Tapi untuk mencintaiku, kamu harus bisa melalui lika-liku terjal yang tidak biasa, yang sulitnya lebih sering membuat seseorang menyerah, mengaku kalah.
he wasn't even looking at me and he found me
KIROKAZE

pixel skylines
todays bird

★
Keni

izzy's playlists!
will byers stan first human second
Stranger Things

Origami Around
trying on a metaphor

Jar Jar Binks Fan Club
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Not today Justin
🪼

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER
we're not kids anymore.

gracie abrams

seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States
seen from United States
seen from Guatemala

seen from United States

seen from Iraq

seen from T1
seen from Australia
seen from Netherlands
seen from Chile
seen from Colombia
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Egypt
seen from Brazil

seen from United States
@tulisanvara
Tapi untuk mencintaiku, kamu harus bisa melalui lika-liku terjal yang tidak biasa, yang sulitnya lebih sering membuat seseorang menyerah, mengaku kalah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bagaimanapun caranya, kehilangan tidak pernah menyenangkan. Ia seperti punya ramuan khusus untuk memporak-porandakan hidup. Rencana-rencana yang sudah kususun rapi tiba-tiba harus kehilangan tokohnya, tanpa permisi, tanpa aba-aba.
Di sebagian kecil hidupku, ada bumbu-bumbu seandainya yang kudapatkan darimu, manusia baik yang kutemukan di hari-hari beratku. Kamu menawarkan banyak hal yang belum pernah kuterima sebelumnya, sedang aku kehilangan cara untuk merawatnya. Aku terlalu bahagia sampai lupa bahwa kamu di sini tidak akan lama sebab aku adalah pelabuhan yang kamu pilih untuk istirahat, bukan pulau tempatmu menetap. Carut-marutku terpampang nyata di hari kedatanganmu, sengaja tidak kututupi sebab Ibu menyuruhku untuk berdiri tanpa busana palsu.
Tiba di hari kepergianmu. Kamu melanjutkan perjalanan saat aku mengunci diriku di sebuah ruang kecil, saat aku berusaha menyembuhkan luka-lukaku karena aku ingin memberimu jamuan yang seharusnya kamu dapatkan. Salahku yang menyita waktu terlalu lama dan berharap kamu akan mencariku, sedang kamu punya banyak tempat yang akan kamu tuju. Sampai saat aku keluar, yang kutemukan hanya pasir putih yang membentang dari barat ke timur, penuh serpihan batu-batu yang siap menyayat telapak kakiku yang mulai membiru.
Maaf karena caraku menyambutmu sangat keliru. Terima kasih sudah berkenan memilihku sebagai tempat singgahmu. Selamat menyusuri luasnya laut biru. Di sini, kudoakan kamu dengan harapan-harapan baik, sampai kamu tiba di pulau terakhirmu, sampai kamu bertemu dengan bahagiamu.
Di Diriku Hidup Dua Nyawa
Sudah kubilang, ujungnya akan sama, lukanya akan kembali menganga. Kamu pernah mengucapkan permintaan maaf kepada orang tuamu sebab dirimu tumbuh menjadi perempuan yang sulit dicintai. Bagaimana jalanmu setelahnya? Masih dengan jalur yang sama atau mengarang peta?
Mati-matian aku menelan obat penghilang ingatan, sedang kamu terus-terusan menggoreskan pisau tajam. Kamu dengan sengaja menciptakan luka, membuatmu merintih lirih atau tanpa suara. Setiap manusia yang menawarkan diri untuk merawatmu selalu kembali sebelum sampai pada tubuh rapuhmu. Beribu-ribu hari aku mencari tahu alasannya, tetapi hanya berakhir dengan diam dari mereka. Sampai hari ini kutemukan selembar kertas di meja putihmu, bahwa darahmu adalah racun, bahwa menyembuhkanmu sama dengan membunuh diri mereka, bahwa tidak ada hal baik lainnya selain meninggalkanmu. Kalau aku bilang semua itu hanya ada di pikiranmu, kamu pasti akan menolaknya mentah-mentah, meneriakiku bahwa aku salah.
