Perjalanan (2):
takdir mendekat
Euforia gempita momen wisuda nyatanya tak bertahan lama, menyisakan panggung sunyi saat tirai realita terbuka.
Di tanah kelahiran tercinta, melangkah menembus gerbang dunia kerja ternyata tak semudah dalam rencanamu; hanya pintu-pintu tertutup dan gelengan kepala yang berulang kali menyambut disetiap asa yang kau bawa.
Ada gurat lelah dan kecewa yang berusaha kau sembunyikan di setiap kali kita bertukar kabar. Wakau tak pernah kudengar keluhan, namun dari seberang telepon, aku bisa merasakannya pada setiap helaan nafasmu dengan jelas.
Entah dorongan dari mana, rasanya aku tak sanggup jika hanya duduk diam sekadar menjadi pendengar yang pasif. Lewat sedikit relasi dan jalan yang coba kubukakan di kotaku, aku mengulurkan tangan.
Sungguh, itu kulakukan bukan untuk terlihat sebagai pahlawan, tapi sesederhana karena aku ingin melihat binar semangat itu kembali menyala di matamu.
Doa-doamu akhirnya menemukan langitnya. Panggilan kerja itu datang, dengan kepastian yang menyertainya. Dia juga datang membawa serta sebuah keputusan besar yang harus kau ambil: "melangkah keluar dari zona nyaman", merantau jauh dari keluargamu, dan berlabuh di kota tempatku menetap.
Aku masih mengingat, ditengah sibuknya persiapan keberangkatanmu, untuk pertama kalinya, suara seorang wanita baya terdengar diujung telepon saat tiba-tiba berdering dan aku bergegas mengangkatnya.
Suaranya lembut namun sarat akan kekhawatiran seorang ibu yang melepas putrinya. "Nak, Ibu titip .... (menyebut nama kecilmu), tolong jaga adikmu ini baik-baik ya, cuma kamu yang Ibu kenal disana Nak,.." pesan beliau perlahan.
Kalimat pendek itu menghantamku dengan rasa yang tak terkira. Ada kepercayaan teramat besar yang diletakkan di pundakku, dan tanpa keraguan sedikit pun, aku menyanggupinya.
Dalam pelukan hangat ibunda, tersimpan ribuan doa yang tak terucap. Sebuah restu yang tulus, membiarkan sayap-sayap itu mekar, terbang menggapai impian di negeri orang. Sang ayah, dengan tatapan penuh haru namun bangga, berdiri sebagai saksi bisu.
Dan akhirnya, jarak kita tak lagi harus dihitung dengan jam perjalanan kereta atau sebatas layar telepon yang menyala di tengah malam.










