Sendiri tak selalu tentang sepi;
Ada keheningan yang justru menyembuhkan. Saat riuh dunia mereda dan engkau memilih duduk bersama dirimu sendiri, engkau tidak sedang kesepian; engkau sedang berdialog dengan jiwa yang selama ini terabaikan.
Sendiri adalah ruang suci, tempat engkau merajut kembali serpihan rasa yang remuk, tanpa perlu memakai topeng demi menyenangkan mata orang lain. Dalam kesendirian, ada kemerdekaan yang dingin namun utuh.
Tak ada ekspektasi yang menuntut, tak ada kepalsuan yang menelan kerendahan hati. Kesendirian bisa menjadi tempat paling jujur untuk menemukan siapa dirimu sebenarnya.
Sementara, betapa banyak kebersamaan yang hanyalah sandiwara berselimut keramaian. Kamu bisa duduk di meja makan yang penuh tawa, menggenggam jemari seseorang, namun merasa ribuan mil jauhnya dari mereka.
Kebersamaan tanpa koneksi jiwa yang tulus tak lebih dari penjara tak kasat mata, di mana engkau terpaksa tertawa pada lelucon yang tak lucu, menelan amarah demi menjaga kedamaian palsu, dan mengubur kebenaran demi sebuah penerimaan.
Jiwa yang mati di tengah keramaian jauh lebih tragis daripada jiwa yang menyendiri di bawah naungan sunyi.
.
Jangan takut pada sunyi yang memelukmu dalam sendiri, dan jangan mudah tertipu oleh riuh kebersamaan yang ternyata hampa. Kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak tangan yang engkau genggam, melainkan seberapa utuh engkau merasa baik saat melangkah sendirian, maupun saat berjalan berdampingan.