Seerat apapun aku berusaha memelukmu, tanganku akan selalu terlepas, sebab dunia yang kamu ciptakan sendiri terlalu luas. Selamanya, aku ingin menjagamu dari tempatku.
Ternyata, sedikit menenangkan untuk masih mendengarmu berbicara sendiri, menceritakan hal-hal sederhana yang terjadi padamu setiap hari. Suara tawa kecil dan isak tangismu selalu berhasil menyita waktuku untuk berhenti sejenak, untuk sekadar melihat atau menyapamu. Aku ingat bagaimana jawabanmu saat kutanya alasanmu tertawa atau menangis. Katamu, "Ini adalah satu-satunya yang bisa aku berikan untukku, yang bisa aku lakukan sebelum kematianku. Sebab saat hari itu tiba, dunia akan tetap berputar seperti biasa". Di matamu, aku mungkin terlihat tidak peduli, tapi dari lubuk hati, aku ingin kamu tetap hidup sebelum dijemput semesta, meskipun hanya untuk sepiring dimsum atau segelas matcha.
Seharusnya, aku tidak menyambutmu dengan hati. Seharusnya, aku tidak menjadikanmu sebagai sebuah harapan di sini. Seharusnya, aku tidak perlu menanggapi pesanmu. Seharusnya, aku tidak mengenalmu.
Akhir-akhir ini, dunia sedang jahat-jahatnya, dan kamu datang. Aku kembali menjadi manusia bodoh sebab berpikir bahwa kamu akan bisa menemaniku melewati hari-hari beratku. Nyatanya, sama saja, seperti yang sebelumnya. Aku tidak dan tidak akan menyalahkanmu.
Kamu baik, baik sekali. Semua orang tau, si baik hanya untuk si baik, dan bukan aku. Aku sering bertanya-tanya tentang siapa perempuan beruntung yang akan dipilihmu, dan ternyata sedikit menyakitkan untuk tidak menemukan namaku di dalamnya, tapi tak apa.
Terima kasih sudah berkenan kenal. Sebelum terlanjur jauh, aku pamit.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mungkin, tembok kamar bosan mendengar tangisan-tangisanmu, ia merindukan senyum-sebelum-tidurmu. Kamu selalu percaya bahwa yang bisa memeluk hanya tangan mungilmu, tanpa melihat tangan-tangan lain yang menawarkan untuk menenangkanmu. Katamu, menceritakan sakitmu hanya akan menularkannya pada sang pendengar, sedang jiwamu meraung-raung penuh memar. Ketakutanmu menjadi sangkar yang menyembunyikan pedih tak terhingga, menjadikanmu bulanan gonggongan diagnosa. Jutaan suara berteriak di kepalamu, menyuruhmu mengambil pisau di dapur dan memotong nadimu. Suaramu menghilang, berganti senyum menyeramkan seakan-akan ingin menerkam. Sosok kecil yang hidup di tubuhmu menangis, memohon padamu untuk tetap hidup meski keberanianmu mulai terkikis. Air matamu mengering, matamu mencari-cari alasan untuk bertahan di detik jarum jam yang berdenting. Satu-satunya yang menghampiri telinga hanya bisikan, menyampaikan sebaris pesan dari kucing yang kamu selamatkan di pinggir jalan; suatu hari nanti, semoga kamu tidak lagi memendam sendiri luka-luka yang membuatmu berpikir bahwa satu-satunya jalan terbaik adalah mengakhiri.
Pemberhentian berikutnya ada di depan taman kematian. Ia takut untuk berhenti di sana sebab pikirannya mengatakan halte itu menjadi tempat hilangnya banyak nyawa, sehingga ia memutuskan untuk melompat dengan memecahkan kaca. Kabur ke manapun, ke hutan dengan tanah berduri atau penginapan dengan lantai penuh cairan kimia yang siap melukai kedua kakinya. Kalaupun harus mati, ia ingin mati di tangan sendiri, meski jauh di dalam dirinya ia tau bahwa racun yang perlahan menyebar pada lahir dan batinnya adalah mereka.
