kok hati kamu seperti danau tenang yang tak terganggu ombak?
Kok kamu betah sih sendirian selama ini?
.
Selama bertahun-tahun ini, pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang dari orang-orang terdekat, teman-teman lama, sahabat yang lama yang tak bertemu, bahkan keluarga yang kadang khawatir. Mereka bertanya dengan mata yang seolah ingin menelisik lebih dalam, atau dengan suara pelan lewat telepon larut malam.
Aku selalu menjawab dengan senyum yang sama. Bukan senyum yang menyembunyikan kesedihan, melainkan senyum yang lahir dari tempat paling murni di dadaku.
Karena bagi mereka, hidup yang tenang dan banyak menghabiskan waktu sendirian mungkin terasa seperti dinding yang dingin.
Bagi ku, ia adalah jendela terbuka yang membiarkan angin pagi masuk dan membersihkan segala hal yang tak perlu, dan temaram senja meredakan segala lelah seharian tadi.
Di kedai kopi kecil yang selalu kurindukan, aku duduk sendirian di pojok dekat jendela. Uap kopi mengepul pelan seperti kabut tipis, hujan baru saja mengetuk kaca dengan lembut, dan orang-orang lewat dengan cerita masing-masing yang tak pernah kuingin tahu.
Aku tak merasa kesepian. Aku hanya sedang menonton kehidupan dari kejauhan, dengan secangkir kopi hangat sebagai teman yang paling setia. Tak perlu ikut berlari di dalamnya. Tak perlu menjelaskan apa pun.
Setiap kali pertanyaan itu muncul lagi, aku tak pernah merasa perlu memberi jawaban panjang. Karena jawaban yang paling jujur sudah ada di dalam hati:
"Aku sudah nyaman pulang ke dalam diriku sendiri."
Dan di situlah ketenangan itu selalu menunggu, walau perlahan, tapi hangat, dan tak pernah pergi..
Karena yang paling kejam bukanlah perpisahan, tapi memaksa rasa untuk tetap merindu, pada hati yang sudah tak lagi punya tempat untuk menaruh namamu..
.
.
Kenapa kebanyakan cowok baru fokus mikirin pasangannya saat dia udah 'gak sibuk?
Bayangin, saat kamu (cewek) lagi sedih, lagi pengen cerita, lagi pengen ditemenin tapi cowok kamu bilang "Sebentar ya, aku masih sibuk. Nanti yaa.."
Ini yang para cewek bilang kalo cowok itu egois
Trus pas kesibukannya udah mereda, dia baru hubungi atau temuin kamu sembari bilang "Maaf ya tadi, kamu kenapa, kepengen apa?"
Dan kamu, pliss jangan nunjukkin muka bete, kesel apalagi marah saat dia bilang gitu. Kenapa?
Penjelasan Psikologisnya:
Otak cowok itu cenderung 'single tasking'. Kalau dia lagi fokus ngerjain sesuatu, ya cuma itu yang ada dalam otaknya sampai beres. Hal lain akan dia simpen dulu dipojokkan pikirannya untuk dibukanya nanti.
Sementara otak cewek itu 'multi tasking + multi emosional'. Kamu tuh bisa banget kan lagi input laporan tapi masih mikirin ending drama Korea semalam, sambil mikir ntar malem makan apa ya? Atau malah sambil chat ngegibahin anak marketing baru yg dandanannya menor abis, sekaligus khawatirin hubungan kamu sama dia.
Ini makanya selalu cewek duluan yg sering mikir "Apa aku doang yang mikirin hubungan ini dianya gak?"
Analoginya:
Otak cowok itu kaya lemari satu pintu + satu laci. Kalau itu lemari isinya lagi mikir 'kerjaan', maka pikiran soal 'pasangan' atau lainnya bakal dia kunci di lacinya.
Sementara otak cewek itu kayak apa ya? Hmm, kaya semangkok mie instan deh, yg bisa nampung banyak hal, diaduk jadi satu tapi bisa tetap dinikmati rasanya..
Jadi, bener kan cowok itu egois?
