dialog;
​Aku: "...semalem dia chat gue lagi."
​Sahabat: "Serius? Parah sih, fix dia pengen balikan lagi sama lu itu."
​Aku: "Ini udah yang ketiga kalinya sejak dia putus sama cowoknya."
​Sahabat: "Terus gimana? Lu bales gak?"
​Aku: "Nggak. Gue pilih buat diemin aja, gak bakal balik kontak dia lagi."
​Sahabat: "Sumpah, lu yakin? Kok lu bisa setega itu sih? Padahal dulu lu kan..."
​Aku: "Udah, cukup udah.. Lu gak tau seberapa berdarah-darahnya gue buat sampai di titik ini. Gue masih inget semuanya.."
-
"Buat kamu, bukan karena aku tak lagi punya rasa, tapi karena aku sadar rasa itu pernah membunuhku pelan-pelan.
​Dulu, aku mencintaimu tanpa reservasi, menempatkanmu di atas segala-galanya, bahkan melupakan bagaimana caranya menghargai diriku sendiri. Segala kepentinganku tunduk pada senyumnya.
Namun, semua ketulusan itu runtuh hanya dalam sekejap ketika kamu memilih melangkah pergi, menukarkanku dengan seseorang yang menurutmu "lebih baik", yang begitu mudahnya meruntuhkan apa yang kubangun mati-matian.
​Hari ini, aku tidak sedang membalas dendam. Aku hanya sedang menyelamatkan sisa-sisa diriku yang dulu hancur. Aku belajar bahwa tidak semua pintu yang kembali diketuk harus kubuka kembali".
.
Hari itu, aku terima satu hal yang paling menyakitkan sekaligus membebaskan: bahwa menjadi sosok yang selalu ada, tak melulu menjadikanku satu-satunya pilihan dan tujuan.














