Setiap orang punya cara berpamitan yang berbeda. Ada yang memilih mengucapkannya secara langsung. Ada yang menitipkannya lewat tulisan. Sebagian lainnya perlahan menghilang, sampai kita baru sadar bahwa itu adalah perpisahan.
Kita selalu berusaha mencari cara terbaik agar perpisahan terasa lebih ringan. Memilih kata-kata yang paling lembut. Menjelaskan semuanya sebaik mungkin. Berharap setelah itu, tidak ada lagi sesal yang tertinggal.
Padahal, sebaik apa pun cara berpamitan, tetap ada bagian dari diri kita yang tertinggal. Tetap ada kebiasaan yang membutuhkan waktu untuk dilupakan. Tetap ada ruang yang mendadak terasa hampa.
Berpamitan mungkin bisa dilakukan dengan baik. Tapi, itu tidak pernah membuat perpisahan menjadi lebih mudah.
Sebab, yang menyakitkan bukanlah cara kita mengucapkan selamat tinggal. Melainkan kenyataan bahwa kita harus melanjutkan hidup tanpa kehadirannya.
Sebaik apa pun cara berpamitan, perpisahan tetaplah menyakitkan.