Gak selalu kog.. Makanya kadang dia butuh waktu untuk sendiri buat proses beresin kerjaan atau apapun yg udah dia pikirin duluan, setelahnya baru deh dia bisa hadir ke kamu secara emosionalnya.
Jadi, dia tetap mikirin kamu kog, tapi waktunya aja yg beda dengan kamu.
Trus, biar ga salah paham 'gimana?
Intinya sih cuma komunikasi yg harus dijaga. Bukan cuma frequency nya aja tapi juga isi. Saat kamu liat pasangan kamu lagi sibuk, coba deh jangan langsung marah.
Bisa kamu bilang gini:
"Aku tau kamu lagi fokus kerjaan, tapi kalau aku lagi sedih, kalau kamunya udah selesai, temenin aku ya.."
Nyessss, dijamin cowok kamu bakalan ngerasa bahwa kamu adalah salah satu wanita yg paling memahami dia, selain Ibunya..
Jadi, dah paham dong sekarang?
.
(Oh, kamu jomblo? Yah... Sama dong.. ) 😜😂

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ampas yang Menetap, Rasa yang Beranjak..
Jangan menoleh lagi. Biarkan sisa rasa ini tertinggal di meja, mendingin bersama waktu yang tak mungkin kita putar kembali. Hubungan kita layaknya racikan V60 yang dipaksa mengalir terlalu cepat; ada sari yang tertinggal, ada rasa yang tak sempat terekstrak sempurna, namun tetes airnya harus tetap jatuh ke wadahnya.
Menoleh hanya akan membuatmu mengecap kembali pahit yang seharusnya sudah kau telan. Anggap saja aku adalah ampas di dasar cangkir, bagian yang memang harus menetap agar kau bisa menikmati jernihnya sisa perjalananmu.
Berjalanlah terus.
Biarkan aroma kenangan ini memudar tertiup angin jalanan, karena kopi yang enak tidak pernah dipanaskan ulang, dan perpisahan yang jujur tidak butuh tatapan belas kasihan.
Ruang Refleksi
"Analogi ini mengingatakan bahwa meski ada rasa "pahit" yang tertinggal, hal itu adalah bagian alami dari sebuah proses agar seseorang bisa melangkah lebih ringan, tanpa beban cerita lalu yg terus dibawa-bawa"
Sang Kurator Estetika;
(dengan senyum kecil) : Beberapa waktu belakangan ini, beberapa pesan yang masuk dalam kotak 'messages' saya, isinya hampir sama.
Beberapa pertanyaan dibalik pujian (𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩), tentang bagaimana cara saya menguatkan isi dari tulisan-tulisan saya dengan sering menyisipkan foto, gambar atau penggalan video yg relevan didalamnya?
Bahkan ada yg menyebut saya seperti judul tulisan ini, yaitu : Sang Kurator Estetika (The Aesthetic Curator).
Terima kasih sekali sebelum dan sesudahnya dengan julukan yg diberikan 🙏🙏
Saya sangat meng-apresiasi hal itu.
Tentang alasannya, mungkin bagi saya :
"Karena ada beberapa rasa yg terlalu luas untuk dipenjara dalam kata-kata, dan ada beberapa momen yg terlalu sunyi untuk dibiarkan tanpa pertunjukkan. Foto itu adalah jeda, penggalan video itu adalah jiwa, agar kita bisa bernapas sejenak sebelum tenggelam lagi dalam paragraf berikutnya."
"Sebab, kata-kata sering kali hanya mampu menceritakan apa yg terjadi, tapi visual menunjukkan apa yg terasa. Saya menyisipkan foto, video agar siapaun yg membacanya tahu bahwa apa yg saya tulis bukan sekadar imajinasi, melainkan fragmen kenyataan yg saya tangkap."
Selain itu, bagi saya, sebuah karya bukan hanya tentang apa yg hanya dibaca, tapi tentang apa yg bisa tertinggal di ingatan setelah layar ponsel mati atau bergeser.
Terima kasih untuk semua koreksi, atensi juga dukungan yg sangat berarti ini..
Salam bahagia dengan menulis, dari saya : @jelagaku 😊