A: Menurutmu, apakah cinta bisa selalu memenangkan sebuah takdir?
A: Kenapa? Bagaimana jika keduanya saling mencintai, bukankah lebih kuat?
B: (tersenyum) kamu mau mendengar ceritaku?
B: Dulu, aku pernah percaya bahwa gak ada cinta yang gak bisa bersatu. Jika sudah cinta ya perjuangkan saja sampai bersatu, apalagi kalau keduanya saling mencintai maka takdir bukanlah penghalang terbesar, kalau kalah ya berarti niatnya yang kurang.
A: Lalu, kenapa tiba-tiba kamu tak lagi berdiri di argument yang sama?
B: Delapan bulan lalu, aku berkenalan dengan pria yang murah senyum dan baik sekali hatinya. Menurutku, dia sosok yang asik dan bisa diterima oleh semua orang untuk menjadi kawan. Pria berkacamata yang menarik itu aku kenal di sebuah coffeeshop sebagai barista dan customer. Seiring berjalannya waktu, kita menjadi sering ngobrol hingga aku jatuh cinta padanya dan aku pun mengetahui bahwa ia juga sama.
A: LALU, APAKAH KALIAN BERHASIL?
B: hmmm, sayangnya tidak. Kita punya cinta namun tidak meyakini satu Tuhan yang sama, tak ada yang bisa mengalah perihal hal ini. Saat itulah aku sadar bahwa kita tak kekurangan cinta atau bahkan niat tapi menjadikan cinta sebagai tameng untuk melawan takdir yang seperti ini bukankah terlalu egois? Bukan lagi perihal siapa yang mengalah, tapi apakah kamu rela melihat salah satu dari kalian meninggalkan Tuhan yang ia yakini selama hidupnya untuk bersamamu?
Bukan cintanya yang kurang tapi cinta tak sanggup untuk melawan sebuah takdir yang didalamnya menyajikan jalan yang berbeda bagi kita berdua. Sebenar-benarnya kita adalah tak pernah berada di jalur yang sama untuk kedepannya. Jalannya tak buntu tapi terbuka lebar namun siap melukai kita berdua. Jika nekat dengan berlindung pada cinta, kita mungkin bisa dan terus bersama. Namun, bagaimana caranya kamu mencintai seseorang tapi tega melihatnya terluka dan dihajar habis-habisan?
Kita terlalu berbeda untuk menjadi satu.
Saat itu aku selalu bertanya kepada Tuhan “jika tak menjadi takdirku lalu mengapa pertemuan itu selalu berpihak kepada kita? Mengapa menjadikan keadaan seolah-olah berpihak pada cinta kita? Pertanyaan yang sama selalu ku ulangi setiap hari hingga aku sadar bahwa semua pertemuan kemarin adalah jawaban bahwa bukan dia orangnya.
Di bumi ini, cinta selalu hadir dengan berbagai macam bentuknya. Dan bagi manusia, bentuk cinta yang common adalah cinta yang mempersatukan. Sekarang, aku tahu bahwa cinta tak hanya hadir dalam bentuk demikian tapi bisa hadir dalam bentuk keikhlasan hati untuk memberikan kesempatan kepada orang yang dicintai memilih dan menjalani hidup dengan lebih baik meskipun tak ada kita di sana. Bukan karena kita tak ingin menjadi lebih baik bersama hanya saja masa depan yang menunggu tak pernah menuliskan nama satu sama lain.
Jika terlalu memaksa maka bahagia mungkin terlalu angan-angan bagi kita. Jika cinta yang kita miliki terlalu menyakitkan bagi satu sama lain, membuka jalan ketika ada pilihan yang lebih baik harus dilakukan sebagai bentuk cinta. Kita sama-sama ingin bersama, namun kita memilih untuk mengalah pada cinta yang kita punya satu sama lain dan kembali kepada cinta yang sesungguhnya (Tuhan), sebab kita tahu bahwa tak baik jika mengkhianati PENCIPTA hanya demi cinta untuk KARYA TERBAIKNYA. Tak adil dan tidak setara.
Maka, kita sepakat untuk berpamitan dan pergi ke arah yang terbaik versi masing-masing meskipun arahnya tak sama dan tak akan saling menemukan satu sama lain, meskipun ini menjadi pertemuan terakhir kalinya.
Akhirnya aku tahu bahwa cintaku kali ini bukan untuk bersatu namun untuk berlapang dada, melepaskan genggaman erat, melepaskan pelukanku padanya lewat doa yang selalu ku panjatkan kepada Tuhan ku agar kita punya waktu sedikit lebih lama, dan membiarkan ia tumbuh dengan versi lebih indah, meskipun aku tak pernah bisa berada di sana. Aku melakukannya sebagai bentuk cinta untuknya.
Aku tahu ini tak akan lagi melukai dan bisa menyelamatkan kita berdua.
by Fritsa