Aku menceritakanmu sebagai kebetulan yang terlalu istimewa untuk dilupakan. Garis yang kamu ciptakan sejak awal membentang sangat jelas di tengah percakapan-percakapan sore itu. Aku tidak akan melewatinya. Jadi, kuputuskan untuk berhenti dan memilih jalan yang tidak ada kamu di depanku. Aku menaruh bunga di persimpangan sebelum aku menghilang. Saat kamu melihat ke belakang dan menemukannya, aku harap kamu berkenan mengambil atau sekadar memotretnya sebagai koleksi foto di folder usang yang tidak akan kamu lihat dua kali.
Sampai bertemu di kebetulan-kebetulan selanjutnya, sebagai asing atau sekelebat angin yang tidak perlu saling sapa.
Padahal, kakiku cuma dua tapi dituntut buat lari terus-terusan. Mau minta berhenti sebentar tapi gak pernah didengar.
Sama denganmu, aku juga pernah berdiri di tepi pantai dan berpikir untuk membiarkan ombak-ombak memakanku. Raungannya tak pernah berhenti menyumpahi, mengikis sisa-sisa karang keberanian dengan memberi nyaman yang penuh kepalsuan.
Jiwaku hidup pada raga yang tak pernah direngkuh, membuatnya seperti cangkang kosong yang tak utuh. Pecahan rasa takutnya menyayat nadi diam-diam bak mawar merah penuh dendam. Sampai jumpa di ujung rasa sakit dan pilu, terima kasih telah membunuhku.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Barangkali, kita terjaga dalam doa-doa yang berbeda. Kamu memohon untuk awan memudar segera, sedang aku ingin ia menetap lebih lama.
Jalan ini terlalu panjang untuk hanya menemukan satu jawaban, karenanya kurangkai kemungkinan-kemungkinan lain untuk sedikit menenangkan. Aku bertaruh pada bunga-bunga di depan rumah, gugurannya meneriakkan untuk aku segera mengalah. Tidak ada kata pamit yang layak, maka kukirimkan padamu sekotak harapan yang 'kan merebak.
Semoga semesta mendengar permintaanku untuk sungguh-sungguh menjagamu. Semoga setiap sentimeter langkah selalu tau arah.
Ternyata, aku sudah berjalan terlalu jauh, sampai kedua kakiku melepuh dan tubuhku penuh peluh. Kuhampiri manusia yang melihatku dengan tatapan menyelidik, kutanya apa salahku yang membuat sikapnya tak kunjung membaik. Seolah aku adalah gonggongan tengah malam, atau penjahat yang harus dikuliti dengan dendam.
Sesaknya semakin parah, di kepalaku berputar pertanyaan—apa aku sudah kalah—berkali-kali, tak berhenti. Pintu-pintu terbuka yang kukira menawarkan tempat aman ternyata tetap menjadi sasaran dari seluruh amarah, dari segala sumpah serapah.
Melalui telepon kaleng kubisikkan sebuah pinta, berharap di seberang sana ada yang menempelkannya di telinga. Tolong beri aku botol kaca, air dingin, dan setangkai bunga lili, supaya kamarku tidak terlalu kosong saat aku pergi. Semesta dan seisinya harus bahagia, tidak perlu meneteskan air mata dan pura-pura menderita. Aku tidak mati, tapi jalanku bukan lagi di sini.
Sebentar lagi, jalanannya akan berbeda. Tidak lagi ada lembar peta yang menempel di setiap batang pohon besar tempatmu berteduh, juga orang-orang yang menuntunmu saat kamu butuh. Sekarang, kamu harus menyusun sendiri lika-liku yang akan kamu lewati, apakah harus ke kanan atau kiri. Katanya, buka pesan-pesan singkat yang kamu terima jika tidak tau harus ke arah mana, untukmu di sana tersimpan serpihan-serpihan rasa percaya. Bahwa kamu akan mampu melewatinya, bahwa terjalnya sudah menjadi hal yang biasa. Sampai nanti saat kamu tiba di tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, yang mampu merengkuh tubuh kecilmu tanpa membuatmu terluka. Banyak-banyak bahagia, ya!
