Perjalanan menuju Vienna kali ini memakan waktu hampir 11 jam. Dari Jakarta transit di Turki, lalu melanjutkan penerbangan ke Austria.
Entah kenapa, perjalanan panjang seperti ini selalu memberi ruang untuk berpikir. Mungkin karena di atas awan tidak ada distraksi, jadi pikiran bebas ke mana-mana.
Beberapa minggu terakhir saya dan istri sering berdiskusi tentang satu pertanyaan sederhana:
Setelah menyelesaikan program doktoral, ternyata muncul perasaan yang cukup aneh. Selama bertahun-tahun hidup terasa sangat terarah: kuliah, riset, publikasi, ujian, disertasi. Lalu tiba-tiba semuanya selesai. Target yang selama ini dikejar hilang begitu saja.
Di pesawat kemarin, kebetulan saya duduk di sebelah seseorang yang bekerja di Norwegia di bidang oil and gas. Kami mengobrol panjang tentang bekerja di luar negeri, karier, dan kehidupan. Sampai akhirnya ia bertanya,
“Kenapa tidak lanjut postdoc di luar negeri?”
Pertanyaan yang sebenarnya cukup sering saya dengar.
Saat mengambil master di Korea, saya pernah meninggalkan istri dan anak selama hampir dua tahun. Kemudian perjalanan doktoral juga kembali menyita banyak waktu, tenaga, dan perhatian.
Kalau hari ini saya bisa sampai di titik ini, salah satu alasannya adalah karena ada seseorang yang rela memberi ruang bagi saya untuk mengejar mimpi. Dan orang itu adalah istri saya.
Karena itu, untuk fase hidup berikutnya, saya ingin kami bertumbuh bersama. Bukan berarti saya berhenti bermimpi atau berhenti berkembang. Hanya saja definisi sukses saya sekarang sedikit berbeda dibandingkan saat masih lajang.
Dulu mungkin saya akan langsung mengambil kesempatan tanpa banyak berpikir. Sekarang saya belajar bahwa setiap keputusan juga berdampak pada keluarga. Karier bisa terus dibangun. Gelar bisa dicari. Proyek bisa datang silih berganti. Tetapi masa kecil anak-anak hanya terjadi satu kali. Tahu-tahu mereka sudah masuk sekolah dasar. Tahu-tahu mereka sudah remaja. Dan waktu yang terlewat tidak bisa diputar ulang.
Mungkin bagi sebagian orang, pilihan terbaik adalah terus mengejar kesempatan ke berbagai negara. Dan itu tidak salah. Tapi untuk saya, saat ini, pulang ke rumah dan melihat keluarga bertumbuh bersama terasa sama berharganya dengan pencapaian akademik apa pun.
Semoga Allah memampukan saya menjadi suami yang baik, ayah yang hadir, dan tetap bermanfaat melalui pekerjaan yang saya lakukan.
Karena pada akhirnya, perjalanan terpanjang dalam hidup bukanlah Jakarta–Vienna. Melainkan perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi orang-orang yang kita cintai.