Bertemu dengan Perpisahan
Ini adalah tulisan ketigaku tentang perpisahan. Dilatarbelakangi oleh aku yang belakangan menyadari, bahwa perantauan adalah perantauan. Suatu hari, seorang perantau akan menemukan waktu dan jalan untuk pulang.
Pada hari-hari pertama aku pindah ke Busan, aku berkenalan dengan Nabila. Perkenalan kami cukup unik. Salah satu kalimat yang keluar darinya ketika kita pertama kali bertatap muka adalah, "Kok kayaknya kita pernah ketemu ya?". Sekejap aku cukup bingung dan kaget, tapi sedikit senang dan tenang, karena sepertinya ada seseorang yang beririsan dengan kehidupanku di Jogja. Lucu sekali, berjarak ribuan kilometer dari rumah, tapi kemudian bertemu dengan orang yang berucap demikian.
Usut punya usut, setelah kami mengobrol dan mencoba mencari benang merah, ternyata benar. Kita sudah pernah berpapasan dan berada di satu forum yang sama. Tapi aku tidak mengingat wajah Nabila. Senang sekali ternyata dia mengingat wajahku, dan kemudian ditemukan fakta bahwa kami adalah tetangga kelurahan. Masyaallah dunia sempit sekali.
Beberapa hari kemudian, Nabila mengajakku untuk makan malam bersama di rumahnya. Sebuah undangan yang hangat sekali, untukku yang baru mencoba mencerna lingkungan baru. Tentu saja kusambut dengan suka cita undangan itu. Pada waktu yang telah ditentukan, aku datang ke rumahnya. Ada dua orang lain yang juga datang, mba Anis dan mba Shafira. Kami makan berempat ditemani cengkerama hangat, sesekali tawa, dan cerita-cerita yang entah waktu itu belum bisa kucerna. Tiga orang teman baru ini membicarakan tentang teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi dan pamit dari Korea, karena urusan dan kepentingannya di sini sudah selesai. Entah karena kontrak kerjanya sudah selesai, atau studinya sudah tuntas, atau sudah diminta kembali pulang ke kantor lamanya di Indonesia.
Waktu itu, rasanya aku aneh sekali mendengar cerita-cerita itu. Bagaimana tidak, aku yang belum sebulan tinggal di sana, masih mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mencari teman, lalu bertemu dengan cerita-cerita tentang perpisahan. Bayangkan, aku yang baru datang, bertemu dengan cerita tentang berpamitan. Cerita-cerita mereka sangat menarik, tapi aku tidak bisa relate. Atau setidaknya, belum.
Seiring bergantinya hari, tanggal, dan bulan, hingga kini sudah menginjak bulan kelima aku tinggal di Busan. Selama waktu-waktu itu, sesekali aku temui (lagi) cerita-cerita tentang perpisahan. Tentang beberapa orang yang sudah hampir mendekati keharusan untuk pulang ke Indonesia, beberapa lingkaran yang membicarakan temannya pulang tanggal berapa, dan cerita-cerita serupa. Sampai tiba waktunya, aku bisa sedikit relate dengan bagaimana rasanya teman-teman yang berpamitan dengan mereka yang akan pulang.
Beberapa waktu yang lalu, aku dan beberapa teman pergi ke Changwon, silaturahmi ke rumah Mba Nurul, yang sebentar lagi akan pulang ke Indonesia. Lingkaran ini biasanya ketemu online aja, tapi kemudian menjadwalkan untuk bertemu in real life di Changwon, karena dua orang dari kami akan pulang ke Indonesia, Mba Nurul dan Teh Mayang. Perpisahan adalah hal yang sulit buat aku, bahkan ada waktu-waktu dimana aku merasa membutuhkan energi yang besar sekali untuk bisa bertemu dengan perpisahan. Aku pernah menuliskannya di sini. Pernah juga kubagikan sedikit emosiku di sini, waktu itu adalah beberapa hari menuju kepulangan sahabatku ke kampung halamannya.
Di rumah mba Nurul kemarin, aku merasakan bagaimana emosi teman-teman diaduk-aduk. Ikatan kebersamaan yang sudah dijalin bertahun-tahun, pada akhirnya menemukan muara perpisahannya. Tentu saja, hanya perpisahan fisik. Karena harapannya, komunikasi dan doa tidak pernah benar-benar berpisah. Tapi tetap saja, perpisahan fisik berarti besar buat sebagian orang, karena akan membawa perubahan pada banyak hal.
Wah, orang-orang di perantauan keren sekali, ya. Pada waktu-waktu tertentu, orang-orang ini akan bertemu dengan perpisahan. Saat-saat dimana sahabat dan rekan yang sudah bersama sekian lama menjalin cerita kehidupan, pada akhirnya harus berpamitan. Namun pada waktu-waktu lainnya, orang-orang ini akan bertemu dengan perjumpaan baru. Saat-saat dimana perantau-perantau baru berdatangan, dan menjadi warna baru di buku cerita kehidupan mereka.
Pada periode waktu yang berbeda, perantau-perantau ini bertemu dengan perjumpaan dan perpisahan. Dua hal yang saling bergantian berdatangan.
Memang ya, begitulah kehidupan. Benar-benar dunia hanya tempat mampir sementara.










