With You
“Life is short. Make it shorter!” Teriaknya sambil tertawa di samping telingaku.
Aku bergetar. Berusaha menyusun prioritas antara menenangkan jantungku atau mencari cara mencubit pinggangnya.
“Ayolah.” Sahutnya lagi. “Kepalang tanggung. Hanya tinggal satu lompatan saja.”
HANYA KATANYA?!
Aku meramas-remas jemariku. Mengais-ngais keberanian yang barangkali terselip di sana. Angin semakin bergemuruh mengacaukan rambutku, mengaburkan pandanganku.
“Hey.” teriaknya lagi. “What’s the worst thing that could possibly happen, sih?”
“Die? I guess?!” jawabku sewot.
Dia tersenyum jahil. “At least you’d die with me.”
“Till death do us part, as they say.” Ia mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
Sungguh masih sempat-sempatnya!
Aku memejamkan mata sambil mengatupkan rahang kuat-kuat. Merutuki rasa penasaranku yang melampaui batas dan kebiasaannya yang tak pernah ragu berkata ayo setiap kali aku berkata ingin.
Sebenarnya, dari lama aku ingin melakukan hal gila ini. Orang-orang tampak bahagia ketika melakukannya, membuatku ingin mencicipi bagaimana rasanya.
Tetapi banyak what ifs di kepala.
Bagaimana jika kasusku berbeda?
Bisa saja tiba-tiba semesta menjadikanku outlier. Pengecualian. Anomali. Sebagai contoh yang akan terpampang di headline news koran pagi dengan judul besar bertuliskan, “Alasan-Alasan Mengapa Anda Tidak Harus Melakukannya.”
“Kayaknya...” aku berkata lirih. “kita pulang aja deh.” tambahku nyaris terisak.
“Maaf ya,”
“aku ga bisa.”
Dia menghembuskan nafas pelan. Menarik pinggangku lembut ke belakang.
“Secara common sense,” dia memutarkan tubuhku menghadapnya. “Konsekuensi pasti melakukan ini adalah jatuh. Dan jatuh pasti ke bawah, kecuali ada hukum lain yang bisa mematahkan hukum gravitasi Newton.”
“Jadi,” Tatapan matanya semakin intens padaku. “kenapa takut sama sesuatu yang sudah pasti, hm?”
“Justru itu..” aku mengigit bibirku, mencari argumen kuat untuk mematahkan kalimatnya.
“Justru itu,” tambahnya pelan. “karena sudah pasti, kita bisa mencari cara bagaimana kita ingin terjatuh.”
Aku terdiam.
Menimbang berbagai kemungkinan.
Terutama alasan mengapa aku ingin melakukan ini.
Bersama dia.
“I don't need you to be fearless.” Suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Fear is needed.”
Ia tersenyum kecil.
“I just need you to have courage.”
Ia membalikkan tubuhku kembali menghadap jurang.
“Aku nggak bisa menjanjikan ini akan menjadi pengalaman paling membahagiakan dalam hidup kamu.”
Tangannya mengusap bahuku perlahan.
“But I can assure you one thing.”
Ia berhenti sejenak.
“You will be safe with me.”
Aku menghela napas panjang.
“So...”
“do you wanna take a chance?”
Aku diam.
Masih menimbang.
Lalu dia tersenyum.
Kali ini tanpa jahil.
Tanpa mengejek.
Hanya menungguku.
“With me.”
Aku teringat kutipan Brianna Wiest dalam bukunya bahwa, “Your mountain is the block between you and the life you want to live. Facing it is also the only path to your freedom and becoming.”
Perhaps the mountain isn't the one we're standing on. Perhaps the mountain is me.
Tetapi bersama dia,
bersama dia aku bisa menjadi lapangan terbuka. Tanpa pagar berkawat yang dijejeri mawar berduri.
Aku mengangguk mantap.
“Iya, aku mau.”
“Mau apa?” tanyanya menggoda.
“Seriously?” aku memutar bola mata sebal.
“Kamu kan banyak maunya. Coba yang konkret dong.”
Aku mendengus kesal.
“Iya aku mau,”
“...sama kamu.”
Tanpa aku harus memutar tubuh melihat wajahnya, aku tahu betul dia sedang tersenyum penuh kemenangan. “Nah gitu dong.”
Dia mulai mengambil ancang-ancang. Memastikan tali kami sudah terpasang.
“Kalau nanti kamu takut, teriak. Kalau senang, ketawa. Kalau menyesalkan keputusan, menangis. Lakukan apapun. Aku di sini sama kamu, ya?”
Aku menganggukkan kepala tanda mengiyakan.
Gawat!
Dia sudah menarik tubuh kami berjalan mundur. Bersiap mengambil lompatan yang selama ini aku takutkan.
Tidak ada jalan memutar.
“Ready?”
Duh kenapa harus ada acara tanya-tanya lagi sih!
“3...”
“2...”
“1...”
“BUNGEE!”
Sontak pijakan di bawah kakiku lenyap.
Tubuhku meluncur bebas, seolah gravitasi baru saja menagih janjinya.
Ternyata selama ini aku benar!
Momen paling menakutkan memang selalu datang tepat sebelum kaki meninggalkan pijakan.
Sesudahnya...
Tidak ada lagi ruang untuk berpikir.
Tidak ada lagi what ifs.
Aku tidak punya pilihan selain mengalami.
Angin berlomba menghantam wajahku. Jantungku serasa tertinggal di atas, menyaksikan tubuhku meluncur semakin jauh dari tempat kami berdiri.
Aku menjerit.
Kencang.
Sekencang-kencangnya.
Entah karena takut.
Entah karena lega.
Mungkin keduanya.
“GIMANAA?” teriaknya di tengah hempasan angin.
Aku mencoba membuka mata.
Untuk pertama kalinya sejak berada di atas sana, aku benar-benar melihat.
Gunung.
Langit.
Sungai.
Semuanya begitu kecil sekaligus begitu luas.
Dan anehnya...
Aku tidak merasa sedang jatuh.
Aku merasa sedang dilepaskan.
Selama ini aku pikir gunung itu adalah tebing yang berdiri di hadapanku.
Ternyata bukan.
Perhaps the mountain isn't the one we were standing on. Perhaps the mountain was me. It had been me all along—too tall, painted blue.
Aku tertawa.
Keras, sampai menitikan air mata.
“NAH GITU DONG!” teriaknya sambil ikut tertawa.
Aku menoleh.
Dia masih menggenggam tanganku.
Seerat tadi.
Seolah sejak awal memang tidak pernah berniat melepaskannya.
Tiba-tiba aku mengerti.
Yang membuatku berani bukanlah karena aku akhirnya tidak takut.
Aku masih takut.
Yang berubah hanyalah...
Aku tidak lagi menghadapi rasa takut itu sendirian.
Mungkin benar.
Hidup memang bukan tentang menghindari kejatuhan.
Karena cepat atau lambat, gravitasi akan selalu menang.
Yang bisa kita pilih hanyalah...
Bagaimana atau dengan siapa kita ingin jatuh.
Dan pada hari itu,
aku memilih...
with you…
