Pikirannya berkecamuk menyalahkan diri sebab salah satu mimpinya tertunda. Katanya, yang ia usahakan mati-matian malah mengkhianatinya secara perlahan. Ia tau ia sakit, tapi ia tidak tahu cara meminta tolong. Kepada setiap manusia yang menanyainya, ia hanya mampu bercerita bohong. Di kepalanya berputar kata-kata yang ia rangkai menjadi pisau, mencabik jiwanya berkali-kali bak harimau. Antah berantah dunianya membuat harapannya melebur di tengah jalan. Ia berharap ada seseorang datang dan menyelamatkan. Tangisannya menggema di sepanjang cerita, katanya; beri tahu aku satu alasan untuk terus bertahan, sebab segalanya terasa sangat menyakitkan.
Mungkin, tembok kamar bosan mendengar tangisan-tangisanmu, ia merindukan senyum-sebelum-tidurmu. Kamu selalu percaya bahwa yang bisa memeluk hanya tangan mungilmu, tanpa melihat tangan-tangan lain yang menawarkan untuk menenangkanmu. Katamu, menceritakan sakitmu hanya akan menularkannya pada sang pendengar, sedang jiwamu meraung-raung penuh memar. Ketakutanmu menjadi sangkar yang menyembunyikan pedih tak terhingga, menjadikanmu bulanan gonggongan diagnosa. Jutaan suara berteriak di kepalamu, menyuruhmu mengambil pisau di dapur dan memotong nadimu. Suaramu menghilang, berganti senyum menyeramkan seakan-akan ingin menerkam. Sosok kecil yang hidup di tubuhmu menangis, memohon padamu untuk tetap hidup meski keberanianmu mulai terkikis. Air matamu mengering, matamu mencari-cari alasan untuk bertahan di detik jarum jam yang berdenting. Satu-satunya yang menghampiri telinga hanya bisikan, menyampaikan sebaris pesan dari kucing yang kamu selamatkan di pinggir jalan; suatu hari nanti, semoga kamu tidak lagi memendam sendiri luka-luka yang membuatmu berpikir bahwa satu-satunya jalan terbaik adalah mengakhiri.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
ketakutan terbesarnya adalah diri sendiri.
katanya, terjal dunia adalah jalanan wajar yang dilewati setiap orang. tapi tidak untuknya, yang seluruh jalannya berbentuk lubang dalam dan tebing menjulang. setiap tidur, ia meminta untuk jangan dibangunkan. sebab harapannya, hidup ini hanyalah mimpi yang akan berakhir saat matanya terpejam.
bapak ibunya menitipkan ribuan peran yang berubah menjadi beban. bahwa dia harus sampai puncak yang bahkan jalurnya tidak pernah terbayang di benak. batu-batu menumpuk di kamar, terukir pertanyaan-pertanyaan yang sering kali membuatnya memar. sebab katanya, menulisnya di kertas hanya akan terhapus oleh tetes air mata dan berbekas.
bagaimana jika aku gagal? bagaimana jika garis akhirnya tidak kutemukan?
"Besok sore langitnya warna apa, ya?"
"Kamu tanya ke orang yang salah, I. Aku buta warna."
"Tapi kamu selalu tahu jawabannya, Awan. Kamu tahu segalanya."
"Ada jawaban yang tidak aku tahu, I."
"Soal apa?"
"Tentang aku dan kamu."
"..."
"..."
Aku dan kamu, adalah dua manusia yang sama-sama tidak memahami isyarat Tuhan tentang luka, lara, dan penawarnya. Kamu menemukanku di jurang terdalam. Katamu, aku adalah satu keajaiban yang harus diselamatkan. Kamu pangeran, sedang aku hanya bayi yang lahir dari riuh redam antah berantah di tengah lautan. Selamanya, hal-hal baik akan selalu menujumu sebagai tempat pulang, sedang aku merangkak berdarah-darah penuh sayatan.